Monday, 8 May 2023

KURIKULUM PENDIDIKAN DI INDONESIA

 a.  Konsep Dasar Kurikulum

Saudara  mahasiswa,  bagi  seorang  guru  yang  berkecimpung  dalam  dunia 

pendidikan  istilah  kurikulum  bukanlah  sesuatu  yang  asing  bukan?  Namun 

demikian,  mungkin  diantara  Anda  masih  ada  yang  lupa  atau  bahkan  belum 

memahami  makna  yang  sesungguhnya  dengan  istilah  kurikulum.  Banyak  orang 

yang beranggapan bahwa kurikulum hanya berkaitan dengan daftar mata pelajaran, 

bahan  ajar  atau  buku-buku  pelajaran  yang  harus  dimiliki  oleh  peserta  didik, 

sehingga perubahan kurikulum identic dengan perubahan buku pelajaran. Benarkah

demikian?  Apakah  kurikulum  hanya  berkaitan  dengan  buku  pelajaran?  Apakah 

aktivitas peserta didik dalam mempelajari bahan ajar tidak termasuk kurikulum? 

Persoalan kurikulum bukan hanya persoalan buku ajar atau daftar mata pelajaran 

saja akan tetapi masih banyak persoalan lainnya yang terkait dengan hal tersebut. 

Berikut akan Anda pelajari terkait konsep dasar kurikulum. 

Istilah  kurikulum  digunakan  pertama  kalinya  pada  dunia  olahraga  pada 

zaman Yunani kuno yaitu  curere  yang artinya adalah lintasan, atau jarak yang harus 

ditempuh oleh seorang pelari. Lintasan tersebut terbentang mulai dari start sampai 

dengan  finish.  Istilah  tersebut  digunakan  dalam  bidang  pendidikan  yang  di 

asumsikan sebagai sebagai serangkaian mata pelajaran yang harus dipelajari oleh 

peserta didik mulai dari awal sampai dengan mengakhiri program pendidikan. 

Para ahli pendidikan memiliki penafsiran yang berbeda tentang kurikulum. 

namun  demikian,  dalam  penafsiran  yang  berbeda  itu,  ada  juga  kesamaannya. 

Kesamaaan  tersebut  adalah,  bahwa  kurikulum  berhubungan  erat  dengan  usaha 

mengembangkan  peserta  didik  sesuai  dengan  tujuan  yang  hendak  dicapai.  Dari 

beberapa  konsep,  pada  dasarnya  kurikulum  dianggap  sebagai  mata  pelajaran, 

pengalaman belajar dan sebagai perencanaan program pembelajaran. Ketiga konsep 

tersebut diraukan sebagai berikut : 

141

1)  Kurikulum sebagai daftar mata pelajaran

Saudara mahasiswa, konsep kurikulum sebagai serangkaian daftar mata 

pelajaran  merupakan  konsep  yang  paling  dikenal  oleh  masyarakat  umum. 

Pengertian  kurikulum  sebagai  sejumlah  mata  pelajaran  yang  harus  ditempuh 

oleh peserta didik, merupakan konsep kurikulum yang sampai saat ini mewarnai 

teori-teori dan praktik pendidikan. Contohnya saja, apabila Anda pergi ke suatu 

sekolah kemudian Anda menanyakan tentang kurikulum yang digunakan oleh 

lembaga pendidikan tersebut, maka pimpinan sekolah akan menyodorkan daftar 

berbagai mata pelajaran yang harus ditempuh oleh setiap peserta didik. 

Konsep kurikulum sebagai daftar mata pelajaran biasanya erat kaitannya 

dengan usaha untuk memperoleh ijazah (Saylor;1981). Artinya, apabila peserta 

didik  berhasil  mendapatkan  ijazah  berarti  telah  menguasai  serangkaian  mata 

pelajaran  sesuai  dengan  kurikulum  yang  berlaku.  Dengan  demikian,  dalam 

pandangan ini kurikulum berorientasi kepada isi atau mata pelajaran (content 

oriented). Proses pembelajaran di sekolah yang menggunakan konsep kurikulum 

demikian penguasaan isi merupakan sasaran akhir dari proses pendidikan. 

Kurikulum  sebagai  mata  pelajaran  yang  harus  dikuasai  peserta  didik, 

dalam proses perencanaannya harus memiliki beberapa ketentuan. Perencanaan 

kurikulum  biasanya  menggunakan  judgment  ahli  bidang  studi  dengan 

mempertimbangkan factor social dan factor pendidikan. Dalam menentukan dan 

menyeleksi kurikulum perlu memperhitungkan tingkat kesulitan, minat peserta 

didik dan urutan bahan. Perencanaan dan implementasi kurikulum ditekankan 

kepada  penggunaan  metode  dan  strategi  pembelajaran  yang  memungkinkan 

peserta  didik  menguasai  materi  pembelajaran.  Pandangan  yang  menganggap 

kurikulum  sebagai  mata  pelajaran  merupakan  pandangan  yang  dianggap 

tradisional,  walaupun  sebenarnya  pandangan  ini  masih  banyak  dianut  dan 

mewarnai kurikulum yang berlaku di Indonesia.

2)  Kurikulum sebagai pengalaman belajar siswa

Saudara mahasiswa, seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan 

teknologi dan munculnya berbagai macam kebutuhan dan tuntutan kehidupan 

142

mengakibatkan beban sekolah semakin berat dan komplek. Sekolah tidak saja 

dituntut untuk membekali berbagai macam ilmu pengetahuan yang sangat cepat 

berkembang, akan tetapi juga dituntut untuk dapat mengembangkan minat dan 

bakat, pembentukan karakter bahkan dituntut agar peserta didik dapat menguasai 

berbagai  macam  keterampilan  yang  dibutuhkan  di  era  yang  akan  datang. 

Tuntutan baru tersebut mengakibatkan pergeseran terhadap makna kurikulum. 

kurikulum  tidak  lagi  dianggap  sebagai  mata  pelajaran  akan  tetapi  dianggap 

sebagai pengelaman belajar peserta didik. Kurikulum adalah seluruh kegiatan 

yang dilakukan siswa baik di dalam maupun di luar sekolah dimana kegiatan 

tersebut berada dalam tanggung jawab sekolah. Kegiatan yang dimaksud tidak 

hanya  kegiatan  intra  ataupun  ekstra  kurikuler  tetapi  juga  mencakup  kegiatan 

peserta  didik  yang  dilakukan  di  bawah  tanggung  jawab  dan  bimbingan  guru. 

Misalnya  penugasan  proyek  Sains  yang  dikerjakan  di  rumah,  penugasan 

wawancara  dan  observasi,  kunjungan  museum  dan  kebun  binatang  itu 

merupakan bagian dari kurikulum dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.

Pergeseran  pemaknaan  kurikulum  dari  sejumlah  mata  pelajaran  kepada 

pengalaman, selain disebabkan meluasnya fungsi dan tanggung jawab sekolah 

juga dipengaruhi oleh penemuan-penemuan dan pandangan baru dalam bidang 

psikologi belajar. Pandangan baru tersebut menganggap bahwa belajar bukan 

hanya  mengumpulkan  sejumlah  pengetahuan,  akan  tetapi  proses  perubahan 

tingkah  laku.  Peserta  didik  dianggap  telah  belajar  manakala  telah  memiliki 

perubahan perilaku. Tentu saja perubahan perilaku akan terjadi manakala siswa 

memiliki pengalaman belajar. Oleh sebab itu dalam proses belajar pengalaman 

dianggap lebih penting dari pada menumpuk sejumlah pengetahuan. 

3)  Kurikulum sebagai rencana atau program belajar

Saudara  mahasiswa,  konsep  kurikulum  sebagai  suatu  program  atau 

rencana pembelajaran nampaknya diikuti oleh para ahli kurikulum dewasa ini 

termasuk di Indonesia. Para ahli  menyatakan bahwa kurikulum pada dasarnya 

adalah  suatu  perencanaan  atau  program  pengalaman  siswa  yang  diarahkan 

sekolah. 

143

Sebagai  suatu  rencana,  kurikulum  bukan  hanya  berisi  tentang  program 

kegiatan akan tetapi juga berisi tentang tujuan yang harus ditempuh beserta alat 

evaluasi untuk menentukan keberhasilan pencapaian tujuan. Kurikulum sebagai 

suatu rencana nampaknya sejalan dengan dengan rumusan kurikulum menurut 

Undang-undang  pendidikan  Indonesia  yang  dijadikan  sebagai  acuan  dalam 

penyelenggaraan sistem pendidikan. Menurut Undang-undang Nomor 20 tahun 

2003  tentang  sistem  pendidikan  nasional  dikatakan  bahwa  kurikulum  adalah 

seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara 

yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan  belajar mengajar. 

Isi dan bahan pelajaran yang dimaksud adalah susunan dan bahan kajian untuk 

mencapai tujuan penyelenggaraan satuan pendidikan yang bersangkutan dalam 

rangka pencapaian tujuan pendidikan nasional.

Batasan  menurut  undang-undang  Nampak  jelas,  bahwa  kurikulum 

memiliki dua aspek pertama sebagai rencana (as a plan) yang harus dijadikan 

sebagai  pedoman  dalam  pelaksanaan  dan  kedua  digunakan  sebagai  upaya 

pencapaian tujuan pendidikan nasional.

