Monday, 8 May 2023

KARAKTERISTIK PEMBELAJARAN ABAD 21

 a.  Karakteristik pembelajaran abad 21 

1)  Fenomena perubahan pembelajaran abad 21

Saudara mahasiswa, tentu Anda sudah pernah duduk di bangku TK, SD, SMP 

maupun SMA. Apakah Saudara masih ingat ruang-ruang kelas konvensional berisi 

meja atau bangku, kursi, dan papan tulis  yang  terpampang  di depan kelas dengan 

sekotak kapur dan sebuah penghapus. Perkembangan berikutnya hadir ruang kelas 

mungkin menggunakan whiteboard  dan spidol  untuk menggantikan papan tulis  dan 

INTI

7

kapur.  Saat  ini,  terdapat  pula  kelas  yang  sudah  menggunakan  proyektor  LCD

didukung  laptop  atau  komputer  yang  terhubung  dengan  jaringan  internet,  atau 

ruang-ruang  kelas  multimedia  dilengkapi  papan  tulis  elektrik,  komputer  tablet, 

iPAD, PDA, smartphone, dan perangkat canggih lainnya yang dilengkapi jaringan 

internet berkecepatan tinggi.  Namun, masih ada pula kelas-kelas di daerah terpencil 

yang memiliki papan tulis berlubang atau bahkan tidak memiliki ruang kelas yang 

layak. Itulah realitas yang ada, namun kita harus bergerak maju bersama. Mungkin 

kelas Anda terpencil, namun jaringan internet sebentar lagi akan mencakup seluruh 

wilayah  Indonesia  dengan  program  Palapa  Ring.  Guru  dan  peserta  didik  dapat 

memanfaatkan jaringan  internet  untuk mengakses  “big data”  dimana setiap detik 

mengalir data dalam jumlah besar. Big data merupakan kumpulan data dalam skala 

besar dan kompleks yang dapat menjadi sumber belajar potensial. Lalu, apakah big 

data itu? Silahkan membuka link di http://bit.ly/36Ux5F6. 

Pakar memperkirakan setiap hari dihasilkan 2.5 triliun  byte  data,  facebook

menayangkan 300 juta foto perhari, dan  google  memproses 3–5 juta permintaan 

perhari  dan  semua  akan  terus  meningkat.  Data  tersedia  melimpah  sehingga 

tantangan  dunia  pendidikan  perlu  mempelajari  cara  memperoleh,  menyimpan, 

menganalisis, melacak,  mencari,  men-share,  memindahkan,  memvisualisasi, 

mengaktualisasi, melakukan quering (menambah, menghapus dan mengubah data), 

dan  mengelola  sumber  data  untuk  kepentingan  proses  pembelajaran.  Big  data

memang bercirikan dalam jumlah besar, sangat bervariasi, dan memiliki kecepatan 

berpindah yang sangat tinggi. Contoh aplikasi big data adalah massive open online 

course  (MOOC)  yaitu  suatu  sistem  pembelajaran  yang  diselenggarakan  secara 

online, ditawarkan secara besar-besaran dan terbuka. Hal ini memungkinkan orang 

dapat  belajar  tanpa  batas  melalui  akses  web.  Kehadiran  big  data  dapat 

dimanfaatkan  sebagai  sumber  belajar  sehingga  guru  tidak  lagi  merupakan  satusatunya  sumber,  karena  peserta  didik  generasi  sekarang  sangat  lincah  dalam 

mencari  dan  menemukan  sumber  informasi.  Coba  Saudara  amati  cara  dan  gaya 

belajar  peserta  didik  di  abad  21,  sangat  terampil  menggunakan  perangkat 

smartphone  dan  sejenisnya.  Lalu  cobalah  untuk  bersikap  jujur.  Kejujuran  yang 

bagaimana?  Diakui  atau  tidak  peserta  didik  abad  21  seringkali  memperoleh 

8

informasi lebih aktual daripada materi yang disampaikan oleh guru.  Informasi dan 

pengetahuan  yang  hadir  dalam  format  digital  baik  terstruktur  maupun  tidak 

terstruktur  telah  menjadi bagian dari  big data  yang mudah diakses.  Bahkan, para 

pakar  sedang  bekerja  keras  untuk  membangun  manajemen  data  dengan 

mengumpulkan,  mengolah,  dan  menyimpan  informasi  agar  lebih  mudah  diakses 

meskipun jumlahnya sangat besar. Hal ini dikarenakan informasi dan pengetahuan 

yang terkumpul  dalam  big data  lebih terstruktur dengan baik.  Big data  semakin 

mudah  diakses  seiring  meningkatnya  kemampuan  dan  jumlah  kepemilikan 

perangkat  pribadi  seperti  handphone,  tablet,  laptop,  PDA,  maupun  perangkat 

bergerak  lainnya.  Peserta  didik  bisa  belajar  dimanapun  dan  kapanpun  dengan 

beragam  pilihan  materi  pembelajaran.  Ilmu  pengetahuan  mungkin  tidak  lagi 

tersekat  dalam  batasan  ruang,  waktu,  dan  paket-paket  pengetahuan  yang  harus 

diselesaikan  dalam  istilah  semester  ataupun  tahun  ajaran.  Perubahan  mendasar 

sedang  terjadi  dalam  dunia  pendidikan  yang  popular  dengan  istilah  “fenomena 

disrupsi”  dengan tanda-tanda  sebagai berikut;  (1)  belajar tidak lagi terbatas pada 

paket-paket  pengetahuan  terstruktur  namun  belajar  tanpa  batas    sesuai  minat 

(continuum  learning),  (2)  pola  belajar  menjadi  lebih  informal,  (3)  keterampilan 

belajar mandiri (self motivated learning) semakin berperan penting, dan (4) banyak 

cara  untuk  belajar  dan  banyak  sumber  yang  bisa  diakses  seiring  pertumbuhan 

MOOC secara besar-besaran. Nah, bagaimana Saudara mensikapi hal ini?

Proses pembelajaran yang hanya mengandalkan buku paket dan guru sebagai

satu-satunya  sumber  utama  menjadi  sulit  untuk  terjadi  pembelajaran  mutakhir 

mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan. Pemanfaatan big data sebagai sumber 

belajar  menjadi  keniscayaan  pembelajaran  abad  21.  Berfokus  kepada  materi 

penting,  namun  fokus kepada  pengembangan keterampilan belajar menjadi lebih 

penting.  Peserta  didik  harus  belajar  cara  melacak,  menganalisis,  mensintesis, 

mengubah,  mendekontruksi  bahkan  menciptakan  lalu  membagikan  pengetahuan

kepada orang lain.  Fokus guru  sebenarnya  memberikan kesempatan  peserta didik 

untuk menghubungkan materi yang dipelajari dengan dunia nyata. 

Salah  satu  pengaruh  signifikan  teknologi  terhadap  pembelajaran  abad  21 

adalah adanya  kemudahan akses  atau aksesibilitas terhadap sumber belajar digital 

9

untuk memenuhi beragam kebutuhan peserta didik. Komponen pembelajaran abad 

21 yang meningkat interaksinya satu sama lain,  yaitu: (1) aktifitas instruktur/guru/

mentor/fasilitator, (2) desain pembelajaran  online, (3)  data sebagai sumber belajar 

(big data), dan (4)  strategi pembelajaran online, dan (5)  unjuk kerja peserta didik.

