Monday, 8 May 2023

TEORI BELAJAR DAN IMPLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN

 a.  Teori belajar Behavioristik dan implikasinya dalam pembelajaran

1)  Pandangan Teori Belajar Behavioristik

Saudara  mahasiswa,  Anda  sudah  tidak  asing  lagi  dengan  teori 

belajar behavioristik bukan? Mungkin saja teori ini sudah sangat sering kita 

terapkan dalam praktik pendidikan  yang kita laksanakan. Tahukah Anda, 

istilah  apakah  yang  sering  digunakan  untuk  menyebut  teori  belajar 

behavioristik?  Ya,  tepat  sekali.  Teori  belajar  behavioristik  dikenal  juga 

dengan teori belajar perilaku, karena analisis yang dilakukan pada perilaku 

yang tampak, dapat diukur, dilukiskan dan diramalkan. Belajar merupakan 

perubahan  perilaku  manusia  yang  disebabkan  karena  pengaruh 

lingkungannya. Behaviorisme hanya ingin mengetahui bagaimana perilaku 

individu  yang belajar dikendalikan oleh faktor-faktor lingkungan,  artinya

lebih  menekankan  pada  tingkah  laku  manusia.  Teori  ini  memandang 

individu  sebagai  makhluk  reaktif  yang  memberi  respon  terhadap 

lingkungannya  (Schunk,  1986).  Pengalaman  dan  pemeliharaan  akan 

pengalaman tersebut akan membentuk perilaku individu yang belajar. Dari 

hal ini, munculah konsep “manusia mesin” atau Homo mechanicus (Ertmer 

& Newby, 1993). 

Behavioristik  memandang  bahwa  belajar  merupakan  perubahan 

tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antar stimulus dan respon

(Robert,  2014).  Sehingga,  dapat  kita  pahami  bahwa  belajar  merupakan 

bentuk  dari  suatu  perubahan  yang  dialami  peserta  didik  dalam  hal 

kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil 

interaksi  antara  stimulus  dan  respon.  Peserta  didik  dianggap  telah 

melakukan  belajar  jika  dapat  menunjukkan  perubahan  tingkah  lakunya. 

Contohnya,  peserta  didik  dapat  dikatakan  bisa  membaca  jika  ia  mampu 

menunjukkan kemampuan membacanya dengan baik.

Menurut teori behavioristik, apa yang terjadi di antara stimulus dan 

respon  dianggap  tidak  penting  untuk  diperhatikan  karena  tidak  dapat 

diamati dan tidak dapat diukur,  yang dapat diamati hanyalah stimulus dan 

87

respons. Oleh sebab itu, apa saja yang diberikan guru  merupakan stimulus, 

dan  apa  saja  yang  dihasilkan  peserta  didik  merupakan  respon,  semuanya 

harus  dapat  diamati  dan  dapat  diukur.  Behavioristik  mengutamakan 

pengukuran,  sebab  pengukuran  merupakan  suatu  hal  yang  penting  untuk 

melihat terjadi tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.

Ciri  dari  teori  ini  adalah  mengutamakan  unsur-unsur  dan  bagian 

kecil, bersifat mekanistis, menekankan peranan lingkungan, mementingkan 

pembentukan  reaksi  atau  respon,  menekankan  pentingnya  latihan, 

mementingkan  mekanisme  hasil  belajar,  mementingkan  peranan 

kemampuan  dan  hasil  belajar  yang  diperoleh  adalah  munculnya  perilaku 

yang  diinginkan.  Pada  teori  belajar  ini  sering  disebut  S-R   (Stimulus  –

Respon) psikologis artinya bahwa tingkah laku manusia dikendalikan oleh 

ganjaran atau  reward  dan penguatan atau  reinforcement  dari lingkungan. 

Dengan  demikian  dalam  tingkah  laku  belajar  terdapat  jalinan  yang  erat 

antara  reaksi-reaksi  behavioural  dengan  stimulusnya.  Pendidik  yang 

menganut  pandangan  ini  berpandapat  bahwa  tingkah  laku  peserta  didik 

merupakan reaksi terhadap lingkungan dan tingkah laku adalah hasil belajar. 