Untuk  menutup  kajian  terkait  konsep  dasar  kurikulum,  dapat  disimpulkan 

bahwa sekolah didirikan untuk membimbing peserta didik agar berkembang sesuai 

dengan tujuan yang diharapkan. Artinya titik sentral kurikulum adalah peserta didik 

itu sendiri. Perkembangan peserta didik hanya akan tercapai apabila memperoleh 

pengalaman  belajar  melalui  semua  kegiatan  yang  disajikan  oleh  sekolah  baik 

melalui mata pelajaran ataupun kegiatan lainnya. Oleh karena itu kurikulum sebagai 

suatu rencana rencana pembelajaran harus bermuara pada perolehan pengalaman 

peserta  didik  yang  sengaja  dirancang  untuk  mereka  miliki.  Dengan  demikian 

kurikulum  harus  mencakup  dua  sisi  yang  sama  penting,  yaitu  perencanaan 

pembelajaran  serta  bagaimana  perencanaan  itu  diimplementasikan  menjadi 

pengalaman belajar siswa dalam rangka pencapaian tujuan yang  diharapkan.  Untuk 

memperlajari lebih lanjut tentang konsep dasar kurikulum, anda dapat mengakses 

melalui link berikut: http://bit.ly/33DxOc5  

144

b.  Pembaharuan kurikulum di Indonesia

Merujuk pada tujuan pendidikan nasional menurut UU No 20 tahun 2003, 

yaitu membangun manusia Indonesia yang bertakwa kepada Tuhan YME, berahlak 

mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, demokratis dan bertanggung jawab, 

maka tujuan tersebut dapat dicapai melalui peran pengembangan dan implementasi 

kurikulum di tingkat satuan pendidikan mulai dari tingkat TK, SD dan SMP hingga 

tingkat  menengah  SMA  dan  SMK.  Oleh  karena  itu  pengembangan  dan 

implementasi kurikulum haruslah dilaksanakan secara konsisten dan efektif. 

Sebagai salah satu komponen penting dalam system pendidikan, kurikulum 

tidak hanya dirumuskan sebagai tujuan yang hendak dicapai sehingga memperjelas 

arah  pendidikan,  akan  tetapi  juga  memberikan  pemahaman  tentang  pengalaman 

belajar yang harus dimiliki oleh peserta didik. Oleh karena itu sudah semestinya 

dalam  perjalanan  suatu  kurikulum  perlu  untuk  terus  ditelaah  dan  disesuaikan 

dengan kebutuhan dan perkembangan zaman. Agar dapat menangkap ide dari suatu 

kurikulum,  kita  perlu  mengetahui  perjalanan  kurikulum  apa  saja  yang  pernah 

diterapkan  di  negara  kita.  Karena  pengetahuan  ini  sangat  membantu  kita  untuk 

memahami  esensi  dari  suatu  perubahan  kurikulum  yang  pernah  diterapkan  di 

negara kita Indonesia.

Perkembangan  kurikulum  yang  terjadi  di  Indonesia  setelah  Indonesia 

merdeka pada tahun 1945, setidaknya kita telah mengalami sepuluh kali perubahan 

kurikulum.  Mulai  dari  kurikulum  1947,  1952,  1964,  1968,  1975,  1984,  1994, 

kurikulum berbasis kompetensi 2004, KTSP 2006 dan kurikulum 2013. Indonesia 

telah banyak belajar dari kurikulum-kurikulum tersebut. Dari kesepuluh kurikulum 

tersebut jika dilihat dari jenisnya terbagi menjadi 3 yaitu : 1) kurikulum sebagai 

rencana pelajaran (kurikulum 1947  –  1968), 2) kurikulum berbasis pada pencapaian 

tujuan (kurikulum 1975 – 1994) dan 3) kurikulum berbasis kompetensi (kurikulum 

2004 – 2013). Berikut ini akan disajikan secara singkat pembaharuan kurikulum di 

Indonesia yang akan disajikan dalam tabel berikut :

145

Tabel 2. Pembaharuan Kurikulum di Indonesia

Tahun  Dasar Pembaharuan  Pembaharuan  Implikasi 

Pembaharuan 

dalam 

Pembelajaran

1947  Dikenal  dengan  istilah 

Rencana Pelajaran 1947.

Kemerdekaan Indonesia 

menjadi dasar 

pembaharuan sehingga 

ingin menumbuhkan 

semangat kebangsaan 

masyarakat Indonesia 

dan membentuk karakter 

masyarakat yang 

merdeka.

Aspek yang 

ditekankan :

Kesadaran bernegara 

dan bermasyarakat.

Perhatian terhadap 

kesenian dan 

pendidikan jasmani.

Mengurangi sisi 

kognitif dari peserta 

didik, namun materi 

pelajaran 

dihubungkan dengan 

kon teks kehidupan 

sehari-hari 

masyarakat Indonesia 

saat itu.

1952  Dikenal  dengan  istilah 

Rencana  Pelajaran 

Terurai  1952.  Dasar 

pembaharuan  masih 

terkait  semangat 

kemerdekaan  bangsa 

Indonesia  ditambah 

kebutuhan  masyarakat 

atas lapangan pekerjaan.

Mata pelajaran yang 

diajarkan pada 

Rencana Pelajaran 

Terurai mencakup halhal moral, kecerdasan, 

emosional, 

keterampilan dan 

jasmani.

Guru mengajar satu 

mata pelajaran.

Selain sekolah rakyat 

6 tahun, juga dibuka 

kelas masyarakat 

yang yang tidak 

melanjutkan ke 

tingkat SMP. Kelas 

masyarakat 

mencakup pelajaranpelajaran 

keterampilan seperti 

pertanian dan 

pertukangan.

1964  Kebutuhan masyarakat 

untuk menciptakan 

lulusan yang mampu 

menyelesaikan masalah 

dan kreatif. 

Dari sisi akademik, 

kurikulum ini 

menerapkan subject 

centered curriculum

dimana setiap mata 

pelajaran berdiri 

sendiri.

Dikenal istilah 

Pancawardhana

karena kurikulum 

mencakup lima aspek 

kehidupan yaitu 

moral, kecerdasan 

emosional, 

keterampilan dan 

jasmani.

Selain penekanan 

pada bidang 

akademik, dikenal 

juga Hari Krida pada 

hari sabtu. 

Merupakan hari 

dimana peserta didik 

dapat 

mengembangkan 

potensi sesuaidengan 

minatnya seperti 

bidang kebudayaan 

dan olahraga. 

146

1968  Untuk membentuk 

manusia Pancasila sehat 

jasmani, memiliki 

kecerdasan dan 

keyakinan beragama.

Menekankan pada 

organisasi materi 

pelajaran menjadi 

kelompok pembinaan 

Pancasila, 

pengetahuan dasar dan 

kecakapan khusus.

Adanya penerapan 

correlated curriculum 

dimana ada 

keterhubungan ilmu 

antar satu jenjang 

dengan jenjang 

lainnya. Maka ilmu 

pengetahuan 

diajarkan lebih 

bersifat teoritis 

daripada praktis.

1975  Lulusan pendidikan 

dituntut untuk 

memenuhi kebutiuhankebutuhan masyarakat, 

terutama pada bidang 

ilmu pengetahuan dan 

teknologi.

Proses belajar 

mengajar lebih 

menekankan pada 

efektivitas waktu dan 

metode pembelajaran 

sehingga menvapai 

target pembelajaran.

Peran guru di kleas 

menjadi dominan, 

melakukan latihan 

(drill) sehingga hasil 

pendidikan diukur 

dengan mudah secara 

kuantitatif.

1984  Perkembangan 

teknologi dan kebutuhan 

masyarakat terkait 

IPTEK.

Proses pembelajaran 

yaitu CBSA (cara 

belajar siswa aktif).

Siswa dituntut untuk 

terlibat secara aktif 

baik fisik maupun 

nonfisik.

Pembelajaran 

dikemas dalam 

pendekatan spiral, 

artinya ada 

keterkaitan antar 

materi dari tiap 

jenjang. Semakin 

tinggi jenjang maka 

akan mempelajari 

materi semakin 

mendalam.

1994  Merupakan 

penyempurnaan dari 

kurikulum 1984.

Siswa lebih banyak 

memahami materi dan 

segera dinilai sehingga 

peserta didik mampu 

menerima 

pengetahuan lain. 

Dikenal dengan materi 

yang rumit dan 

banyak. Mulai 

dikenalkan kurikulum 

muatan local.

Pembagian waktu 

dalam satu tahun 

ajaran menjadi catur 

wulan.

2004  Fokus pada pencapaian 

kompetensi yang 

diharapkan sesuai 

dengan jenjang 

pendidikannya.

Mengedepankan 

penguasaan materi 

hasil dan kompetensi 

paradigm versi 

UNESCO learning to 

know, learning to do, 

learning to live 

Metode pembelajaran 

keterampilan proses 

melahirkan 

pembelajaran 

PAKEM dan CTL 

147

together dan learning 

to be.

2006  Sebuah kurikulum 

operasional pendidikan 

yang disusun oleh dan 

dilaksanakan di masingmasing satuan 

pendidikan di Indonesia.

Mengacu pada Standai 

Isi dan Standar 

Kompetensi Lulusan

Belajar sepanjang 

hayat, diarahkan pada 

proses 

pengembangan, 

pembudayaan dan 

pemberdayaan 

peserta didik yg 

berlangsung 

sepanjang hayat.

2013  Tantangan internal yang 

mengacu 8 standar 

pendidikan dan 

tantangan eksternal 

terkait globalisasi dan 

isu-isu muthakir dunia. 

Mengembangkan 

keseimbangan antara 

sikap spiritual, social, 

rasa ingin tahu, 

kreativitas, kerjasama 

dengan kemampuan 

intelektual dan 

psikomotor.

Pembelajaran 

berpusat pada peserta 

didik, interaktif, 

jejaring dan aktif.

Berdasarkan gambaran perjalanan pembaharuan kurikulum yang pernah dan 

sedang diterapkan di Indonesia dapat diketahui bahwa setiap perubahan kurikulum 

pasti  didasari  oleh  dasar  pembaharuan  yang  berangkat  dari  permasalahan  di 

masyarakat.  Perubahan  dimaksudkan  sebagai  inovasi  dalam  pendidikan  untuk 

menghasilkan lulusan yang berkualitas dan mampu bersaing dikehidupan yang akan 

datang.

Saudara  mahasiswa,  kini  kurikulum  yang  diterapkan  di  Indonesia  adalah 

kurikulum  2013  yang  telah  mengalami  beberapa  perbaikan.  Kurikulum  2013 

dilandasi  oleh  pemikiran  bahwa  peserta  didik  diberikan  keterampilan  dan 

pengetahuan yang harus dapat digunakan paling tidak sampai satu atau dua decade 

dari sekarang. Atas dasar pemikiran tersebut maka standar kompetensi lulusan yang 

dikembangkan harus disesuaikan dan dikembangkan untuk kehidupan peserta didik 

sebagai individu anggota masyarakat dan warga negara  yang dapat memberikan 

kontribusi di masa yang akan datang.