Secara jelas kelima komponen hal tersebut diilustrasikan melalui gambar 1

Gambar 1. Komponen Pokok Pembelajaran Abad 21

Lima tahun terakhir, penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) 

oleh  rumah  tangga  di  Indonesia  menunjukkan  perkembangan  yang  pesat  seiring 

peningkatan persentase penduduk yang menggunakan telepon selular. Berdasarkan 

survei  BPS  perkembangan  penggunaan  TIK  di  Indonesia  terus  meningkat  yang 

disajikan melalui gambar 2.   

10

Gambar 2. Perkembangan Penggunaan TIK di Indonesia

(Sumber Survey Sosial Ekonomi Nasional BPS)

Fenomena lain abad 21 adalah  adanya pergeseran kebutuhan  Sumber Daya 

Manusia (SDM)  yang menggeser SDM berketerampilan tingkat rendah (pekerjaan 

tangan)  dengan pekerjaan  SDM berdaya kreatifitas  tinggi.  Kreatifitas  adalah satusatunya  kemungkinan  bagi  negara  berkembang  untuk  tumbuh  sehingga  Saudara 

selaku  guru  pembelajaran  abad  21  perlu  mengorientasikan  pembelajaran  untuk 

menghasilkan  peserta  didik  yang  berdaya  kreatifitas  tinggi.  Hal  ini  lebih  cepat 

tercapai  manakala  proses  peserta  didik  menjadi  subyek  aktif  mengkontruksi 

pengalaman belajar, berlatih berpikir tingkat tinggi (HOTS), dan mengembangkan 

kebiasaaan  mencipta  (habit  creation).  Contohnya  aplikasi  Go-jek  sebagai  karya 

kreatif anak bangsa Nadiem Makarim yang memanfaatkan potensi big data  mampu 

menghasilkan  produk  ekonomi  kreatif  berbasis  pengetahuan  dan  telah  meraup 

keuntungan  milyaran.  Bill  Gates  yang  memulai  usaha  dari  pemikiran  di  pojok 

gudang yang sempit, Steve Jobs  yang terkenal  jenius dan visioner adalah contohcontoh orang kreatif. Anak-anak Indonesia diyakini mampu melebihi tokoh-tokoh 

tersebut apabila memperoleh pengalaman bermakna dari proses pembelajaran yang 

50,49

51,45

56,92 58,3

59,59

31,75

35,65

41,98

47,22

57,33

14,9

17,14

21,98

25,37

32,34

15,61

17,3

18,71

19,14

19,11

6.00

5,54

4,01

3,49 3,23

0

10

20

30

40

50

60

70

2013 2014 2015 2016 2017

Perkembangan Indikator TIK di Indonesia 

2013-2017

Pengguna telepon seluler

Rumah tangga yang mengakses

Internet

Pengguna internet

11

bermutu  tinggi.  Pembelajaran  abad  21  harus  memiliki  orientasi-orientasi  baru 

pembelajaran abad 21. 

Bishop  (2006)  mengemukakan  orientasi-orientasi  pembelajaran  abad  21 

dalam bentuk berbagai keterampilan abad 21  yang penting dikuasai  peserta didik

untuk  menjadi  warga  negara  dan  insan  yang  kreatif  produktif  di  abad  21  yang 

diilustrasikan melalui gambar 3.

Gambar 3. Kompetensi Abad 21 (Partnersip for 21

st

Century Skills)

Beberapa keterampilan penting abad 21  yang divisualisasikan  pada gambar 3  sangat 

relevan menjadi orientasi pembelajaran di Indonesia sebagai berikut;.  

1.  Berpikir kritis dan penyelesaian masalah (critical thinking and problem solving).

Berpikir  kritis  merupakan  keterampilan  yang  diperlukan  peserta  didik

untuk menghadapi kompleksitas dan ambiguitas informasi yang besar.  Peserta 

didik  perlu dibiasakan untuk berpikir analitis, membandingkan berbagai kondisi, 

dan menarik kesimpulan  untuk  dapat  menyelesaikan masalah.  Hal ini penting 

sebagai  negara  berkembang  yang  masih  mengalami  euforia  teknologi  untuk 

menghindarkan peserta didik dari salah penggunaan informasi, mudah termakan 

berita  hoax, dan  kurang  bertindak teliti.  Hal ini dapat melatih budaya untuk kritis 

dan teliti sejak dini. 

12

2.  Kreatifitas dan inovasi (creativity and innovation). 

Kreatifitas  dan  inovasi  merupakan  kunci  pertumbuhan  bagi  negara 

berkembang.  Kurikulum  2013  memiliki  tujuan  mempersiapkan  manusia 

Indonesia  agar  memiliki  kemampuan  hidup  sebagai  pribadi  yang  beriman, 

produktif, kreatif, inovatif dan afektif.  Kreatifitas akan melahirkan daya tahan 

hidup  dan  menciptakan  nilai  tambah  sehingga  mengurangi  kebiasaan  untuk 

mengeksploitasi  sumber  daya  alam,  namun  berusaha  menciptakan  ekonomi 

kreatif  berbasis  pengetahuan  dan  warisan  budaya.  Pembelajaran  STEAM, 

neuroscience, dan  blended learning  yang dibahas  pada modul  3  adalah  contoh 

pendekatan  pembelajaran  yang  dapat  dipergunakan  untuk  mengembangkan 

kreatifitas. 

3.  Pemahaman lintas budaya (cross-cultural understanding). 

Keragaman budaya di  Indonesia  sangat penting dipahami oleh  peserta 

didik  selain  pengenalan  keragaman  budaya  lintas  negara.  Peserta  didik  harus 

memiliki sikap toleransi dan mengakui eksistensi dan keunikan dari setiap suku 

dan  daerah  yang  ada  di  Indonesia.  Peserta  didik  sering  berinteraksi  dan 

berkomunikasi meallui  media sosial dengan orang dari  berbagai latar belakang 

budaya  dan  adat  istiadat  yang  berbeda.  Pemahaman  kebiasaan,  adat  istiadat, 

bahasa,  keunikan  lintas  budaya  adalah  pengetahuan  sangat  penting  dalam 

melakukan komunikasi dan interaksi agar tidak menimbulkan kesalahpahaman

dan terpelihara rasa persatuan dan kesatuan nasional.

4.  Komunikasi,  literasi  informasi  dan  media  (media  literacy,  information,  and 

communication skill). 

Keterampilan  komunikasi  dimaksudkan  agar  peserta  didik  dapat 

menjalin hubungan dan menyampaikan gagasan dengan baik secara  lisan, tulisan 

maupun  non  verbal.  Literasi  informasi  dimaksudkan  agar  peserta  didik  dapat 

mempergunakan  informasi  secara  efektif  yakni  memahami  kapan  informasi 

diperlukan,  bagaimana  cara  mengidentifikasi,  bagaimana  cara  menentukan 

kredibilitas  dan  kualitas  informasi.  Literasi  media  dimaksudkan  agar  peserta 

didik  mampu  memahami,  menganalisis,  dan  adanya  dekonstruksi 

13

pencitraan media, ada kesadaran cara media dibuat dan diakses sehingga  tidak

menelan mentah-mentah berita dari media. 