Behaviorisme, pertama kali didefinisikan dengan jelas oleh Watson 

seorang  ahli  bidang  psikologi  yang  fokus  pada  peran  pengalaman  dalam 

mengatur perilaku (Robert, 2014), dalam kajian ini akan dibahas beberapa 

tokoh behavioristik.  Tokoh-tokoh aliran behavioristik di antaranya adalah 

Thorndike, Watson, Clark Hull, Edwin Guthrie, dan Skiner. Pada dasarnya 

para penganut aliran behavioristik setuju dengan pengertian belajar  seperti 

yang telah dikemukakan  di atas, namun ada beberapa perbedaan pendapat 

di antara mereka. Untuk lebih jelasnya, mari kita kaji bersama paparan para 

tokoh berikut : 

88

a)  Edward Lee Thorndike (1871-1949)

Saudara  mahasiswa,  mari  kita  memulai 

kajian tentang teori belajar yang dikemukakan 

oleh ahli teori belajar terbesar sepanjang masa 

Edward  Lee  Thorndike.  Dia  bukan  hanya 

merintis  karya  besarnya  dalam  teori  belajar 

tetapi  juga  dalam  bidang  psikologi 

pendidikan, dan yang menarik beliau memulai 

proyek risetnya saat sudah berusia lebih dari 

60 tahun (Hergenhahn & Olson, 2001).

Thorndike  dikenal  dengan  percobaannya  dengan  menggunakan 

kucing dan kotak puzzle  (Robert, 2014). Dalam percobaannya, Thorndike 

menempatkan kucing dalam kotak yang dilengkapi dengan peralatan  (tuas, 

pedal dan  knob) yang akan memungkinkan kucing tersebut keluar dari kotak 

dan  mendapatkan  makanan  yang  ditempatkan  tepat  di  luar  pintu.  Untuk 

mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif terkait teori Thorndike, 

Anda dapat belajar pada link berikut : http://bit.ly/2JCtFwT 

Dari hasil eksperimennya Thorndike mengemukakan bahwa belajar 

adalah proses interaksi antara stimulus (S) dan respon (R). dari pengertian 

tersebut  didapatkan  bahwa  wujud  tingkah  laku  tersebut  bisa  saja  diamati 

atau  tidak  dapat  diamati  (Robert,  2014).  Teori  belajar  Thorndike  disebut 

sebagai aliran Koneksionisme (Connectionism).

Menurut Thorndike, belajar dapat dilakukan dengan mencoba-coba 

(trial  and  error),  dimana  proses  mencoba-coba  dilakukan  bila  seseorang 

tidak  tau  bagaimana  harus  memberikan  respon  atas  sesuatu  karena 

89

kemungkinan akan ditemukan respon yang tepat berkaitan dengan masalah 

yang  dihadapi.  Thorndike  juga  mengemukakan  beberapa  hukum  tentang 

belajar (Gredler & Margaret, 2009).

1.  Hukum kesiapan (Law of Readiness)

2.  Hukum latihan (Law of Excercise)

3.  Hukum akibat (Law of Effect)

b)  Jhon Broades Watson (1878-1958)

Saudara  mahasiswa,  Watson  dikenal 

sebagai pendiri aliran Behaviorisme di Amerika 

Serikat  berkat  karyanya  yang  begitu  dikenal 

“Psychology  as  the  behaviorist  view  it”

(Ertmer  &  Newby,  1993).  Belajar  menurut 

Watson adalah proses interaksi antara stimulus 

dan  respon,  namun  stimulus  dan  respon  yang 

dimaksud  harus  berbentuk  tingkah  laku  yang 

dapat  diamati  (observabel)  dan  dapat  diukur.  Artinya,  walaupun  ia 

mengakui adanya perubahan-perubahan mental dalam diri seseorang selama 

proses belajar, namun ia menganggap hal-hal tersebut sebagai faktor yang 

tak perlu diperhitungkan.  Ia tetap mengakui bahwa perubahan-perubahan 

mental dalam benak peserta didik itu penting, namun semua itu tidak dapat 

menjelaskan apakah seseorang telah belajar atau belum karena tidak dapat 

diamati.

Teori yang dikembangkan oleh Watson ialah  Conditioning.  Teori

conditioning berkesimpulan bahwa perilaku individu dapat dikondisikan. Ia 

percaya  dengan  memberikan  kondisi  tertentu  dalam  proses  pembelajaran 

maka akan dapat membuat peserta didik memiliki sifat-sifat tertentu.  Belajar 

merupakan suatu upaya untuk mengkondisikan (perangsang) yang berupa 

pembentukan  suatu  perilaku  atau  respons  terhadap  sesuatu.  Watson  juga 

percaya  bahwa  kepribadian  manusia  yang  terbentuk  melalui  berbagai 

macam conditioning dan berbagai macam refleks.  