Kurikulum  2013  dikembangkan  berdasarkan  ketentuan  yuridis  yang 

mewajibkan  adanya  pengembangan  kurikulum  baru,  landasan  filosofis  dan 

landasan empirik. Dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik 

Indonesia  No  70/2013,  dijelaskan  bahwa  rasionalisai  pengembangan  kurikulum 

148

2013  dikembangkan  berdasarkan  tantangan  internal,tantangan  eksternal, 

penyempurnaan pola pikir dan penguatan tata kelola kurikulum. Kurikulum 2013 

memiliki karakteristik sebagai berikut :

1.  Mengembangkan  keseimbangan  antara  sikap  spiritual,  rasa  ingin 

tahu,  kreativitas  kerjasama  dengan  kemampuan  intelektual 

psikomotor.

2.  Sekolah  merupakan  bagian  dari  masyarakat  yang  memberikan 

pengalaman belajar terencana dimana peserta didik menerapkan apa 

yang  dipelajari  di  sekolah  ke  amsyarakat  dan  memanfaatkan 

masyarakat sebagai sumber belajar.

3.  Mengembangkan  sikap,  pengetahuan  dan  keterampilan  serta 

menerapkan dalam berbagai situasi di sekolah dan amsyarakat.

4.  Memberi  waktu  yang  cukup  leluasa  untuk  mengembangkan 

berbagai sikap, pengetahuan dan keterampilan.

5.  Kompetensi  dinyatakan  dalam  bentuk  komponen  inti  kelas  yang 

dirinci lebih lanjut dalam kompetensi dasar mata pelajaran.

6.  Kompetensi inti kelas menjadi unsur pengorganisasian kompetensi 

dasar  di  mana  semua  kompetensi  dasar  dan  proses  pembelajaran 

dikembangkan untuk mencapai kompetensi yang dinyatakan dalam 

kompetensi inti.

7.  Kompetensi  dasar  dikembangkan  didasarkan  pada  prinsip 

akumulatif,  saling  memperkuat  dan  memperkaya  antar  mata 

pelajaran dan jenjang pendidikan.

c.  Peran, Fungsi, dan Komponen Kurikulum

Saudara  mahasiswa,  setelah  kita  mengetahui  perjalanan  pengembangan 

kurikulum di negara kita Indonesia kini kita akan mengkaji tentang Peran, Fungsi, 

dan  komponen  kurikulum.  Jika  kita  kaitkan  dengan  perjalanan  kurikulum  di 

Indonesia,  coba  kita  renungkan  sesungguhnya  apa  yang  telah  dilalui  dari 

serangkaian  perubahan  kurikulum  tersebut?  Jujur  saja,  dari  perjalanan  panjang 

perubahan kurikulum, masih banyak para guru yang melakukan perubahan hanya 

149

sebatas nama kurikulumnya saja. Karena jika melihat praktik pembelajaran yang 

sesungguhnya  masih  banyak  para  guru  yang  melakukan  praktik-praktik  lama 

dengan  bingkai  kurikulum  baru.  Sebenarnya  mengapa  ini  terjadi?  Perubahan 

kurikulum hanya sebatas nama dan dokumen tetapi belum terjadi sampai kepada 

membumikan ide dari suatu perubahan kurikulum tersebut ke ruang-ruang kelas 

dan ke lingkungan sekolah. Menurut Hamid (1998) kegagalan tersebut disebabkan 

kekeliruan dalam menghayati peran dan fungsi dari sebuah kurikulum. Kita hanya 

terjebak pada pengertian kurikulum sebagai dokumen dan seperangkat rencana saja. 

Sebagai  salah  satu  komponen  penting  dalam  sistem  pendidikan,  paling  tidak 

kurikulum  memiliki  tiga  peran  (Wina  Sanjaya;2008)  yaitu  peran  konservatif, 

peran kreatif dan peran kritis evaluatif.  Mari kita cermati uraian terkait masingmasing peran tersebut :

1)  Peran Konservatif

Peran konservatif menekankan bahwa kurikulum dijadikan sebagai sarana 

untuk  mentransmisikan  nilai-nilai  budaya  masa  alalu  yang  dianggap  masih 

sesuai dengan masa kini. Dengan demikian peran ini  menempatkan kurikulum 

yang  berorientasi  ke  masa  lampau.  Peran  ini  sifatnya  sangat  mendasar  yang 

dalam  praktiknya  disesuaikan  dengan  kenyataan  bahwa  pendidikan  pada 

hakikatnya  merupakan  proses  social  dimana  salah  satu  tugasnya  adalah 

mempengaruhi dan membina perilaku manusia sesuai dengan nilai-nilai sosial 

yang hidup di lingkungan masyarakatnya.

2)  Peran Kreatif

Melesatnya  perkembangan  ilmu  pengetahuan  dan  teknologi  serta 

perubahan pada setiap aspek-aspeknya tidak dapat lagi terbendung sebagai suatu 

keniscayaan.  Peran   kreatif  menekankan  bahwa  kurikulum  harus  mampu 

mengembangkan  sesuatu  kebaruan  yang  sesuai  dengan  perubahan  tersebut. 

Sehingga kurikulum harus mampu mengembangkan sesuatu  yang baru sesuai 

dengan  perkembangan  yang  terjadi  dan  kebutuhan  masyarakat  pada  masa 

sekarang  dan  masa  yang  akan  datang.  Kurikulum  harus  mengandung  hal-hal 

yang  dapat  membantu  peserta  didik  mengembangkan  potensi   yang  terdapat 

150

dalam dirinya untuk memperoleh pengetahuan atau kemampuan baru serta cara 

berpikir baru yang dibutuhkan dalam kehidupannya di masa mendatang.

3)  Peran Kritis dan evaluatif

Berangkat dari suatu realita bahwa nilai-nilai kehidupan dan budaya dalam 

masyarakat  senantiasa  berkembang  atau  mengalami  perubahan  maka  peran 

kurikulum tidak hanya mewariskan nilai dan budaya  melainkan juga berperan 

untuk  menilai  dan  memilih  nilai  budaya  serta  pengetahuan  baru  yang  akan 

diwariskan. Dalam hal ini fungsi kurikulum sebagai kontrol atau filter sosial. 

Nilai-nilai  sosial  yang  sudah  tidak  sesuai  lagi  dengan  keadaan  atau  realitas 

keadaan dan tuntutan masa kini dihilangkan dan dilakukan suatu modifikasi atau 

penyempurnaan-penyempurnaan.

Dalam proses pengembangan kurikulum ketiga peran di atas harus berjalan 

secara  seimbang.  Kurikulum  yang  terlalu  menonjolkan  peran  konservatifnya 

cenderung  akan  membuat  pendidikan  ketinggalan  oleh  kemajuan  zaman, 

sebaliknya kurikulum yang terlalu menonjolkan peran kreatifnya dapat membuat 

hilangnya nilai-nilai budaya masyarakat. Menyelaraskan ketiga peranan tersebut 

menjadi tanggung jawab semua pihak dalam proses pendidikan termasuk guru 

sebagai ujung tombak pelaksana kurikulum.

Sesuai dengan peran yang harus “dimainkan” kurikulum sebagai alat dan 

pedoman  pendidikan,  maka  isi  kurikulum  harus  sejalan  dengan  tujuan 

pendidikan itu sendiri. Mengapa demikian? Sebab, tujuan  yang harus dicapai 

oleh  pendidikan  pada  dasarnya  mengkristal  dalam  pelaksanaan  perannya  itu 

sendiri. Dilihat dari cakupan dan tujuannya menurut Mcneil (2006) isi kurikulum 

memiliki empat fungsi, yaitu 1) fungsi pendidikan umum (common and general 

education), 2) suplementasi (suplementation), 3) eksplorasi dan 4) keahlian.

1) Fungsi pendidikan umum

Fungsi  kurikulum  untuk  mempersiapkan  peserta  didik  agar  menjadi 

anggota masyarakat baik sebagai warga negara dan warga dunia  yang 

baik dan bertanggung jawab. Kurikulum harus memberikan pengalaman 

belajar  kepada  setiap  peserta  didik  agar  mampu  menginternalisasikan 

nilai-nilai  dalam  kehidupannya,  memahami  setiap  hak  dan  kewajiban 

151

sebagai  anggota  masyarakat  dan  makhluk  social.  Dengan  demikian 

fungsi kurikulum ini harus diikuti oleh setiap peserta didik pada jenjang 

atau level atau jenis pendidikan apapun.

2) Suplementasi

Kurikulum  sebagai  alat  pendidikan  seharusnya  dapat  memberikan 

pelayanan  kepada  setiap  peserta  didik  sesuai  dengan  perbedaan  yang 

dimilikinya. Dengan demikian setiap peserta didik memiliki kesempatan 

untuk  menambah  kemampuan  dan  wawasan  yang  lebih  baik  sesuai 

dengan minat dan bakatnya. 

3) Eksplorasi

Fungsi  eksplorasi  memiliki  makna  bahwa  kurikulum  harus  dapat 

menemukan dan mengembangkan minat dan bakat peserta didik. Melalui 

fungsi ini peserta didik diharapkan dapat belajar sesuai dengan minat dan 

bakat  yang  dimilikinya,  sehingga  memungkinkan  untuk  belajar  tanpa 

adanya  paksaan.  Oleh  sebab  itu  para  guru  sebagai  pengembang 

kurikulum di kelas harus dapat menggali bakat dan minat peserta didik 

yang dihadapinya.

4) Keahlian

Kurikulum berfungsi untuk mengembangkan kemampuan peserta didik 

sesuai dengan keahliannya yang didasarkan atas minat dan bakat peserta 

didik. Dengan demikian kurikulum harus memberikan pilihan berbagai 

bidang keahlian. Bidang-bidang tersebut diberikan sebagai pilihan yang 

pada akhirnya setiap peserta didik memiliki keterampilansesuai dengan 

spesialisasinya. 