5.  Komputer dan literasi Teknologi  Informasi dan Komunikasi  (computing and 

ICT literacy)

Literasi  TIK  mengandung  kemampuan  untuk  memformulasikan 

pengetahuan,  mengekpresikan  diri  secara kreatif dan tepat, serta  menciptakan 

dan menghasilkan informasi bukan sekedar memahami  informasi.  Melek TIK 

memiliki  cakupan  lebih  luas  dari  melek  komputer  bukan  hanya  menguasai 

aplikasi  komputer  kontemporer  namun  termasuk  konsep  dasar  (foundational 

concept) berupa prinsip-prinsip dasar dan ide-ide  berkenaan  dengan komputer, 

jaringan informasi dan kemampuan intelektual (intellectual capabilities) berupa 

kemampuan untuk menerapkan teknologi informasi dalam situasi komplek dan 

berbeda.  Peserta didik  penting pula  dilatih untuk melek data dan  pemograman 

agar mampu  belajar memecahkan  persoalan dalam kehidupan sehari-hari dengan 

pemikiran logis melalui pemanfaatan dan penciptaan program, misalnya belajar 

coding  sejak  sekolah  menengah.  Tentu  berbagai  keterampilan  disesuaikan 

dengan jenjang kemampuan dan tingkat perkembangan peserta didik.

6.  Karir dan kehidupan (life and career skill)

Peserta  didik  akan  berkarya  dan  berkarir  di  masyarakat  dimana  dunia 

kerja memerlukan orang-orang yang mandiri, suka mengambil inisiatif, pandai 

mengelola waktu, dan berjiwa kepemimpinan.  Peserta didik perlu memahami 

tentang pengembangan karir dan bagaimana karir seharusnya  diperoleh melalui 

kerja keras dan sikap jujur. Misalnya pemahaman pentingnya sikap profesional, 

menghargai  kerja  keras,    disiplin,  amanah,  dan  menghindari  praktek-praktek 

kolusi, koneksi, dan nepotisme. 

Keenam  jenis  keterampilan  tersebut perlu dijadikan orientasi pembelajaran 

abad 21.  Keenam keterampilan di atas sesungguhnya bisa dikelompokkan menjadi 

tiga  katagori, yaitu;  (1)  keterampilan belajar dan inovasi  meliputi berpikir  kritis dan 

pemecahan masalah, komunikasi dan  kolaborasi, serta  kreatifitas  dan inovasi, (2) 

literasi digital  meliputi  literasi informasi,  literasi  media, dan literasi  TIK,  dan  (3) 

keterampilan  dalam  karir  dan  kehidupan  meliputi  sikap  luwes  dan  mampu 

14

beradaptasi, inisiatif dan mengarahkan diri, mampu berinteraksi dalam lintas sosial 

budaya, produktif dan akuntabel.  Silahkan Saudara pelajari  lebih lanjut mengenai 

kerangka keterampilan abad 21 dari Partnership melalui link http://bit.ly/32ty4sN.

b.  Karakteristik Peserta Didik Abad 21

Saudara mahasiswa, belum selesai pembahasan mengenai generasi milenial, 

dunia pendidikan kembali harus menyesuaikan dengan kehadiran generasi  z  yaitu 

anak-anak yang lahir setelah tahun 1995.  Generasi z berada pada rentang usia 14-19 tahun  dan  memiliki banyak sebutan seperti generasi I,  Generation Next,  New 

Silent  Generation,  Homelander,  generasi  youtube,  generasi  net,  dan  sebagainya 

(Giunta,  2017).  Shenila  Janmohamed  (2016)  dalam  buku  Generation  M:  Young 

Muslim  Changing  The  World  menyebutnya  dengan  istilah  generasi  M,  yaitu 

kalangan  muda  yang  religius  namun  sekaligus  modern.  Rideout  et.al,  (2010) 

menggunakan istilah generasi M2  dimana pada  usia 8-18 tahun  generasi ini  lebih 

banyak menghabiskan waktu berinteraksi dengan media genre baru (new media) 

seperti  komputer,  internet  dan  video  games.  Generasi  z  besar  kemungkinannya 

tidak  sempat  menjalani  kehidupan  analog,  namun  langsung  masuk  dalam 

lingkungan digital. Silahkan Saudara buktikan dan amati,   jarang dijumpai generasi 

z  masih  mendengarkan  siaran  radio,  memutar  CD,  memutar  kaset  video,  dan 

menonton televisi. Interaksi dengan media generasi sebelumnya (old media) seperti 

televisi, media cetak, dan musik audio mulai berkurang intensitasnya. Fenomena 

ini bukan hanya merubah “apa” yang dipelajari, namun merubah cara “bagaimana” 

generasi z ini mempelajarinya.

Di  Indonesia  generasi  z  bisa dikatagorikan mereka yang lahir  sekitar tahun 

1995  setelah layanan internet pertama oleh Indonet di Indonesia tersedia pada tahun 

1994.  Kesenjangan  digital  tidak  lagi  sekedar  ditentukan  faktor  ekonomi  seperti 

kepemilikan  handphone, namun  lebih  disebabkan perbedaan  tingkat  literasi lintas 

antara  generasi  guru  dan  generasi  peserta  didik.  Seperti  apakah  karakteristik 

generasi z? Mari kita cermati bersama-sama!

1.  Generasi  z  menyukai kebebasan  dalam belajar (self directed learning) mulai 

dari  mendiagnosa  kebutuhan  belajar,  menentukan  tujuan  belajar, 

15

mengidentifikasi  sumber  belajar,  memilih  strategi  belajar,  dan  mengevaluasi 

hasil belajarnya sendiri.

2.  Generasi z suka mempelajari hal-hal baru yang praktis sehingga mudah beralih 

fokus belajarnya meskipun memiliki kecukupan waktu untuk mempelajarinya. 

3.  Merasa nyaman dengan lingkungan  yang terhubung dengan jaringan internet

karena memenuhi hasrat berselancar, berkreasi,  berkolaborasi, dan membantu 

berbagi informasi sebagai bentuk partisipasi. 

4.  Generasi z lebih suka berkomunikasi dengan gambar images, ikon, dan simbolsimbol daripada teks.  Generasi z  tidak betah berlama-lama untuk mendengarkan 

ceramah  guru,  sehingga  lebih  tertarik  bereksplorasi  daripada  mendengarkan 

penjelasan guru.

5.  Memiliki rentang perhatian pendek (short attention span) atau dengan kata lain 

sulit  untuk  berkonsentrasi  dalam  jangka  waktu  lama.  Generasi  z  terbiasa 

bersentuhan  dengan  teknologi  tinggi  dengan  aksesibilitas  cepat  misalnya 

smartphone. Rentang perhatian manusia semakin pendek ada di kisaran 8 detik 

(Glum, 2015).

6.  Berinteraksi  secara  kompleks  dengan  media  seperti  smartphone,  televisi, 

laptop, desktop, dan iPod.  Silahkan  Saudara  amati  adakah fenomena  seorang 

peserta  didik  mengetik  dengan  laptop  sambil  melacak  informasi  lewat 

smartphone sekaligus menonton televisi? 

7.  Generasi  z  lebih  suka  membangun  eksistensi  di  media  sosial  daripada  di 

lingkungan  nyata  dan  cenderung  memilih  menggunakan  aplikasi  seperti 

Snapchat, Secret dan Whisper daripada whatsapp. 