90

Beberapa  pandangan  Watson  yang  dihasilkan  dari  serangkaian 

eksperimennya dapat dijelaskan sebagai berikut :

1.  Belajar  adalah  hasil  dari  adanya  Stimulus  dan  Respon  (S  –  R). 

Stimulus merupakan objek di lingkungan, termasuk juga perubahan 

jaringan  dalam  tubuh.  Sedangkan  respon  adalah  apapun  yang 

dilakukan sebagai jawaban dari stimulus, respon mulai dari tingkat 

sederhana hingga tingkat yang tinggi. 

2.  Perilaku  manusia  adalah  hasil  belajar  sehingga  unsur  lingkungan 

sangat  penting.  Hal  ini  dikarenakan  Watson  tidak  mempercayai 

unsur keturunan (herediter) sebagai penentu perilaku.

3.  Kebiasaan  atau  habits  merupakan  dasar  perilaku  yang  ditentukan 

oleh 2 hukum utama yaitu kebaruan (recency) dan frequency. 

4.  Pandangannya tentang  ingatan atau  memory, menurutnya apa yang 

diingat dan dilupakan ditentukan oleh seringnya sesuatu digunakan 

atau dilakukan dan factor yang menentukan adalah kebutuhan.

Pandangan-pandangan  tersebut  semakin  meyakinkan  bahwa  para 

tokoh  aliran  behavioristik  cenderung  untuk  tidak  memperhatikan  hal-hal 

yang  tidak  dapat  diukur  dan  tidak  dapat  diamati,  seperti  perubahanperubahan mental yang terjadi ketika belajar, walaupun demikian mereka 

tetap mengakui hal itu penting. Untuk mempelajari lebih dalam tentang teori 

ini, dapat diakses melalui link berikut: http://bit.ly/2qZk8cS

91

c)  Edwin Ray Guthrie (1886-1959)

Saudara  mahasiswa,  seperti  halnya 

tokoh  behavioristik  lainnya  Edwin 

Guthrie  juga  menggunakan  variabel 

hubungan  stimulus  dan  respon  untuk 

menjelaskan  terjadinya  proses  belajar. 

Namun  Guthrie  mengemukakan  bahwa 

stimulus tidak harus berhubungan dengan 

kebutuhan  atau  pemuasan  biologis 

semata.  Dijelaskannya  bahwa  hubungan 

antara  stimulus  dan  respon  cenderung 

hanya bersifat sementara, oleh sebab itu dalam kegiatan belajar peserta didik 

perlu sesering mungkin diberikan stimulus agar hubungan antara stimulus 

dan respon bersifat lebih tetap.  Guthrie  mengemukakan, agar respon yang 

muncul sifatnya lebih kuat dan bahkan menetap, maka diperlukan berbagai 

macam stimulus  yang berhubungan dengan respon tersebut. Guthrie juga 

percaya bahwa hukuman  (punishment)  memegang peranan penting dalam 

proses belajar. Hukuman yang diberikan pada saat yang tepat akan mampu 

merubah kebiasaan dan perilaku seseorang. 

Coba kita simak contoh berikut; seorang anak laki-laki yang setiap 

kali  pulang  dari  sekolah  selalu  meletakkan  baju  dan  topinya  di  lantai. 

Kemudian ibunya menyuruh agar baju dan topi dipakai oleh anaknya, lalu 

kembali keluar, dan masuk rumah kembali sambil menggantung topi dan 

bajunya di tempat gantungannya. Setelah beberapa kali melakukan hal itu, 

respons  menggantung  topi  dan  baju  menjadi  terasosiasi  dengan  stimulus 

memasuki rumah. 