Memperhatikan fungsi kurikulum di atas, maka jelaslah bahwa kurikulum 

berfungsi  untuk  setiap  orang  atau  lembaga  yang  berhubungan  baik  langsung 

maupun tidak langsung dalam penyelenggaraan pendidikan. Nah, sekarang coba 

Anda pikirkan kira-kira apa saja fungsi kurikulum bagi Anda seorang guru dan 

peserta didik yang Anda hadapi.

Saudara  mahasiswa,  bagi  guru  kurikulum  berfungsi  sebagai  pedoman 

dalam  pelaksanaan  proses  pembelajaran.  Proses  pembelajaran  yang  tidak 

152

berpedoman  kepada  kurikulum  tidak  akan  berjalan  dengan  efektif.  Mengapa 

demikian? Ya, tepat sekali karena pembelajaran adalah proses  yang bertujuan, 

sehingga segala sesuatu dilakukan oleh guru dan peserta didik diarahkan untuk 

mencapai tujuan pembelajaran.

Bagi  peserta  didik,  fungsi  kurikulum  adalah  sebagai  pedoman  belajar. 

Melalui kurikulum peserta didik akan memahami apa yang harus dicapai, isi atau 

bahan  pelajaran  apa  yang  harus  dipelajari,  dan  pengalaman  belajar  apa  yang 

harus dilakukan untuk mencapai tujuan. Berkaitan dengan fungsi tersebut ada 

enam  fungsi  kurikulum  bagi  peserta  didik  (Sanjaya;2008)  yaitu  fungsi 

penyesuaian,  fungsi  integrase,  fungsi  diferensiasi,  fungsi  persiapan,  fungsi 

pemilihan dan fungsi diagnostic. Nah, sekarang coba Anda diskusikan  dengan 

teman-teman Anda, apakah yang dimaksud dari masing-masing fungsi tersebut?

Saudara mahasiswa, setelah memahami tentang Peran dan Fungsi kurikulum, 

selanjutnya  mari  kita  mengkaji  tentang  komponen  kurikulum.  Pasti  Anda  sudah 

mengetahui terkait dengan komponen-komponen kurikulum bukan? Karena materi 

ini tentunya sudah Anda dapatkan saat menempuh pendidikan sebelumnya. Kita 

akan  sekilas  mengulas  kembali  untuk  memantapkan  pengetahuan  Anda  tentang 

komponen-komponen  kurikulum.  Kurikulum  pada  dasarnya  merupakan  suatu 

sistem. Artinya,kurikulum merupakan suatu kesatuan yang terdiri dari komponenkomponen  yang  saling  berkaitan  antara  satu  dengan  yang  lain.  Karena  antar 

komponen saling berhubungan dan saling mempengaruhi dalam rangka pencapaian 

tujuan. Komponen-komponen kurikulum diistilahkan sebagai anatomi kurikulum 

yang  terdiri  dari  komponen  tujuan,  isi,  aktivitas  belajar  dan  evaluasi  yang 

digambarkan  sebagai  suatu  keterpaduan  (Zais:1976).  Komponen-komponen 

tersebut dapat digambarkan sebagai berikut : 

153

Gambar 1. Anatomi Kurikulum

Gambar  tersebut  menunjukkan  bagaimana  setiap  komponen  saling 

berkaitan dan memiliki keterpaduan antara satu dengan yang lain. Bagaimana 

tujuan akan memberikan arahan pada materi, aktivitas belajar dan juga  evaluasi 

dan begitu juga sebaliknya. Masing-masing komponen akan dijabarkan sebagai 

berikut :

1.  Tujuan

Tujuan  dalam  kurikulum  menggambarkan  kualitas  manusia  yang 

diharapkan  dapat  terwujud  dari  suatu  proses  pendidikan.  Tujuan 

memberikan petunjuk mengenai arah  perubahan yang dicita-citakan dari 

suatu  kurikulum.  Tujuan  kurikulum  yang  jelas  akan  memberikan 

petunjuk yang jelas pula terhadap komponen yang lainnya baik itu isi 

atau  content,  aktivitas  belajar  dan  evaluasi.  Tujuan  juga  dianggap 

sebagai  dasar,  arah  dan  patokan  dalam  menentukan  komponenkomponen kurikulum yang lainnya. Oleh karena itu tujuan kurikulum 

154

tidak terlepas dari tuntutan dan kebutuhan masyarakat serta didasari oleh 

falsafah dan ideology negara. Di Indonesia, sejak pasca kemerdekaan, 

tujuan  umum  pendidikan  atau  tujuan  pendidikan  nasional  ditetapkan 

dalam  keputusan  Majelis  Permusyawaratan  Rakyat  (MPR).  Tujuan 

tersebut  tertuang  dalam  undang-undang  yang  akan  dicapai  melalui 

tujuan-tujuan  yang  ada  di  bawahnya  yang  berfungsi  sebagai  tujuan 

perantara  (intermediate  goals).  Tujuan-tujuan  tersebut  membentuk

hierarki  yang  saling  berkaitan  dan  mempengaruhi  satu  sama  lain.

Hierarki tersebut dapat digambarkan sebagai berikut :

Gambar 2. Hierarki Tujuan

2.  Isi atau content

Merupakan pengetahuan ilmiah yang terdiri dari fakta, konsep, prinsip, 

nilai dan keterampilan yang perlu diberikan kepada siswa. Pengetahuan 

tersebut dijadikan sebagai isi dari kurikulum  yang di dalamnya perlu 

dilakukan  pemilihan-pemilihan  berdasarkan  kriteria-kriteria  tertentu. 

155

Tentunya Anda sudah tahu bukan? Misalnya saja menurut Zais (1976) 

menentukan empat kriteria dalam melakukan pemilihan isi atau content 

kurikulum yaitu; kriteria signifikansi, kriteria kegunaan, kriteria minat 

dan kriteria pengembangan manusia. Atau menurut Sukmadinata (2004) 

mengungkapkan beberapa cara dalam menyusun sekuen isi kurikulum, 

yaitu  :  kronologis,  kausal,  structural,  logis  dan  psikologis,  spiral, 

rangkaian kebelakang atau berdasarkan hierarki belajar. Penetapan isi 

atau content mana yang akan dipilih nampaknya akan sangat bergntung 

pada sifat-sifat materi dan tujuan dari suatu kurikulum.

3.  Aktivitas belajar

Komponen  ini  dimaksudkan  sebagai  strategi  pembelajaran  yang 

berkaitan dengan cara atau sistem penyampaian dari isi kurikulum agar 

mencapai tujuan kurikulum. Strategi yang digunakan atau dipilih dalam 

implementasi kurikulum mempertimbangkan komponen tujuan, isi atau 

content,  dan  kesesuaian  dengan  tingkat  perkembangan  peserta  didik 

yang telah dijabarkan dalam kegiatan belajar 2. 

4.  Evaluasi

Komponen  evaluasi  ditujukan  untuk  menilai  pencapaian  tujuan 

kurikulum  dan  menilai  proses  implementasi  suatu  kurikulum  secara 

keseluruhan. Hasil dari evaluasi kurikulum dapat dijadikan umpan balik 

untuk  mengadakan  perbaikan  dan  penyempurnaan  kurikulum.  Selain 

itu, hasil evaluasi dapat dijadikan sebagai masukan dalam menentukan 

kebijakan-kebijakan  pengambilan  keputusan  tentang  kurikulum  dan 

pendidikan. 

Secara lebih rinci dan operasional bagaimana menjabarkan masing-masing 

komponen  kurikulum  nantinya  akan  Anda  pelajari  pada  Modul  4  terkait 

Perancangan Pembelajaran. Dimana Anda akan belajar bagaimana menjabarkan 

masing-masing  komponen  dalam  kurikulum  dalam  suatu  dokumen  tertulis 

rencana pembelajaran. 

156

d.  Hakikat Pengembangan Kurikulum

Saudara  mahasiswa,  setelah  tadi  mempelajari  bagaimana  komponen 

kurikulum fungsi dan tujuan kurikulum, serta sejarah perkembangan kurikulum 

di  Indonesia,  sekarang  kita  akan  mempelajari  mengenai  bagaimana  hakikat

pengembangan kurikulum.

Berdasarkan  konsep  yang  ada  di  atas,  pengembangan  kurikulum  pada 

hakikatnya adalah proses penyusunan rencana tentang isi dan bahan pelajaran 

yang  harus  dipelajari  serta  bagaimana  harus  mempelajarinya.  Namun,  dalam 

rangka proses pengembangan kurikulum ini harus berangkat dari visi, misi, serta 

tujuan  yang  ingin  dicapai  oleh  masyarakat.  Persoalan  inilah  apa  yang  yang 

kemudian membawa kita pada persoalan yang mendasar yang akan kita bahas 

dalam  pengembangan  kurikulum.  Pada  kegiatan  belajar  ini  kita  akan 

mempelajari  hakekat  pengembangan  kurikulumakan  membawa  anda  pada 

pemahaman bagaimana seharusnya proses pengembangan kurikulum. 

Menurut David Pratt (1980) dalam Sanjaya, istilah  desain lebih mengena 

dibandingkan dnegan pengembangkan yang mengatur suatu tujuan atau usaha. 

Atas  dasar  itu,  maka  pengembangan  kurikulum  Atas  dasar  itu,  maka 

pengembangan kurikulum (curriculum development atau curriculu planning  ) 

adalah proses atau kegiatan yang disengaja dan dipikirkan untuk menghasilkan 

sebuah  kurikulum  sebagai  pedoman  dalam  proses  dan  penyelenggaraan 

pembelajaran oleh guru di sekolah. 

Seller  dan  Miller  (1985)  mengemukakan  bahwa  proses  pengembangan 

kurikulum  adalah  rangkaian  kegiatan  yang  dilakukan  secara  terus  menerus. 