Guna  lebih  memahami  karakteristik  generasi  z  silahkan  Saudara  saksikan 

tayangan  video  di  http://bit.ly/2JXCcuy  kemudian  renungkanlah  apakah  peserta 

didik-peserta  didik  yang  ada  di  daerah  masing-masing  ada  kecenderungan 

karakteristik  yang  sama?  Berdasarkan  video  tersebut  Saudara  renungkan  dan 

pikirkan sejenak, lalu mencoba untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut;

1.  Apakah  Saudara  dalam keseharian menghadapi  peserta didik  yang memiliki 

ciri-ciri serta harapan yang sama dengan yang ada di video? Apabila berbeda 

16

karena  Saudara  bertugas  di  daerah  terpencil,  apakah  fenomena  dalam  video 

diyakini juga akan terjadi pada peserta didik di daerah Saudara? 

2.  Menurut  Saudara  sebaiknya  kita  mempertahankan  cara  mengajar  selama  ini 

atau menyesuaikan dengan melakukan perubahan atau antisipasi?

3.  Apakah  peserta  didik  mengekpresikan  kejenuhannya  dengan  bermain  game 

dan berselancar di dunia maya yang tidak edukatif?

4.  Apakah Saudara menganggap kegemaran generasi z sebagai gangguan  yang 

harus diberhentikan atau dipandang modalitas belajar yang harus disalurkan? 

5.  Perubahan-perubahan  apa  saja  yang  perlu  dilakukan  sesuai  kondisi  Saudara 

dan kondisi peserta didik di daerah masing-masing?

6.  Peran  apa  yang  seharusnya  dilakukan  Saudara  dalam  memfasilitasi  peserta 

didik abad 21?

Silahkan direnungkan dan didiskusikan bersama dengan teman-teman  Saudara. 

Namun,  bagaimanapun  peserta  didik  sulit  menghindarkan  diri  dari  dampak 

teknologi,  dimana  pertumbuhan  penggunaan  perangkat  teknologi  tentu  akan 

meningkat. Generasi muda perlu diarahkan untuk mengambil manfaat maksimal 

dari  TIK  untuk  pembelajaran  tanpa  memasung  kebebasan  namun  justeru 

memberikan saluran ke  arah yang positif. Bukankah  Saudara  tidak  menginginkan 

peserta didik menjadi objek dari teknologi  tanpa bisa mendapatkan manfaat positif? 

Teknologi  di  satu  sisi  memberikan  dampak  negatif  apabila  salah  dalam 

memanfaatkan,  sementara  di  satu  sisi  dapat  meningkatkan  mutu  pembelajaran. 

Banyak kasus peserta didik yang mengalami kecanduan game sehingga mengalami 

gangguan kejiwaan yang merugikan perkembangan peserta didik. Di sinilah peran 

penting Saudara  dalam  membantu peserta didik dalam  menghadapi pembelajaran 

abad 21.  Saudara  guru abad 21 idealnya  canggih, berempati,  mampu  memahami 

peserta didik, selalu  tampil  memesona dan menjadi mitra belajar  yang dekat  bagi 

peserta didik. 

c.  Peran Guru dalam Pembelajaran Abad 21

Saudara mahasiswa, mari kita lanjutkan pembahasan mengenai peran  Saudara 

dalam  pembelajaran  abad  21.  Tentu  peran  guru  abad  21  menjadi  lebih  menarik 

17

sekaligus menjadi  lebih menantang. Kehadiran guru dalam pembelajaran abad 21 

sangat diperlukan untuk menjamin terjadinya proses pembelajaran yang bermakna, 

berkarakter,  dan  memiliki  orientasi  pengembangan  keterampilan-keterampilan 

penting  abad 21.  Saudara disarankan  tidak  sekedar  berfokus  menyajikan  materi, 

fakta,  data,  hasil  riset,  teori,  cerita,  dan  rumus-rumus  semata  karena  cara-cara

demikian akan segera akan menjadi usang. Mengapa? Peserta didik dapat melacak 

informasi  dan  beragam  pengetahuan  memanfaatkan  sumber-sumber  digital

kapanpun dan dimanapun melalui mesin pencari. Bagi Saudara yang masih berada 

di daerah  yang  terpencil dan  tidak  ada  akses  jaringan  tetap perlu mengantisipasi 

karena  dalam waktu dekat semua daerah akan terhubung dengan jaringan internet 

dan  handphone  telah  menjadi bagian hidup keseharian  peserta didik.  Saudara selaku 

guru tetap perlu mengantisipasi perkembangan teknologi dan mentransformasi diri 

dari pembelajaran berpusat pada guru menjadi lebih berpusat pada  peserta didik, 

dimana peserta didik dan Saudara sama-sama aktif.  Saudara penting memberikan 

kesempatan  peserta  didik  mengkontruksi  pengetahuannya  sendiri  melalui 

kesempatan  mengakses “big data” namun tetap dalam  bimbingan  Saudara.  Generasi 

z  akan  cepat  menemukan  berbagai  sumber  belajar  digital  karena  sangat  terbiasa 

mengoperasikan beragam perangkat akses informasi digital. Di satu sisi generasi z

tetap  memerlukan  bantuan  dalam  hal;  (a)  cara  memvalidasi  informasi,  (b)  cara 

mensintesa  informasi,  (c)  cara  mengambil  manfaat  dari  informasi,  (d)  cara 

mengkomunikasikan informasi  kepada orang lain  dengan baik, (e) menggabungkan 

informasi  secara  kolaboratif,  dan  (f)  cara  menggunakan  informasi  untuk 

menyelesaikan masalah yang produktif. 

Aksesibilitas informasi yang semakin mudah mendorong pengembangan dan 

penyesuaian  kurikulum  dengan  porsi  penekanan  pengembangan  keterampilan 

belajar  daripada  sekedar  penyampaian  fakta-fakta.  Contoh  pada  pembelajaran 

dengan tema “peta”  guru dapat mengajukan pertanyaan  “manakah rute terpendek 

dari sekolah menuju kantor kecamatan?” Peserta didik dapat membuka google map

kemudian  mengetikkan  nama  tempat  atau  lokasi  yang  dituju.  Berdasarkan  hasil 

eksplorasi  peserta didik bisa didorong rasa ingin tahunya dengan meminta peserta 

didik  membuka  tayangan  animasi  mobil  sedang  berjalan  menuju  suatu  tempat. 

18

Peserta didik didorong mencari hubungan antara jarak tempuh dan waktu tempuh. 

Elaborasi selanjutnya diarahkan kepada  pembahasan mengenai kondisi lalu lintas, 

kepadatan  lalu lintas,  tips  keselamatan di jalan raya,  sistem  rambu-rambu lalu lintas,

dan  sebagainya.  Ajukan  pertanyaan-pertanyaan  yang  mengarah  pengembangan 

kemampuan berpikir tingkat tinggi, misalnya;

1.  Bagaimana cara mendapatkan rute terpendek dan tercepat?

2.  Jenis kendaraan apa yang paling cocok dipergunakan?

3.  Bagaimana merancang jadwal perjalanan agar terhindar dari kemacetan?

4.  Sistem lalulintas seperti apa yang dapat mengurangi kemacetan di jalan raya? 

Coba  Saudara  perhatikan  apakah  pertanyaan-pertanyaan  di  atas  mendorong 

peserta didik  untuk berpikir tingkat tinggi (High Order Thingking Skill/HOTS)? 