92

d)  Burrhusm Frederic Skinner (1904-1990)

Saudara  mahasiswa,  tahu  kah  Anda 

bahwa  Skinner  merupakan  tokoh 

behavioristik  yang  paling  banyak 

diperbincangkan  dibandingkan  dengan 

tokoh  lainnya?  Penyebabnya  adalah 

bahwa  konsep-konsep yang dikemukakan 

oleh  Skinner  tentang  belajar  mampu 

mengungguli  konsep-konsep  lain  yang 

dikemukakan oleh para tokoh sebelumnya. Ia mampu menjelaskan konsep 

belajar  secara  sederhana,  namun  dapat  menunjukkan  konsepnya  tentang 

belajar secara lebih komprehensif.

Pada dasarnya stimulus-stimulus yang diberikan kepada seseorang 

akan saling berinteraksi dan interaksi antara stimulus-stimulus tersebut akan 

mempengaruhi bentuk respon yang akan  diberikan. Demikian juga dengan 

respon  yang  dimunculkan  inipun  akan  mempunyai  konsekuensi konsekuensi.  Konsekuensi-konsekuensi  inilah  yang  pada  gilirannya  akan 

mempengaruhi atau menjadi pertimbangan munculnya perilaku. Oleh sebab 

itu, untuk memahami tingkah laku seseorang secara benar, perlu terlebih 

dahulu  memahami  hubungan  antara  stimulus  satu  dengan  lainnya,  serta 

memahami respon yang mungkin dimunculkan dan berbagai konsekuensi 

yang mungkin akan timbul sebagai akibat dari respon tersebut. Skinner juga 

mengemukakan bahwa dengan menggunakan perubahan-perubahan mental 

sebagai  alat  untuk  menjelaskan  tingkah  laku  hanya  akan  menambah 

rumitnya masalah. Sebab, setiap alat yang digunakan perlu penjelasan lagi, 

demikian seterusnya.

Pandangan  teori  belajar  behavioristik  ini  cukup  lama  dianut  oleh 

para guru. Namun dari semua pendukung teori ini, teori Skinner  lah yang 

paling  besar  pengaruhnya  terhadap  perkembangan  teori  belajar 

behavioristik.  Asumsi  dasar  dalam  toeri  belajar  menurut  Skinner,  yaitu 

belajar  merupakan  perilaku  dan  perubahan-perubahan  perilaku  yang 

93

tercermin  dalam  kekerapan  respon  yang  merupakan  fungsi  dari  kejadian 

dalam  lingkungan  kondisi.  Program-program  pembelajaran  seperti 

Teaching  Machine,  Pembelajaran  berprogram,  modul,  dan  programprogram pembelajaran lain yang berpijak pada konsep hubungan stimulus–

respons  serta  mementingkan  faktor-faktor  penguat  (reinforcement), 

merupakan program-program pembelajaran yang menerapkan teori belajar 

yang dikemukakan oleh Skinner.

Teori Skinner dikenal dengan “operant conditioning”, dengan enam 

konsepnya,  yaitu:  penguatan  positif  dan  negatif,  shapping,  pendekatan 

suksetif,  extinction,  chaianing of respon, dan jadwal penguatan. Skinner dan 

tokoh-tokoh  lain  pendukung  teori  behavioristik  memang  tidak 

menganjurkan  digunakannya  hukuman  dalam  kegiatan  belajar.  Menurut 

Skinner,   hukuman  bukan  merupakan  teknik  yang  bisa  diandalkan  untuk 

mengontrol perilaku di samping juga cenderung menghasilkan efek samping 

yang merugikan (Hill, 2009). Lebih baik tidak menggunakan hukuman jika 

ada alternatif yang efektif dan menyenangkan (misalnya penguatan perilaku 

yang  dikehendaki).  Saudara  mahasiswa  untuk  lebih  mengetahui  tentang 

pendapat  Skinner  terkait  dengan  hukuman  Anda  dapat  mengakses  link 

berikut: http://bit.ly/31ZRZzg

2)  Impliaksi Teori Behavioristik dalam Kegiatan Pembelajaran

Saudara  mahasiswa,  setelah  mengkaji  tentang  teori  behavioristik 

maka kita ketahui bahwa istilah-istilah seperti hubungan stimulus-respon, 

individu atau peserta didik pasif, perilaku sebagai hasil belajar yang tampak, 

pembentukan  perilaku  (shaping)  dengan  penataan  kondisi  secara  ketat, 

reinforcement dan hukuman, ini semua merupakan unsur-unsur yang sangat 

penting.  Teori  ini  hingga  sekarang  masih  mendominasi  praktek 

pembelajaran  di  Indonesia.  Hal  ini  tampak  dengan  jelas  pada 

penyelenggaraan pembelajaran dari tingkat paling dini, seperti Kelompok 

bermain, Taman Kanak-kanak, Sekolah-Dasar, Sekolah Menengah, bahkan 

Perguruan  Tinggi,  pembentukan  perilaku  dengan  cara  pembiasaan  (drill) 

94

disertai dengan  hukuman  atau  reinforcement  masih sering dilakukan. Mari 

kita  kaji  bersama  bagaimanakah  implikasi  dari  teori  behavioristik  dalam 

kegiatan pembelajaran?