Rangkaian kegiatan itu digambarkan Seller di bawah ini  

157

Gambar 3. Siklus Pengembangan Kurikulum

Seller  memandang  bahwa  pengembangan  kurikulum  harus  dimulai  dari 

menentukan  orientasi  kurikulum,  yakni  kebijakan-kebijakan  umum  seperti 

misalnya  arah  dan  tujuan  Pendidikan,  pandangan  tentang  hakekat  belajardan 

hakekat  anak  didik,  pandangan  tentang  keberhasilan  implementasi  kurikulum 

dan  lain  sebagainya.  Berdasarkan  orientasi  itu  selanjutnya  dikembangkan 

kurikulum  menjadi  pedoman  pembelajran,  diimplementasikan  dalam  proses 

pembelajaran  dan  dievaluasi.  Hasil  evaluasi  itulah  kemudian  dijadikan  bahan 

dalam menentukan orientasi, begitu seterusnya, hingga membentuk siklus. 

Orientasi  pengembangan  kurikulum  menurut  Seller  menyangkut  enam 

aspek yaitu :

1)  Tujuan Pendidikan menyangkut arah kegiatan Pendidikan. 

2)  Pandangan tentang anak : apakah anak dianggap sebagai organisme 

yang aktif atau pasif.

3)  Pandangan tentang lingkungan : apakah lingkungan belajar harus 

dikelola secara formal, atau secara bebas yang dapat memungkinkan 

anak bebas belajar

Orientasi

Implementasi

Pengembangan Evaluasi

158

4)  Konsepsi tentang peranan guru : apakah guru harus berperan sebagai 

instruktur yang bersifat otoriter, atau guru dianggap sebagai fasilitator 

yang siap memberi bimbingan dan bantuan pada anak untuk belajar. 

5)  Evaluasi belajar : apakah mengukur keberhasilan ditentukan dengan 

tes atau non tes. 

Saudara  mahasiswa,  selanjutnya  apa  sajakah  yang  harus  diperhatikan 

dalam  proses  pengembangan  kurikulum?  Mari  kita  lanjutkan  kajian  tentang 

pengembangan  kurikulum  Hal  yang  perlu  dipertimbangkan  dalam 

pengembangan kurikulum adalah isi atas muatan kurikulum itu sendiri. Ada dua 

hal yang harus dipertimbangan dalam menentukan isi pengembangan kurikulum, 

yaitu rentangan kegiatan, misi, dan visi sekolah. 

1)  Rentangan Kegiatan (Range of Activity)

2)  Pengembangan  isi  kurikulum  biasanya  diawali  dengan  rancangan 

kebijakan kurikulum, rancangan bidang studi, program pengajaran, unit 

pengajaran dan rencana pembelajaran. 

Guru  sebagai  pengembang  kurikulum  setidaknya  harus  memiliki 

kemampuan  untuk  memilih  bahan  ajar  yang  akan  di  laksanakan  di  dalam 

pembelajaran.  Bukan  hanya  itu,  guru  pun  melalui  proses  dalam  menjalankan 

sebuah kurikulum. Baik dari segi yang dirancanakan sesuai pedoman maupun 

yang tidak. Kurikulum bukan hanya sebatas pembelajaran formal, tetapi juga 

seluruh pembelajaran yang ada dalam.

Saudara  mahasiswa,  kajian  yang  penting  untuk  diketahui  oleh  seorang

pendidik  tentang  kurikulum  adalah  terkait  konsep  kurikulum  ideal  dan 

kurikulum aktual, serta kurikulum tersembunyi (hidden curriculum). Penjelasan 

dari konsep tersebut dapat Anda baca pada paparan berikut :

a.  Kurikulum ideal dan kurikulum aktual

Saudara  mahasiswa,  dalam  bahasan  sebelumnya,  kurikulum  bisa 

dijadikan sebagai sebuah pedoman dalam melaksanakan pembelajaran. Bisa 

diartikan juga kurikulum sebagai acuan dan landasan dalam melaksanakan 

sebuah proses belajar mengajar. Sebagai sebuah pedoman, kurikulum ideal 

159

memegang  peran  yang  sangat  penting.  Melalui  kurikulum  ideal,  guru 

detidaknya adapat menentukan hal-hal berikut :

1)  Merumuskan tujuan dan kompetensi yang harus dimiliki oleh siswa

2)  Menentukan  isi  atau  materi  pelajaran  yang  harus  dikuasai  untuk 

mencapai tujuan atau penguatan kompetensi

3)  Menyusun strategi pembelajaran untuk guru dan siswa sebagai upaya 

pencapaian tujuan

4)  Menentukan keberhasilan pencapaaian tujuan atau kompetensi

Saudara  mahasiswa,  jika  ada  kurikulum  yang  menjadi  acuan  dan 

menjadi  standar  maka  kurikulum  yang  terlaksana  atau  dilaksanakan  di 

lapangan  berdasarkan  kurikulum  standar  itulah  yang  dinamakan  sebagai 

kurikulum actual. Atau dengan kata lain kurikulum ini merupakan hal yang 

terlaksana di lapangan. 

b.  Kurikulum tersembunyi 

Kurikulum pada hakektnya berisi ide atau gagasan. Ide atau gagasan itu 

selanjutnya dituangkan dalam bentuk dokumen atau tulisan secara sistematis 

dan  logis  yang  memperhatikan  unsur  scope  dan  sequence,  selanjutnya 

dokumen tertulis itulah yang dinamakan dengan  kurikulum yang terencana 

(curriculum  document  or  written  curriculum)  atau  kurikulum  ideal  yang 

berfungsi  sebagai  pedoman  dan  acuan  dalam  pelaksanaan  proses  belajar 

mengajar.  Apakah  dalam  proses  Pendidikan  hanya  tergantung  dan 

dipengaruhi oleh pedoman yang  tertulis saja? Tentu saja tidak, sebab dalam 

proses pengembangan kurikulum dapat dipengaruhi oleh berbagai factor baik 

yang dapat menghambat maupun mendukung proses pencapaian gagasan atau 

ide itu. Segala sesuatu yang tidak direncanakan atau tidak diprogramkan yang 

dapat mempengaruhi perubahan perilaku siswa itulah yang dinamakan .

Ada  dua  aspek  yang  dapat  mempengaruhi  perilaku  sebagai  hidden

kurikulum itu, yaitu aspek yang relative tetap dan aspek yang dapat berubah. 

Aspek  yang  relative  tetap  adalah  ideologi,  keyakinan,  nilai  budaya 

masyarakat yang mempengaruhi sekolah termasuk didalamnya menemukan 

budaya apa yang patut dan tidak patutu diwariskan kepada generasi bangsa. 

160

Aspek  yang  dapat  berubah  meliputi  variable  organisasi  sistem  social  dan 

kebudayaan. Variabel organisasi meliputi bagaimana guru mengelola kelas, 

bagaimana pelajaran diberikan, bagaimana kenaikan kelas dilakukan. Sistem 

social  meliputi  bagaimana  pola  hubungan  social  antara  guru,  guru  dengan 

peserta didik, guru dengan staf, sekolah dan lain sebagainya. 

Menurut Bellack dan Kiebard (Subandijah, 1993), hidden Curriculum

memiliki tingkat dimensi, yaitu :

  Hidden Curriculum  dapat menunjukkan suatu hubungan sekolah, yang 

meliputi interaksi guru,  peserta didik, struktur kelas, keseluruhan pola 

organisasional peserta didik sebagai mikrokosmos sistem nilai social. 

  Hidden  Curiculum  dapat  menjelaskan  sejumlah  proses  pelaksanaan  di 

dalam  atau  di  luar  sekolah  yang  meliputi  hal-hal  yang  memilikinilai 

tambah, sosialisasi pemeliharaan struktur kelas. 

  Hidden  Curriculum  mencakup  perbedaan  tingkat  kesengajaan  seperti 

halnya  yang  dihayati  oleh  para  peneliti,  tingkat  yang  berhubungan 

dengan  hasil  yang  bersifat  insidental.  Bahkan  hal  itu  kadang-kadang 

tidak diharapkan dari penyususnan kurikulum dalam kaitannya dengan 

fungsi social Pendidikan.

Berdasarkan penjelasan di atas, kurikulum disusun sebagai tujuan yang tidak 

tertulis  namun  perlu  dipertimbangkan  setiap  pencapaiannya  dan  ada  unsur  tidak 

direncanakan  sebuah  kurikulum.  Contohnya,  apabila  seorang  guru  sedang 

mengajar,  kemudian  hinggaplah  kupu-kupu  di  sekolah,  maka  hal  tersebut  sudah 

bagian dari kurikulum. Namun, peristiwa semacam tadi kembali lagi kepada guru 

yang  bisa  memanfaatkan  hal-hal  sekitar  untuk  disambungkan  ke  dalam 

pembelajaran. 

Saudara  mahasiswa,  dalam  sebuah  pengembangan  kurikulum  guru 

memerlukan  beberapa  prinsip  untuk  mengembangkan  kurikulum.  Diantara 

beberapa  prinsipnya  adalah  prinsip  relevansi,  prinsip  fleksibilitas,  prinsip 

efektivitas, prinsip efisiensi. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut 

161

  Prinsip Relevansi

Saudara mahasiswa, kurikulum merupakan otaknya pendidikan untuk 

mengarahkan siswa agar dapat memperoleh hasil belajar yang maksimal 

sesuai dengan kebutuhan zaman, kebutuhan social masyarakat, dan juga 

kebutuhan lainnya. Dalam setiap pengembangan kurikulum dibutuhkan 

sebuah  prinsip  relevansi  agar  apa  yang  dipelajari  dapat  sesuai  dan 

sejalan dengan pengalaman belajar yang didapat. 

Ada  beberapa  jenis  relevansi  yaitu  relevansi  internal  dan  relevansi 

eksternal. Relevansi internal bisa diartikan sebagai setiap tujuan yang 

harus dicapai, isi, materi, atau pengalaman belajar yang harus dimiliki 

siswa, strategi, atau metoda yang digunakan serta alat penilaan untuk 

melihat  ketercapaian  tujuan.  Relevansi  internal  ini  menunjukkan 

keutuhan  suatu  kurikulum  yang  akan  diterapkan  dalam  kelas  dan 

pembelajaran siswa. 