Saudara  tentu ingat taksonomi hasil belajar yang meletakkan kemampuan mencipta 

(create)  merupakan  pengalaman  belajar  yang  paling  tinggi.  Bukankah  mencipta 

merupakan  puncak  hasil  belajar  paling  memuaskan  bagi  manusia?  Bayangkan 

kepuasan yang dirasakan peserta didik  apabila mereka  mampu menciptakan sesuatu 

yang bermanfaat dan mendapatkan banyak apresiasi. 

Upaya pertama yang penting bagi guru adalah merubah cara pandang terhadap 

generasi  z. Guru perlu meyakini bahwa generasi z  memiliki potensi kreatif yang 

dapat  menghasilkan  gagasan  cemerlang  apabila  diberikan  kesempatan  berkreasi. 

Peserta  didik  perlu  diberi  kepercayaan  dalam  melacak,  menemukan,  mengelola, 

menerapkan,  menganalisis,  mensintesis,  mengevaluasi,  dan  menciptakan  sesuatu 

dengan memanfaatkan beragam perangkat dan sumber yang dimiliki.

19

Gambar 4. Taksonomi Belajar Ranah Kognitif

Peserta didik perlu diberi kesempatan berkreasi menjadi produsen pengetahuan dan 

berbagi  pengetahuan  melalui  beragam  media  sosial  seperti  web  blog,  episode 

program di  internet (podcasting),  google drive,  snapchat,  video streaming, audio 

streaming,  dan  sebagainya.  Masyarakat  prosumen  dengan  sendirinya  dapat 

terbentuk  apabila peserta didik  sejak awal  dikondisikan  untuk terbiasa mencipta  dan 

menjadi subyek yang aktif dalam proses pembelajaran. 

Saudara  mungkin  mempertanyakan,  keterampilan  apa  saja  yang  diperoleh 

apabila  peserta  didik  diberikan  kesempatan  memanfaatkan  “big  data”  dengan

berselancar  di  internet?  Peserta  didik  perlu  berlatih  untuk  menjadi  produsen 

pengetahuan  yang mampu  mengungkapkan kembali  informasi dan pengetahuan 

menggunakan  kata-kata sendiri (mem-parafrase), menguji  kredibilitas informasi, 

membuat  atribut  informasi,  memilih  langganan  penyedia  informasi  yang  sesuai, 

memperhalus  kalimat,  mengedit,  mengunggah,  merefleksikan,  membuat  tag, 

menunjukkan lokasi, membangun jaringan, memberi komentar, menguji kebenaran 

informasi  dan  sebagainya.  Banyak  hal  bisa  dipelajari  dan  proses  yang  potensial 

mengembangkan keterampilan peserta didik. 

Bagaimana  dengan  integritas  tanggungjawab,  konsistensi,  dan  integritas? 

Generasi z  belajar dari teman, orang-orang baru, dan  dengan dirinya  sendiri. Ada 

banyak  aktivitas  dan  mode  belajar  potensial  yang  memenuhi  beragam  gaya  dan 

20

preferensi  belajar  generasi  z.  Lakukan  beberapa  hal  sederhana  yang  dapat 

membangun iklim positif bagi generasi z, yaitu;

1.  Kurangi  kebiasaan  berdiri  di  depan  kelas  dan  di  tengah  kelas  sebagai  satusatunya  sumber  dan  pusat  perhatian.  Ingatlah  teknologi  digital  adalah 

infrastruktur belajar yang digemari bagi generasi z. 

2.  Guru lebih berperan dan bertindak sebagai mentor pendamping, pembimbing, 

dan  pelatih  dengan  kebijaksanaan,  pengetahuan,  dan  pengalaman.  Lakukan 

monitoring  kemajuan  dan  pemahaman  konsep-konsep  kunci  hasil  eksplorasi 

oleh  peserta didik  di  dunia digital.  Penuhi  hasrat  peserta didik  berselancar di 

dunia  maya  atau  beraktivitas  nyata  untuk  dapat  menimbulkan  antusiasme. 

Kurangi  kebiasaan  meminta  peserta  didik  sekedar  mendengarkan  penjelasan 

guru.

3.  Memotivasi  peserta  didik  untuk  mencapai  tujuan  yang  telah  dipilih  melalui 

inspirasi-inspirasi baru.  Contohnya guru menyediakan forum berdiskusi secara 

online  melalui instagram, facebook atau whatsapp group  di sore hari  sehingga 

menjadi perbincangan menyenangkan dipagi harinya  atau pertemuan berikutnya. 

4.  Peran guru adalah memberikan saran atas proses dan hasil belajar peserta didik

sehingga  perlu  memfokuskan  diri  kepada  monitoring  proses  belajar  peserta 

didik.  Misalnya  guru  menyediakan  wadah  untuk  mengunggah  karya  peserta 

didik kemudian guru memberikan komentar konstruktif secara berkala.

Kemudian apa  konsekwensinya bagi guru abad 21? Konsekwensinya Saudara

harus  lebih  luwes  membuat  rancangan  pembelajaran  karena  bukan  saja  peserta 

didik  memiliki kebutuhan, minat, aspirasi dan kemampuan yang berbeda, namun 

secara  alamiah  mereka  adalah  generasi  modern  yang  memerlukan  cara  belajar 

berbeda.  Apa dan bagaimana mereka? 

1.  Generasi z  abad 21 memerlukan tugas-tugas dan atau aktivitas pembelajaran 

yang bervariasi.

2.  Abad 21 memerlukan konteks dan lingkungan belajar yang berbeda dengan 

kelas konvensional yaitu lingkungan dunia maya

3.  Transisi dapat dimulai dari kelas  konvensional  dengan  mengubah  metode 

pembelajaran sesuai kebutuhan generasi z  dan dunia masa depan. Perubahan 

21

dimaksud  adalah  menekankan  pengintegrasian  teknologi  ke  dalam  kelas

sesuai kondisi, kesiapan, dan aksesibilitas perangkat TIK.

4.  Perlu dicatat,  jangan lupa memanfaatkan sumber belajar lingkungan fisik 

dan dikombinasikan dengan sumber belajar digital. Ingatlah sumber digital 

bersifat  memperkaya  namun  interaksi  dengan  lingkungan  fisik  adalah 

sumber belajar yang kaya.

Faktor lain yang penting sebagai renungan guru harus benar-benar mencintai 

bidang  ataupun  mata  pelajaran  yang  menjadi  tanggungjawabnya  dan  guru  harus 

mencintai  peserta  didiknya.  Penting  bagi  Saudara  selaku  guru  untuk  mengenal 

berbagai  model  pembelajaran  abad  21  dengan  orientasi-orientasi  barunya  dalam 

membangun  kompetensi.  Pendekatan  utama  adalah  student  center  learning  dan 

paradigma  belajar  kontruktivistik  dengan  guru  tetap  aktif.  Model-model  seperti 

apakah  itu?  Mari  kita  ikuti  pembahasan  berikutnya  mengenai  model-model 

pembelajaran abad 21. 

d.  Model-model Pembelajaran Abad 21

Sebelum  membahas  model-model  pembelajaran  abad  21  ada  baiknya 

dipahami terlebih dahulu kerucut pengalaman belajar Edgar Dale. Hal ini penting 

karena pembelajaran yang mengintegrasikan teknologi atau bahkan dimediasi oleh 

teknologi  tetap  diperuntukkan  bagi  kemaslahatan  peserta  didik  dan  memberikan 

pembelajaran  bermakna.  Pada  anak  usia  dini  tentu  dapat  membantu  menstimuli 

aspek-aspek  perkembangan  sesuai  tugas-tugas  perkembangannya.  Berdasarkan 

kerucut  pengalaman  Edgar  Dale  pengalaman  langsung  tetap  merupakan 

pengalaman  belajar  yang  paling  tinggi,  sehingga  pemanfaatan  sumber-sumber 

digital  tetap  perlu  diikuti  dengan  pengalaman  langsung  denga  memanfaatkan 

sumber belajar fisik.  