Implikasi  teori  behavioristik  dalam  kegiatan  pembelajaran 

tergantung  dari  beberapa  hal  seperti;  tujuan  pembelajaran,  sifat  materi 

pelajaran, karakteristik peserta didik, media dan fasilitas pembelajaran yang 

tersedia. Pembelajaran yang dirancang dan dilaksanakan berpijak pada teori 

behavioristik memandang bahwa pengetahuan adalah obyektif, pasti, tetap, 

tidak berubah. Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi, sehingga belajar 

adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah memindahkan 

pengetahuan  ke  orang  yang  belajar  atau  peserta  didik.  Peserta  didik 

diharapkan  akan  memiliki  pemahaman  yang  sama  terhadap  pengetahuan 

yang diajarkan. Artinya, apa yang dipahami oleh  pendidik  atau guru itulah 

yang harus dipahami oleh murid.

Fungsi  mind  atau  pikiran  adalah  untuk  menjiplak  struktur 

pengetahuan yang sudah ada melalui proses berpikir yang dapat dianalisis 

dan dipilah, sehingga makna yang dihasilkan dari proses berpikir seperti ini 

ditentukan  oleh  karakteristik  struktur  pengetahuan  tersebut.  Karena  teori 

behavioristik memandang bahwa sebagai sesuatu yang ada di dunia nyata 

telah  tersetruktur  rapi  dan  teratur,  maka  peserta  didik  atau  orang  yang 

belajar harus dihadapkan pada aturan-aturan yang jelas dan ditetapkan lebih 

dulu secara ketat. Pembiasaan dan disiplin  menjadi sangat esensial dalam 

belajar, sehingga pembelajaran lebih banyak dikaitkan dengan penegakan 

disiplin. Kegagalan atau ketidakmampuan dalam penambahan pengetahuan 

dikategorikan  sebagai  kesalahan  yang  perlu  dihukum,  dan  keberhasilan 

belajar atau kemampuan dikategorikan sebagai bentuk perilaku yang pantas 

diberi  hadiah.  Demikian  juga,  ketaatan  pada  aturan  dipandang  sebagai 

penentu keberhasilan belajar. Peserta didik atau peserta didik adalah obyek 

yang harus berperilaku sesuai dengan aturan, sehingga kontrol belajar harus 

dipegang oleh sistem yang berada di luar diri peserta didik. 

95

Tujuan pembelajaran menurut teori behavioristik ditekankan pada 

penambahan pengetahuan, sedangkan belajar sebagai aktivitas  “mimetic”, 

yang menuntut peserta didik untuk mengungkapkan kembali pengetahuan 

yang sudah dipelajari dalam bentuk laporan, kuis, atau tes. Penyajian isi atau 

materi  pelajaran  menekankan  pada  ketrampilan  yang  terisolasi  atau 

akumulasi fakta mengikuti urutan dari bagian ke keseluruhan. Pembelajaran 

mengikuti urutan kurikulum secara ketat, sehingga aktivitas belajar lebih 

banyak  didasarkan  pada  buku  teks/buku  wajib  dengan  penekanan  pada 

ketrampilan  mengungkapkan  kembali  isi  buku  teks/buku  wajib  tersebut. 

Thorndike  (Schunk,  2012)  kemudian  merumuskan  peran  yang  harus 

dilakukan guru dalam proses pembelajaran, yaitu:

1.  Membentuk kebiasaan peserta didik. Jangan berharap kebiasaan itu 

akan terbentuk dengan sendirinya.

2.  Berhati-hati  jangan  sampai  membentuk  kebiasaan  yang  nantinya 

harus  diubah,  karena  mengubah  kebiasaan  yang  telah  terbentuk 

adalah hal yang sangat sulit.