Sedangkan  relevansi  eksternal  berkaitan  dengan  keserasian  antara 

tujuan,  isi  dan  proses  belajar  siswa  yang  tercakup  dalam  kurikulum 

dengan  kebuthan  dan  tuntutan  masyarakat.  Adapun  yang  harus 

diperhatikan dalam prinsip relevansi eksternal adalah mengenai aspek 

relevan dengan lingkungan hidup peserta didik, perkembangan zaman, 

dan tuntutan dunia pekerjaan. Prinsip relevansi ini berguna agar peserta 

didik dapat menggunakan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari. 

  Prinsip Fleksibilitas 

Saudara mahasiswa, terkadang apa yang diharapkan dalam kurikulum 

ideal kadang tidak sesuai dengan kondisi kenyataan yang ada. Bisa jadi, 

salahsatu faktornya adalah kemampuan guru yang kurang, kemampuan 

dasar siswa yang masih rendah, atau  mungkin sarana dan prasarana yang 

dimiliki  oleh  sekolah.  Kurikulum  yang  bersifat  fleksibel  artinya 

kurikulum  itu  harus  bisa  dilaksanakan  dalam  kondisi  yang  ada  dan 

memungkinkan untuk dilaksanakan. Apabila kurikulum tidak memiliki 

fleksibilitas yang memadai, maka kurikulum akan sulit diterapkan.   

162

Fleksibilitas kurikulum bisa dipandang dalam guru dan peserta didik. 

Kurikulum diharapkan bisa fleksibel bagi guru dan fleksibel bagi peserta 

didik. Untuk guru, fleksibilitas didapat dari kemudahan cara mengajar, 

sedangkan  untuk  peserta  didik,  diharapkan  kurikulum  dapat 

mengakomodasi minat dan bakat daripada peserta didik. 

  Prinsip Kontinuitas

Saudara mahasiswa, kurikulum ini harus memiliki efek kesinambungan 

antara  jenjang  satu  kepada  jenjang  lainnya.  Prinsip  kontinuitas  ini 

diperlukan  adanya  kerjasama  antara  pengembang  kurikulum  antar 

jenjang sehingga terjaga tujuan dan pelaksanaannya. Selain itu, materi 

yang ada di dalam kurikulum diharapkan bisa memiliki ketersambungan 

dengan mata pelajaran lain. 

  Prinsip Efektivitas

Prinsip  efektivitas  berkenaan  dengan  rencana  dalam  suatu  kurikulum 

dapat dilaksanakan dan dapat dicapai dalam kegiatan belajar mengajar. 

Ada dua hal yang berkaitan dengan efektifitas ini adalah efektivitas yang 

berhubungan dengan kegiatan guru, dimana guru dapat menyelesaikan 

berbagai  macam  rencananya.  Adapun  siswa  dapat  melaksanakan 

berbagai kegiatan sesuai dengan minat dan bakat siswa. 

  Prinsip Efisiensi 

Efisiensi  berhubungan  dengan  perbandingan  antara  tenaga,  waktu, 

suara,  dan  biaya  yang  dikeluarkan  dengan  hasil  yang  diperoleh. 

Kurikulum  dikatakan  memiliki  tingkat  efisiensi  yang  tinggi  apabila 

dengan  arana.  Biaya  yang  minimal  dan  waktu  yang  terbatas  dapat 

memperoleh hasil yang maksimal. Berapapun bagusbagus dan idealnya 

suatu kurikulum, manakah menurut peralatan, sarana dan sarana yang 

sangat  khusus  serta  mahal  pula  harganya,  maka  kurikulum  itu  tidak 

praktis dan sukar untuk dilaksanakan. Kurikulum harus dapat dirancang 

untuk dapat digunakan dalam segala keterbatasan. 

163

e.  Faktor-faktor yang mempengaruhi implementasi kurikulum

Saudara Mahasiswa, sekarang kita sudah masuk kajian tentang Faktor-faktor 

apa saja yang nantinya akan berpengaruh terhadap implementasi kurikulum. Kajian 

penting  karena  akan  memberikan  panduan  bagi  guru  bagaimana 

mengimplementasikan suatu kurikulum secara benar. Sebelum mengetahui tentang 

factor-faktor apa saja yang berpengaruh dalam implementasi kurikulum, mari kita 

ingat  kembali  tentang  apa  itu  implementasi  kurikulum.  Implementasi  kurikulum 

menurut kamus Oxford for learner, berarti  put something into effect / penerapan ide 

yang memberikan efek. Menurut Beauchamp (1975), implementasi kurikulum di 

dalamnya  merupakan  sebuah  jembatan  antara  ide  dan  aplikasi.  Hal  ini  berarti 

memiliki  dua  makna  yaitu  implementasi  sebagai  instrumen  ataupun  sebagai 

proses. Jembatan  antara  ide  dan  aplikasi  adalah  sebuah  langkah  praktis  dari 

perwujudan dari silabus, rencana pengajaran, ke  dalam kegiatan di dalam kelas. 

Proses  implementasi  ini  mempengaruhi  berbagai  macam  pengetahuan  dan 

pengalaman ke dalam kelas. 

Adapun,  dalam  proses  pelaksanaan  sebuah  implementasi,  Oemar  Hamalik 

(2010)  memberikan  batasan  pokok  kegiatan  dalam  implementasi  diantaranya 

adalah :

1.  Pengembangan  program  yang  mencakup  program  tahunan,  semester, 

triwulan, bulanan, dan harian serta konseling atau remedial

2.  Pelaksanaan  pembelajaran  yakni  proses  interaksi  antar  peserta  didik 

dengan lingkungannya sehingga terjadi perubahan yang lebih baik

3.  Evaluasi  proses  yang  dilaksanakan  sepanjang  proses  pelaksanaan 

kurikulum  mencakup  penilaian  keseluruhan  secara  utuh  untuk 

keperluan evaluasi pelaksanaan kurikulum

Dari  paparan  tersebut  dapat  disimpulkan  bahwa  implementasi  kurikulum 

merupakan  kegiatan  praktis  pembelajaran  yang  dilaksanakan  atas  dasar  kajian 

silabus dan juga kajian peserta didik. Maka dari itu,ada proses-proses yang harus 

dilaksanakan dan ada hal-hal yang bisa mempengaruhinya. 

Menurut  Chaudry  (2015)  faktor  yang  mempengaruhi  implementasi 

kurikulum  adalah  faktor  guru,  peserta  didik,  sarana  dan  fasilitas,  lingkungan 

164

sekolah, peminatan  grup, budaya dan ideologi, supervisi pembelajaran, dan proses 

asesmen sebelum pelaksanaan sebuah implementasi kurikulum. Untuk lebih jelas, 

mari kita bahas satu persatu.

Gambar 4. Faktor yang mempengaruhi implementasi Kurikulum

  Faktor Guru 

Saudara  Mahasiswa,  faktor  guru  merupakan  faktor  penting  dalam 

implementasi kurikulum. Guru merupakan orang yang secara langsung 

bersentuhan dengan murid dan melakukan proses pembelajaran dengan 

peserta  didik.  Adapun  Altichter  (dalam  Katuuk)  menyatakan  bahwa 

kompetensi  yang  penting  yang  harus  ada  dalam  jiwa  guru  adalah 

kompetensi  sebagai  guru  dan  juga  perilaku,  partisipasi  dalam 

pengambilan keputusan dan kualitas hubungan rekan sejawat. Meskipun 

guru  merupakan  orang  yang  berperan  penting  dalam  implementasi 

kurikulum, namun guru juga baiknya memiliki pengetahuan mengenai 

proses  perencanaan  kurikulum  sehingga  guru  dapat  menerjemahkan 

kurikulum ke dalam realitas di lapangan. Hal ini juga senada dengan apa 

yang  dinyatakan  oleh  Oemar  Hamalik  yaitu  tentang  pentingnya 

pengetahuan  guru  mengenai  kurikulum.  Guru  memandang  kurikulum 

bukan  hanya  sebagai  seperangkat  mata  pelajaran,  tetapi  juga  sebagai 

165

seperangkat  pembelajaran  yang  harus  dikembangkan  dan  disesuaikan 

dengan peserta didik. 

  Faktor Peserta didik

Peserta didik memiliki peranan penting dalam implementasi kurikulum. 

Selain merupakan hasil atau subjek daripada pendidikan, peserta didik 

memiliki  lingkungan  yang  berbeda.  Kualitas  peserta  didik,  kemudian 

latar  belakang  ekonomi,  keluarga,  dan  juga  kecenderungan  peserta

didik.  Lalu,  ada  satu  hal  yang  bisa  dilakukan  peserta  didik  adalah 

melakukan  serangkaian  seleksi  terhadap  pengalaman  belajar  yang 

dibutuhkan oleh peserta didik dalam implementasi kurikulum. Peserta 

didik  bisa  memilih  sendiri  pengalaman  belajar  yang  diinginkan  dan 

diterima,  tidak  selalu  sesuai  dengan  apa  yang  diharapkan  oleh 

kurikulum secara resmi.

  Faktor Sarana dan Fasilitas

Keberadaan  sarana  dan  fasilitas  menjadi  salahsatu  faktor  penunjang. 

Coba Anda perhatikan, bagaimana jadinya pembelajaran bisa menjadi

lebih bermakna dan memiliki tingkat kesadaran tinggi apabila tidak ada 

media pembelajaran, buku teks, dan alat-alat lainnya.   Selain sekolah 

yang  harus  menyediakan,  lingkungan  masyarakat  atau  pemerintah 

setempat bisa digunakan untuk menunjang sarana dan prasarana  yang 

dibutuhkan  untuk  berlajar  seperti  perpustakaan,  laboratorium, 

sportorium,  dan  berbagai  macam  lingkungan  yang  dapat  digunakan 

untuk  melaksanakan  implementasi  kurikulum.  Karena  keberadaan 

sarana  dan  fasilitas  memiliki  pengaruh  yang  baik  untuk  mengingat 

pengalaman belajar yang dilakukan oleh peserta didik.