22

Gambar 5. Kerucut Pengalaman Belajar 

Berkenaan  dengan  model-model  pembelajaran  abad  21  yang  dipandang

potensial untuk  mengintegrasikan teknologi  dan  luwes  diterapkan pada berbagai 

tingkatan  usia, jenjang pendidikan  dan bidang studi, Saudara  dapat menyesuaikan 

dengan kondisi sekolah. Model-model pembelajaran dimaksud antara lain;

1.  Discovery  learning;  belajar  melalui  penelusuran,  penelitian,  penemuan,  dan 

pembuktian. Contoh dalam pembelajaran guru menugaskan peserta didik untuk 

menelusuri faktor penyebab terjadinya banjir  di daerah setempat.  Peserta didik

bekerja  secara  berkelompok  menelurusi  informasi  dengan  mewawancarai 

penduduk  disertai  pelacakan  informasi  di  internet  (bimbingan  disesuaikan 

tingkatan usia) dan kemudian diminta untuk membuat kesimpulan dilanjutkan 

presentasi.

2.  Pembelajaran  berbasis  proyek;  proyek  memiliki  target  tertentu  dalam  bentuk 

produk  dan  peserta  didik  merencanakan  cara  untuk  mencapai  target  dengan 

dipandu  oleh  pertanyaan  menantang.  Contohnya  pada  peserta  didik  SMK 

Kewirausahaan  diberikan  pertanyaan  produk  kreatif  berbahan  lokal  seperti 

apakah  yang  memiliki  nilai  tambah  secara  ekonomis?  Peserta  didik  bisa 

mengikuti  tahapan  pembelajaran  seperti  eksplorasi  ide,  mengembangkan 

gagasan, merealisasikan gagasan menjadi prototipe produk, melakukan uji coba 

23

produk,  dan  memasarkan  produk.  Pada  prosesnya  peserta  didik  bisa 

memanfaatkan  teknologi  untuk  mencari  informasi  bagi  upaya  pengembangan 

gagasan,  membuat  sketsa  produk  menggunakan  software  tertentu,  menguji 

produk melalui respon pasar dengan google survey dan sebagainya.

3.  Pembelajaran  berbasis masalah dan penyelidikan; belajar berdasarkan masalah 

dengan  solusi  “open  ended”,  melalui  penelusuran  dan  penyelidikan  sehingga 

dapat  ditemukan  banyak  solusi  masalah.  Contohnya  mengatasi  masalah 

pencemaran  udara  akibat  asap  kendaraan  bermotor.  Peserta  didik  bisa 

mengeksplorasi  lingkungan  memanfaatkan  sumber-sumber  fisik  diperkaya 

sumber-sumber  digital,  menggali  pengalaman  orang  lain  atau  contoh  nyata 

penyelesaian masalah dari beragam sudut pandang.  Peserta didik  terlatih untuk 

menghasilkan  gagasan  baru,  kreatif,  berpikir  tingkat  tinggi,  kritis,  berlatih 

komunikasi,  berbagi,  lebih  terbuka  bersosialisasi  dalam  konteks  pemecahan 

masalah.

4.  Belajar  berdasarkan  pengalaman  sendiri  (Self  Directed  Learning/SDL);  SDL 

merupakan proses di mana insiatif belajar dengan/atau tanpa bantuan pihak lain 

dilakukan oleh peserta didik sendiri mulai dari mendiagnosis kebutuhan belajar 

sendiri,  merumuskan  tujuan,  mengidentifikasi  sumber,  memilih  dan 

menjalankan strategi belajar, dan mengevaluasi belajarnya sendiri. Contoh guru 

bisa membantu  peserta didik  mengidentifikasi kebutuhan belajar  peserta didik

atau mulai dari kemampuan apa yang ingin dikuasai. Misalnya ingin menguasai 

cara  melukis  menggunakan  software  corel  draw  maka  guru  bisa  membantu 

peserta  didik  merumuskan  tujuan-tujuan  penting  yang  dapat  membantu 

mencapai tujuannya.  Peserta didik  belajar mandiri mengeskplorasi tutorialnya

melalui youtube, menerapkan, dan mengevaluasi kemampuannya.  

5.  Pembelajaran kontekstual (melakukan); guru mengaitkan materi yang dipelajari 

dengan situasi dunia nyata peserta didik  sehingga memungkinkan peserta didik

menangkap makna dari  yang pelajari, mengkaitkan pengetahuan baru dengan 

pegetahuan dan pengalaman yang sudah dimiliki.  Contoh dalam pembelajaran 

bentuk-bentuk  tulang  daun  guru  menugaskan  kepada  peserta  didik  secara 

berkelompok mengeksplorasi melalui internet. Guru menginginkan peserta didik 

24

dapat  memperoleh  pengalaman  bermakna  yang  mendalam  dan  dapat 

mengkaitkan  apa  yang  dipelajari  dengan  kehidupan  nyata.  Pada  PAUD  dan 

sekolah  dasar  kelas  rendah  bisa  saja  peserta  didik  belum  bisa  membedakan 

secara nyata perbedaan kelenturan dan kekuatan tulang daun dari setiap bentuk 

yang berbeda, sehingga diperlukan pengalaman langsung. 

6.  Bermain peran dan simulasi; peserta didik bisa diajak untuk bermain peran dan 

menirukan adegan, gerak/model/pola/prosedur tertentu. Misalnya seorang  guru 

menggunakan  tayangan video dari  youtube,  peserta didik  diminta mencermati 

alur cerita dan peran dari tokoh-tokoh yang ada kemudian berlatih sesuai tokoh 

yang diperankan. Pada tataran lebih kompleks membuat cerita sendiri kemudian 

memperagakannya dengan bermain peran. 

7.  Pembelajaran kooperatif;  merupakan bentuk pembelajaran berdasarkan faham 

kontruktivistik. Peserta didik berkelompok kecil dengan tugas yang sama saling 

bekerjasama dan membantu untuk mencapai tujuan bersama.

8.  Pembelajaran  kolaboratif;  merupakan  belajar  dalam  tim  dengan  tugas  yang 

berbeda untuk mencapai tujuan bersama.  Pembelajaran kolaboratif lebih cocok 

untuk  peserta didik  yang sudah menjelang dewasa. Kolaborasi bisa dilakukan 

dengan bantuan teknologi misalnya melalui dialog elektronik, teknologi untuk 

menengahi dan memonitor interaksi,  dimana masing-masing pihak memegang 

kendali dirinya dalam berkomunikasi untuk mencapai tujuan bersama. Fasilitasi 

bisa diberikan oleh guru, ketua kelompok pelatih online maupun mentor. 

9.  Diskusi kelompok kecil; diskusi kelompok kecil diorientasikan untuk berbagai 

pengetahuan  dan  pengalaman  serta  untuk  melatih  komunikasi  lompok  kecil 

tujuannya agar peserta didik memiliki ketrampilan memecahkan masalah terkait 

materi pokok dan persoalan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.

Berbagai model pembelajaran di atas memberikan peluang pengintegrasian 

teknologi dalam prosesnya, namun  Saudara  harus memiliki paket pengetahuan yang 

terkait dengan penguasaan konten, penguasaan  aspek  pedagogis dan penguasaan 

aspek  teknologi.  Guna  memudahkan  dan  memberikan  gambaran  cara 

mengintegrasikan  teknologi  telah  dikembangkan  suatu  kerangka  untuk 

pengintegrasian  teknologi  dalam  pembelajaran  yang  dikenal  dengan  TPACK. 

25

Saudara  tentu semakin bersemangat dan penasaran dengan TPACK. Marilah kita 

simak bersama-sama!

e.  TPACK sebagai Kerangka Integrasi Teknologi

Saudara  tentu  sudah  memiliki  pengetahuan  (Knowledge/K)  cara 

membelajarkan  (Pedagogy/P) dan  menguasai materi pembelajaran sesuai bidang 

(Content/C)) dikenal dengan istilah  Pedagogy  Content Knowledge  (PCK). Istilah 

PCK  pertama  kali  diperkenalkan  oleh  Shulman  pada  tahun  1986.  Namun,  PCK 

tidak  sekedar irisan atau gabungan pengetahuan tentang  pedagogi dan penguasaan 

materi  namun  diperkuat  oleh  pengalaman-pengalaman  guru  (tacit  knowledge).

Penelitian menunjukkan persepsi calon guru terhadap TPACK sangat dipengaruhi 

oleh pengalaman mengikuti perkuliahan terkait pengetahuan tentang teknologi dan 

pengetahuan  tentang  pedagogi  dan  teknologi  (Koh,  et.al,  2013)  Perkembangan 

teknologi  informasi  dan  komunikasi  telah  memberikan  pengaruh  besar  terhadap 

proses  pembelajaran  sehingga  abad  21  mendorong  Saudara  untuk  memiliki 

pengetahuan  terkait  teknologi  informasi  dan  komunikasi  (TIK).  Istilah  PCK 

berkembang  menjadi  TPCK  dimana  “T”  adalah  teknologi.  Guna  memudahkan 

penyebutannya  TPCK  dirubah  menjadi  TPACK  dan  berkembang  melibatkan 

banyak domain pengetahuan di dalamnya.

Konsep TPACK melibatkan 7 domain pengetahuan  dikarenakan ada irisan 

atau sintesa baru, yaitu; 

a).  Pengetahuan materi (content knowledge/CK)  yaitu penguasaan  bidang studi 

atau materi pembelajaran. 

b).  Pengetahuan  pedagogis  (pedagogical  knowledge/PK)  yaitu  pengetahuan 

tentang proses dan strategi pembelajaran.

c).  Pengetahuan  teknologi  (technological  knowledge/TK)  yaitu  pengetahuan 

bagaiamana menggunakan teknologi digital.

d).  Pengetahuan  pedagogi  dan  materi  (pedagogical  content  knowledge/PCK)

yaitu gabungan pengetahuan tentang bidang studi atau materi pembelajaran 

dengan proses dan strategi pembelajaran. 

26

e).  Pengetahuan teknologi dan materi (technological content knowledge/TCK)

yaitu  pengetahuan  tentang  teknologi  digital  dan  pengetahuan  bidang  studi 

atau materi pembelajaran. 

f).  Pengetahuan  tentang  teknologi  dan  pedagogi  (technological  paedagogical 

knowledge/TPK)  yaitu  pengetahuan  tentang  teknologi  digital  dan 

pengetahuan mengenai proses dan strategi pembelajaran. 

g).  Pengetahuan  tentang  teknologi,  pedagogi,  dan  materi  (technological, 

pedagogical, content knowledge/TPCK) yaitu pengetahuan tentang teknologi 

digital, pengetahuan tentang proses dan strategi pembelajaran, pengetahuan 

tentang bidang studi atau materi pembelajaran.

TPACK  merupakan  kerangka  pengintegrasian  teknologi  ke  dalam  proses 

pembelajaran yang melibatkan paket-paket pengatahuan tentang teknologi, materi, 

dan  proses  atau  strategi  pembelajaran.  Paket-paket  pengetahuan  bersinggungan 

menghasilkan irisan-  irisan menjadi paket pengetahuan baru seperti  diilustrasikan 

melalui gambar 6.

Gambar 6. TPACK kerangka integrasi teknologi dalam pembelajaran

PCK,  TPK,  dan  TCK  merupakan  paket  pengetahuan  yang  berlaku  umum 

tidak merujuk kepada  bidang studi atau  materi pelajaran secara spesifik  sehingga 

bersifat  sebagai  kerangka  yang  umum.  TPCK  sintesa  pengetahuan  guru  sesuai 

konteks, sehingga guru bisa mengajarkan materi tertentu menggunakan teknologi 

27

pembelajaran  untuk  memudahkan  proses  belajar  peserta  didik.   Ketiga  paket 

pengetahuan  yaitu  PCK,  TPK,  dan  TCK  sebenarnya  merupakan  satu  paket 

pengetahuan yang tidak terpisah disebut Total PACKage atau  disebut TPACK yang 

diperkenalkan  oleh  Mishra  &  Koesler  (2007),   selain  untuk  memudahkan 

penyebutannya.    Saudara  tentunya masih ingat bahwa TPACK ini masih merupakan 

kerangka umum sehingga Saudara selaku guru harus menterjemahkannya ke dalam 

tataran  praktis.  Saudara  tidak  perlu  khawatir  karena  Yeh  et.al  (2014)  mencoba 

memberikan  gambaran  penerapan  secara  praktis.  Disamping  itu  pada  modul  4 

Saudara  akan  diberikan  contoh  penerapannya  secara  nyata  dalam  pembelajaran. 

Adapun  gambaran  penerapan  secara  praktis  TPACK  menurut  Yeh  et.al  (2014) 

melibatkan 8 domain pengetahuan seperti divisualkan melalui gambar 7. 

Gambar 7. Kerangka Integrasi Teknologi TPACK secara Praktis 

Berdasakan  gambar  7  kemungkinan  penerapan  TPACK  dapat  mencakup  8 

domain  yang  mencakup  5  area  yaitu  bidang  studi,  peserta  didik,  kurikulum, 

28

penilaian, dan praktek mengajar.    Ke delapan domain untuk penerapan TPACK 

secara praktis adalah:

(1)  Menggunakan TIK untuk menilai peserta didik. Contoh  Saudara  menggunakan 

Microsoft excel untuk mengolah nilai, menggunakan kuis online untuk menilai 

partisipasi  peserta didik, menggunakan  grup  chatting  untuk memahami cara 

berkomunikasi melalui medsos dan sebagainya.

(2)  Menggunakan  TIK  untuk  memahami  materi  pembelajaran.  Contohnya 

mengemas  materi  abstrak  ke  dalam  animasi  video,  mensimulasikan  prinsip 

kerja mesin menggunakan animasi, memberikan rujukan tautan untuk  belajar 

lebih lanjut dan sebagainya.