  Faktor Lingkungan Sekolah

Saudara  mahasiswa,  lingkungan  sekolah  tentu  akan  mempengaruhi 

dalam  implementasi  kurikulum.  Anda  bisa  memperhatikan,  lokasi 

lingkungan sekolah, lingkungan sosial dan ekonomi, dan beberapa hal 

terkait manusia dan sumber daya, maka itulah lingkungan sekolah yang 

akan  mendukung  proses  pengimplementasian  kurikulum.  Coba  anda 

166

bandingkan  lingkungan  sekolah  yang  berada  di  perkotaan  dan  di 

pedesaan.  Pengimplementasian  kurikulum  akan  berbeda  cara  dengan 

lingkungan  yang  berbeda. Lingkungan  sekolah,  bukan  hanya  soalan 

mengenai kondisi fisik, namun juga kondisi mental dalam suatu sekolah. 

Lingkungan sekolah juga dipengaruhi oleh budaya ilmu yang terbentuk 

dari  kebiasaan  dari  para  guru  atau  budaya  ilmu  suatu  sekolah. 

Sebaiknya,  kepala  sekolah  dan  guru  membuat  sebuah  budaya  baru 

dalam lingkungan sekolah. 

  Faktor Budaya dan Ideologi

Saudara  Mahasiswa,  telah  kita  ketahui  bersama  bahwa  setiap  daerah 

memiliki  budaya  dan  ideologi  tertentu.  Sudah  seharusnya  kurikulum 

bisa  diimplementasikan  dengan  mengintegrasikan  antar 

kebudayaannya.  Implementasi  kurikulum  yang  baik  adalah  dimana 

kurikulum tidak mencabut akar budaya masyarakat sekitanya. Budaya 

masyarakat  merupakan  sebuah  tuntutan  dimana  peserta  didik  tinggal. 

Peribahasa yang menyatakan bahwa “dimana langit dipijak, disitu langit 

dijunjung”  merupakan  budaya-budaya  yang  didahulukan  dan 

disesuaikan  dengan  kurikulum  agar  bisa  menguatkan  budaya  di 

masyarakat. 

Saudara  mahasiswa,  selain  faktor-faktor  yang  telah  dijabarkan  di  atas  ada 

juga faktor lain  yang  mempengaruhi dalam implementasi kurikulum yaitu faktor 

perencanaan  yang  mencakup  mengenai  penilaian  awal  sebuah  perencanaan 

pembelajaran  dan  faktor  evaluasi  yang  harus  dilaksanakan  secara  terus  menerus 

untuk  mengetahui  sejauh  mana  efektvitas  implementasi  kurikulum  terutama  di 

ruang kelas. Kesemua faktor tersebut harus betul-betul dipahami bagi seorang guru 

sebelum mengimplementasikan sebuah kurikulum karena akan digunakan sebagai 

sebuah  pertimbangan  untuk  guru  dalam  merancang  dan  mengimplementasikan 

sebuah kurikulum di sekolah.  Untuk memperlajari lebih lanjut tentang faktor-faktor 

yang  mempengaruhi  implementasi  kurikulum  dapat  diakses  pada  link  berikut: 

http://bit.ly/2qySxz6 

167

f.  Strategi penerapan kurikulum dan tantangannya di masa depan

Saudara  Mahasiswa,  sekarang  kita  akan  mengkaji  terkait  dengan  strategi 

dalam  penerapan  kurikulum  dan  tantangannya  di  masa  depan.  Sebelum  kita 

mengkaji  lebih  jauh  terkait  materi  ini,  Anda  perlu  merenungkan  kalimat  bijak 

berikut agar membuka pikiran Anda dalam menghayati sebuah perubahan tentunya 

dalam  hal  perubahan  kurikulum.  Perubahan  itu  sebuah  keniscayaan.  Tidak  ada 

yang tidak akan berubah kecuali perubahan itu sendiri. – Heraclitus

Saudara mahasiswa, keberadaan masa depan merupakan keniscayaan  yang 

tidak bisa ditolak. Apa yang kita ajarkan hari ini, tentunya akan dipakai oleh peserta 

didik di masa depan. Sudah sewajarnya  guru menjadi  seorang  futuris  yang juga 

selalu berhipotesis dengan masa depan. Lalu bagaimana strategi dalam penerapan 

kurikulum  yang  harus  Anda  pahami  sebagai  seorang  guru  profesional?  Strategi 

dalam  penerapan  kurikulum  dipengaruhi  oleh  kesiapan  mental  guru  dalam 

menyikapi  perubahan  yang  akan  terjadi  di  masa  depan,  sehingga  kita  perlu 

mengkaji tantangan-tantangan apa saja di masa depan yang dapat dijadikan acuan 

dalam menentukan strategi dalam penerapan kurikulum. 

a.  Kesiapan guru menerima perubahan

Saudara mahasiswa, diantara banyaknya perubahan yang terjadi dengan 

cepat, terkadang kita sulit untuk berubah dan mau berubah. Contohnya sulit 

berubah  dan  cara  mengajar  yang  begitu-begitu  saja  tanpa  menyesuaikan 

dengan  perkembangan  zaman.  Lalu  pertanyaannya  adalah  “mengapa  guru 

sering  dianggap  mengalami  sebuah  resistensi  terhadap  perubahan?”  Salah 

satu jawabannya, ada dalam sebuah riset yang diterbitkan pada tahun 2006 

oleh  Zimmerman.  Zimmerman  mengatakan  bahwa  resistensi  yang  dialami 

oleh guru dikarenakan model mental yang sudah tertanam dalam jiwa guru 

dan penolakan terhadap  perubahan.   Pertama, model mental yang dimaksud 

adalah sebuah peta individu atau organisasi untuk membantu mereka tidak 

hanya membuat sebuah pemaknaan dalam memahami konteks keadaan dunia 

yang  sebenarnya.  Model  mental  ini  tidak  hanya  dibentuk  oleh  individu, 

namun  juga  dibentuk  oleh  sistem.  Kedua,  hal  itu  merupakan  penolakan 

168

terhadap  perubahan  itu  sendiri,  karena  proses  penolakan  ini  merupakan 

sebuah rasa kehilangan.

Akibat  dari  resistensi  terhadap  perubahan  yang  cenderung  sudah 

mengakar kuat dalam diri guru, membuat guru memasuki sebuah zona yang 

disebut zona nyaman dan cenderung sulit untuk meninggalkan. Dalam zona 

ini,  guru  akan  cenderung  enggan  melakukan  sebuah  perubahan  karena 

perubahan  selalu  memerlukan  sebuah  proses  berpikir  dan  memerlukan 

sebuah  usaha-usaha  baru  yang  dianggap  merusak  sebuah  tatanan 

kenyamanan. Maka, untuk mengantisipasi tidak terjadinya perubahan  yang 

diharapkan, diperlukan kondisi perubahan mental yang kuat dan perubahan 

model mental .

b.  Keterbukaan pola berpikir

Saudara  mahasiswa,  perubahan  yang  mendasar  terdapat  pada 

perubahan pola pikir untuk menerima perubahan dan kurikulum. Pola pikir 

mempengaruhi  berbagai  macam  perilaku  yang  dihasilkan  oleh  manusia. 

Sebuah  pola  pikir  tetap  (Fixed  Mindset)  menganggap  bahwa  karakter, 

kecerdasan, dan kreativitas merupakan sebuah bawaan, namun ada pola pikir 

lain yang menyatakan bahwa setiap kegagalan merupakan sebuah tantangan 

yang akan berfungsi untuk bertumbuh (Growth Mindset). Berikut merupakan 

perbedaannya( Dweck, 2006).

169

Tabel 3. Perbedaan Fixed Mindset dan Growth Mindset

Konsekuensinya,   manusia  dengan  pola  pikir  tetap  akan  sulit  untuk 

mencapai  keinginan  karena  sudah  menetap  dan  lambat.  Sedangkan  orang 

yang memiliki pola pikir bertumbuh, akan selalu bisa bertahan dalam kondisi 

apapun  karena  selalu  bertumbuh  dan  bisa  menyesuaikan  dengan  berbagai 

macam cara. Padahal, sebenarnya manusia bisa bertahan dengan usaha yang 

kuat, tahan terhadap kritik dan pujian, serta siap menghadapi tantangan. Pola 

pikir  ini  perlu  dibawa  dalam  ruang  kelas  dan  pembelajaran.  Setiap  waktu, 

guru  selalu  menghadapi  berbagai  perubahan  kecil  di  dalam  ruang  kelas. 

Hanya saja, ini dikembalikan kepada guru apakah hendak menggunakan fixed 

mindset  atau  growth  mindset? Mari  direnungkan  pilihan  apa  yang  harus 

dipilih bagi seorang guru profesional?

Saudara mahasiswa, salah satu sifat kurikulum adalah harus menyesuaikan 

dengan  masa  depan.  Berbeda  dengan  pola  bermain  judi,  hanya  saja  sebagai 

Aspek  Fixed Mindset  Growth Mindset

Tantangan  Menghindari tantangan  Menyukai tantangan

Rintangan  Mudah Menyerah  Bertahan dalam 

menghadapi rintangan

Usaha  Melihat Usaha sebagai 

kesia-siaan

Melihat usaha sebagai jalan 

menuju menjadi hebat

Kritik  Mengabaikan kritik yang 

membangun

Belajar dari kritik

Kesuksesan Orang 

lain

Merasa terancam oleh 

kesusksesan orang lain

Mengambil pelajaran dan 

inspirasi dari kesuksesan 

oranglain

Hasil  Tidak berkembang dan 

meraih jauh di bawah dari 

yang seharusnya bisa diraih

Mencapai potensi maksimal 

dari mereka 

170

pendidik,  kita  harus  mempersiapkan  generasi  yang  sebaik-baiknya  tanpa  kita 

ketahui masa depan seperti apa yang akan terjadi di masa mendatang. Beberapa ahli 

telah banyak menggambarkan dunia masa depan dan prediksinya, mulai dari dunia 

yang  mengalami  sebuah  percepatan,  lebih  fleksibel,  banjir  pengetahuan,  hingga 

ancaman robot akan menggantikan fungsi manusia, dan itu  perlahan sudah mulai 

dirasakan.  Zaman  yang  berubah  semakin  cepat,  kita  juga  menghadapi  sebuah 

tantangan  untuk  redefinisi  landasan  pendidikan  sebagaimana  yang  disampaikan 

pada  kegiatan  belajar  1  yang  akan  berdampak  kepada  perubahan  syarat 

keterampilan untuk memecahkan masalah, berinovasi dan untuk menggapai sukses. 