(3)  Mengintegrasikan  TIK  untuk  memahami  peserta  didik.  Contohnya  meminta 

peserta  didik  memvisualisasikan  idenya  menggunakan  corel  draw, 

menggunakan  whatsapp atau email untuk menampung keluhan peserta didik, 

menyediakan forum konsultasi secara online dan sebagainya

(4)  Mengintegrasikan  TIK  dalam  rancangan  kurikulum  termasuk  kebijakan. 

Contohnya  melibatkan  guru  dalam  pengembangan  sumber  belajar  digital, 

diskusi rutin pengembangan konten digital, memasukkan program peningkatan 

melek TIK bagi guru dan sebagainya

(5)  Mengintegrasikan TIK untuk menyajikan data. Contohnya menggunakan TIK 

untuk menyajikan data akademik, data induk peserta didik, data mutasi peserta 

didik, membuat grafik dan sebagainya

(6)  Mengintegrasikan  TIK  dalam  strategi  pembelajaran.  Contohnya 

mengembangkan pembelajaran berbasis web, mengelola forum diskusi online, 

melaksanakan  teleconference,  menggunakan  video  pembelajaran  untuk 

memotivasi peserta didik  dan sebagainya.

(7)  Menerapkan TIK untuk pengelolaan  pembelajaran. Contohnya menggunakan 

TIk  untuk  presensi  online,  memasukkan  dan  mengolah  nilai  peserta  didik, 

menggunakan sistem informasi akademik dan sebagainya.

(8)  Mengintegrasikan  TIK  dalam  konteks  mengajar.  Contohnya  menyediakan 

pilihan pembelajaran berbasis online, menciptakan lingkungan pembelajaran 

29

yang  kaya  sumber  digital,  memanfaatkan  sumber  belajar  berbasis  teknologi 

dan sebagainya. 

Berdasarkan contoh-contoh pengintegrasian TIK dengan kerangka TPACK 

sebaiknya  disesuaikan  dengan  kondisi  dan  kesiapan  sekolah.  Saudara  tentu 

memiliki pengetahuan formal, pengalaman, cara pandang, dan sistem kepercayaan 

mengenai  teknologi.  Saudara  tetap  harus  meletakkan  karakteristik  peserta  didik

sebagai pijakan dalam menentukan strategi pembelajaran. Karakteristik generasi z 

yang  akkrab  dengan  teknologi  dan  dunia  digital  sebaiknya  dipandang  sebagai 

modalitas belajar sehingga guru bersikap bijak dalam mengintegrasikan TIK dalam 

kelas.  Saudara  perlu memahami bahwa dengan  memanfaatkan kerangka TPACK 

harus menjadi bagian upaya mentransformasi diri menuju sosok ideal guru abad 21

yang akan kita bahas pada bagian lain modul ini. 

Saudara  harus optimis mampu memperkaya lingkungan kelas menjadi lebih 

bermakna.  Saudara  saat  ini  sudah  mendapatkan  gambaran  umum  dan  praktis 

penggunaan TPACK. Saat ini  Saudara  disampaikan tips yang dapat dilakukan untuk 

mulai mentransformasi kelas kita masing-masing dari hal-hal yang sederhana. 

1.  Lakukan  refleksi  diri  (ikuti  langkah-langkah  berefleksi  yang  ada  di  Modul  2 

Kegiatan  Belajar  4)  terkait  kompetensi  diri  Saudara  selaku  guru.  Jawablah 

pertanyaan-pertanyaan berikut ini: 

a.  Sejauhmana kompetensi Saudara pada aspek pedagogi untuk abad 21?

b.  Sejauhmana kompetensi Saudara pada aspek teknologi untuk abad 21?

c.  Sejauhmana penguasaan materi Saudara untuk pembelajaran abad 21?  

2.  Lakukan  pengamatan  kondisi  peserta  didik  dan  ketersediaan  perangkat  akses 

sumber  digital  sehingga  perlu  melibatkan  dengan  orangtua.  Saudara  perlu 

memanfaatkan  modalitas  belajar  generasi  z  untuk  diarahkan  kepada  kegiatan 

belajar produktif  sekaligus membangun budaya  pemanfaatan  perangkat digital 

yang baik.  Perbanyak  penyajian visual  daripada verbal dan kemas  materi ke 

dalam  segmen-segmen  kecil  yang  praktis,  gunakan  waktu-waktu  senggang 

peserta didik yang rawan bermain game dengan tugas pembelajaran berbasis 

TIK yang menarik.   

30

3.  Pilih topik pembelajaran yang abstrak,  sulit  diamati langsung,  bersifat kompleks, 

dan atau materi yang mengandung  cara kerja sistemik  untuk disajikan dengan 

dukungan  perangkat  TIK  sehingga  memberi  nilai  tambah.  Misalnya  materi 

sistem  tata surya,  sistem  peredaran darah,  proses  kondensasi,  rantai makanan 

dalam ekosistem, logika kerja hukum permintaan dan sebagainya.

4.  Identifikasi konten pembelajaran yang apabila disajikan dalam bentuk lain lebih 

mudah datau dengan kata lain  sulit jika disajikan secara  konvensional. Contoh 

menjelaskan transformasi data, analisis multimodal, penyajian data simultan dan 

sebagainya

5.  Identifikasi  taktik  mengajar  yang  tidak  mungkin  disajikan  dengan  cara  lain 

misalnya ide-ide yang tidak ada di dunia nyata. Misalnya eksplorasi dunia maya

masa depan,  kota bawah laut, simulasi  prinsip kerja, pemodelan, dan sebagainya. 

TIK  dapat  pula  untuk  mewadahi  dan  memvisualisasikan  gagasan  imajinatif 

peserta didik.

6.  Gunakan komputer dan atau perangkat TIK dengan menempatkan peserta didik

sebagai subyek aktif dan terbiasa bekerja secara berkelompok. Contoh kegiatan

menggunakan  model  pembelajaran  kooperatif  dalam  mengeksplorasi  sumber 

digital, mengamati, menilai, menemukan, dan memecahkan masalah.

Marilah  Saudara  mahasiswa  untuk  meningkatkan  pemahaman,  Saudara 

saksikan  tayangan video  contoh  model pembelajaran  yang  mengintegrasikan TIK 

dalam proses belajar mengajar di kelas  dari suatu sekolah yang berada di Propinsi 

Bali  dari  link  http://bit.ly/2WRA1xQ.  Bagaimana  menurut  Saudara?  Itu  adalah 

contoh  sederhana  sehingga  Saudara  bisa  memiliki  gambaran  pengintegrasian 

teknologi  untuk ruang-ruang kelas  Saudara.  Rancangan pembelajaran  nampaknya 

perlu  disusun  lebih  luwes  mengingat  peserta  didik  memiliki  kebutuhan,  minat, 

aspirasi dan kemampuan yang berbeda. Selain itu  secara alamiah mereka adalah 

generasi z, generasi yang memerlukan cara belajar berbeda.

No comments:

Post a Comment

Soal KARAKTERISTIK PEMBELAJARAN ABAD 21

 1.  Pernyataan  berikut  yang  merupakan  fenomena  pembelajaran  abad  21  yang  menyebabkan era disrupsi pendidikan adalah….. 1.  Semakin...