Lain  halnya  apabila  kita  mulai  belajar  untuk  menemukan  pola  prediksi  di 

masa depan. Salahsatunya adalah dengan adanya sebuah percepatan pengetahuan. 

Pengetahuan menjadi cepat untuk berkembang dan juga cepat menjadi using, tempo 

perubahan  social  tidak  diimbangi  dalam  dunia  Pendidikan  yang  pada  akhirnya 

pelajar dan mahasiswa kini lebih banyak menggunakan internet (Piliang, 2004). Era 

ini  perlahan  sudah  mulai  kita  rasakan.  Menurut  Yasraf  Amir  Piliang,  prinsip 

fleksibilitas merupakan  sebuah kesadaran tinggi  akan pentingnya peran individu 

dan jaringan dalam membangun pengetahuan. Sikap fleksibilitas akan membangun 

sikap  proaktif  dalam  membangun  sebuah  makna  sendiri,  Mau  tidak  mau, 

pembelajaran  harus  mengalami  perubahan  dari  yang  konvensional  kepada 

pembaruan  model  pembelajaran  yang  disesuaikan  dengan  perkembangan 

pengetahuan.  Di  masa  depan  (dan  mungkin  juga  sudah  dimulai  dari  sekarang), 

peranan  guru  di  kelas  akan  menjadi  sesuatu  yang  harus  kembali  didefinisikan. 

Menurut anda, akankah guru tergantikan oleh peranan mesin pencari dan berbagai 

macam teknologi daring?

Tantangan  kurikulum  dalam  konteks  ke  Indonesiaan  di  masa  mendatang 

berdasar  pada  kondisi  Indonesia  dengan  banyak  pulau  yang  luas  dan  berbagai 

macam  budaya.  Kita  bisa  memandangnya  sebagai  anugrah  dan  juga  sebagai 

tantangan dalam pemerataan Pendidikan. Setiap daerah memiliki sebuah konteks 

yang harus dipertimbangkan. Inilah yang menjadi salahsatu factor pembeda khas 

antara  Indonesia  dengan  negara  lain  yang  dipandang  maju  dalam  Pendidikan. 

Adapun tantangan kurikulum yang harus dihadapi adalah : 

171

1)  Bonus demografi

Saudara mahasiswa, menurut prediksi Bappenas, pada tahun 2030-2040 

Indonesia akan mengalami sebuah bonus demografi. Bonus demografi adalah 

keadaan dimana sumber daya manusia dalam usia produktif (15-64 tahun) 

lebih banyak dari pada usia non produktif. Sedangkan di negara lain, sedang 

terjadi sebuah proses  aging people  (dimana jumlah penduduk non produktif 

memiliki jumlah lebih banyak). Hal ini perlu menjadi perlu menjadi perhatian 

praktisi  di  bidang  Pendidikan,  untuk  menekankan  dan  bekerjasama 

bagaimana  membangun  generasi  selanjutnya.  Dengan  adanya  bonus 

demografi,  diharapkan  masyarakat  Indonesia,  terutama  praktisi  bidang 

Pendidikan, bisa memanfaatkan momentum ini. Bonus demografi merupakan 

sesuatu yang harus dipersiapkan dari sekarang. Bonus demografi bisa menjadi 

anugerah  apabila  bisa  dikelola  secara  baik. Keadaan  bonus  demografi 

Indonesia  pun  tidak  luput  dari  masalah.  Diantara  permasalahan  bonus 

demografi adalah tingkat pemerataan pendidikan yang masih rendah. Masingmasing rerata wilayah terdapat di beberapa daerah sehingga perlu diadakan 

sebuah  kajian  khusus  per  Kawasan  daerah.  Permasalahan  ini  baiknya  bisa 

diselesaikan  dengan  kerjasama  berbagai  macam  pihak  seperti  psikolog, 

sekolah,  masyarakat,  pemerintah,  dan  lain  sebagainya.  Jika  masalah  ini 

dibiarkan saja berlarut-larut tanpa adanya sebuah sebuah solusi, maka bonus 

demografi bisa menjadi bencana tersendiri untuk Indonesia.      

2)  Teknologi di ruang kelas

Saudara  mahasiswa,  seperti  yang  dinyatakan  oleh  Friedman, 

perkembangan  teknologi  terlampau  cepat  namun  kemampuan  kita  untuk 

beradaptasi masih belum mencukupi. Perubahan teknologi yang begitu cepat 

selama tujuh tahun, baru bisa dikejar dalam lima belas tahun ketertinggalan. 

Dalam iklim teknologi yang serba cepat dan instan, orang-orang yang tidak 

mengikuti  perkembangan  zaman,  akan  mengalami  distorsi  akan  arah 

hidupnya. Bisa dilihat dalam grafik di bawah ini

172

Gambar 5. Rate of Change

Sumber gambar : https://images.app.goo.gl/U18a9modzb8QV8KPA

Untuk  mengatasi  kesenjangan  antara  adaptasi  manusia  dengan 

perkembangan teknologi adalah dengan adanya akselerasi proses belajar agar 

manusia  dapat  menyesuaikan  dengan  perkembangan  teknologi.  Salahsatu 

cara  dalam  mengakselerasi  proses  adaptasi  adalah  dengan  mengalukan 

integrasi teknologi di ruang kelas, tentu disesuaikan dengan kebutuhan anak 

untuk belajar bersama teknologi. Perubahan penggunaan teknologi di ruang 

kelas akan berpengaruh kepada fungsi guru di dalam kelas. Sehingga dalam 

mengimplementasikan teknologi di ruang kelas, guru harus menyadari dan 

memperhatikan aspek-aspek dalam pengolahannya tanpa merasa peran guru 

digantikan  oleh  peran  teknologi.  Dalam  proses  ini  ada  sebuah  integrase 

teknologi yang akan mensinergikan antara materi pembelajaran dan strategi 

pembelajaran (Pujiriyanto: 2012).

3)  Globalisasi dan perubahan kebijakan pendidikan

Saudara mahasiswa, sudah tidak asing dengan kata globalisasi bukan? 

Globalisasi bukan globalisasi ini bukan merupakan sebuah konsep yang satu 

tetap  memiliki  makna  yang  berbeda.  Namun,  globalisasi  adalah  salahsatu 

penggerak utama perubahan social, ekonomi, politik, dan, dan budaya dalam 

satu atau lain cara   (Piliang, 2018). Globalisasi merupakan sebuah Dengan 

173

konsep The World is Flat, kita tidak lagi hidup dalam sekat-sekat geografis, 

Di  masa  globalisasi,  Perataan  dunia  membuat  kita  mudah  untuk  berbagi 

pekerjaan,  berbagi  pengetahuan,  dan  juga  berbagi  hiburan.  Globalisasi  ini 

memberikan  sebuah  efek  ketenagakerjaan  yang  tidak  pasti  dari  soalan 

ketidakpastian. 

Dampak dari globalisasi yang menuntut perubahan, maka pemerintah 

seperti  “berusaha”  untuk  menyesuaikan  pendidikan  sehingga  akan  terjadi 

perubahan  kurikulum.  Namun,  meskipun  kurikulum  berganti-ganti  dan 

pemerintah mengganti kebijakan, faktor penentu ada pada guru itu sendiri. 

Indonesia  merupakan  negara  yang  besar  dan  cukup  kompleks,  dan 

membutuhkan  beberapa  perubahan  revolusioner  (Purwanto,  2008).  Arah 

pendidikan ini merupakan jawaban permasalahan atas permasalah pendidikan 

klasik di Indonesia yaitu pemerataan pendidikan di seluruh Indonesia. 

4)  Pendidikan abad 21

Kajian terkait pendidikan abad 21 akan Anda temui secara lengkap pada 

kajian  modul  selanjutnya  yaitu  modul  2.  Pada  bagia  ini  sekilas  akan 

difokuskan  pada  bagaimana  pendidikan  abad  21  akan  mempengaruhi 

pengembangan kurikulum. Menurut UNESCO tujuan pendidikan di abad 21 

membutuhkan  berbasis  sintesis  yang  tinggi,  sebuah  keterpaduan  baru, 

kebutuhan individual adan tanggungjawab sosial. Berdasarkan hal tersebut 

menurut Jenifer Nichols ada beberapa prinsip yang harus diterapkan dalam 

kurikulum masa depan yaitu a) pembelajaran harus selalu menjadi berpusat 

pada  peserta  didik  yang  menjadi  pusat  belajar  dan  pusat  kegiatan  belajar 

sedangkan guru menjadi fasilitator, b) pendidikan harus selalu berkolaborasi 

dengan lembaga lain, untuk meningkatan berbagai mutu pendidikan selain itu 

menambah  keilmuan  bidang-bidang  tertentu  yang  tidak  didalami  dalam 

kurikulum. c) belajar harus memiliki konteks dimana dalam sebuah proses 

pembelajaran  harus  bisa  dikaitkan  dengan  berbagai  macam  kasus  dalam 

kehidupan sehari-hari sehingga belajar itu memiliki pijakan yang nyata untuk 

anak,  d)  sekolah  harus  berintegrasi  dengan  lingkungan  sosial  masyarakat. 

174

Jangan  sampai  sekolah  mencabut  akar-akar  kemasyarakatan,  tapi  sekolah 

juga menyambungkan antar elemen masyarakat dengan kegiatan-kegiatan.

No comments:

Post a Comment

Soal KARAKTERISTIK PEMBELAJARAN ABAD 21

 1.  Pernyataan  berikut  yang  merupakan  fenomena  pembelajaran  abad  21  yang  menyebabkan era disrupsi pendidikan adalah….. 1.  Semakin...