3.  Jangan  membentuk  kebiasaan  dengan  cara  yang  sesuai  dengan 

bagaimana kebiasaan itu akan digunakan.

4.  Bentuklah  kebiasaan  dengan  cara  yang  sesuai  dengan  bagaimana 

kebiasaan itu akan digunakan.

Evaluasi  menekankan  pada  respon  pasif,  ketrampilan  secara 

terpisah, dan biasanya menggunakan  paper and pencil test. Evaluasi hasil 

belajar  menuntut  satu  jawaban  benar.  Maksudnya,  bila  peserta  didik 

menjawab  secara  “benar”  sesuai  dengan  keinginan  guru,  hal  ini 

menunjukkan  bahwa  peserta  didik  telah  menyelesaikan  tugas  belajarnya. 

Evaluasi  belajar  dipandang  sebagai  bagian  yang  terpisah  dari  kegiatan 

pembelajaran,  dan  biasanya  dilakukan  setelah  selesai  kegiatan 

pembelajaran.  Teori  ini  menekankan  evaluasi  pada  kemampuan  peserta 

didik secara individual.

Salah satu contoh pembelajaran behavioristik adalah pembelajaran 

terprogram (PI/Programmed Instruction), dimana pembelajaran terprogram 

96

ini  merupakan  pengembangan  dari  prinsip-prinsip  pembelajaran  Operant 

conditioning yang di bawa oleh Skinner. Schunk (2012) menyatakan bahwa 

pembelajaran terprogram  melibatkan beberapa prinsip pembelajaran. Dalam 

pembelajaran  terprogram,  materi  dibagi  menjadi  frame-frame  secara 

berurutan yang setiap frame memberikan informasi dalam potongan kecil 

dan dilengkapi dengan test yang akan direspon oleh peserta didik.

Pada  jaman  modern  ini,  aplikasi  teori  behavioristik  berkembang 

pada  pembelajaran  dengan  powerpoint  dan  multimedia.  Pembelajaran 

dengan  powerpoint, cenderung terjadi satu arah. Materi  yang  disampaikan 

dalam  bentuk  powerpoint  disusun  secara  rinci  dan  bagian-bagian  kecil. 

Sementara  itu  pada  pembelajaran  dengan  multimedia,  peserta  didik 

diharapkan memiliki pemahaman yang sama dengan pengembang, materi 

disusun dengan perencanaan yang rinci dan ketat dengan urutan yang jelas, 

latihan  yang  diberikan  pun  cenderung  memiliki  satu  jawaban  benar. 

Feedback  pada  pembelajaran  dengan  multimedia  cenderung  diberikan 

sebagai  penguatan  dalam  setiap  soal,  hal  ini  serupa  dengan  program 

pembelajaran yang pernah dikembangkan Skinner (Collin, 2012).  Skinner 

mengembangkan  model  pembelajaran  yang  disebut  “teaching  machine” 

yang memberikan feedback kepada peserta didik bila memberikan jawaban 

benar  dalam  setiap  tahapan  dari  pertanyaan  test,  bukan  sekedar  feedback 

pada  akhir  test.  Saudara  mahasiswa  untuk  lebih  mengetahui  tentang 

penerapan implikasi toeri belajar behavioristik dalam proses pembelajaran, 

Anda dapat mempelajari link berikut: http://bit.ly/33rAGsa

b.  Teori belajar Kognitif dan implikasinya dalam pembelajaran

1)  Pandangan Teori Belajar Kognitif

Saudara  mahasiswa,  sekarang  kita  akan  mengkaji  tentang  teori 

belajar  kognitif,  setelah  sebelumnya  kita  telah  membahas  tentang  teori 

belajar  behavioristik.  Teori  belajar  kognitif  tentu  berbeda  dengan  teori 

belajar  behavioristik.  Teori  belajar  kognitif  lebih  mementingkan  proses 

belajar dari pada hasil belajarnya. Para penganut aliran kognitif mengatakan 

97

bahwa  belajar  tidak  sekedar  melibatkan  hubungan  antara  stimulus  dan 

respon.  Jika teori  belajar behavioristik mempelajari proses belajar sebagai 

hubungan stimulus-respon, teori belajar kognitif merupakan suatu bentuk 

teori belajar yang sering disebut sebagai  model perseptual.  Teori  belajar 

kognitif memandang  bahwa tingkah laku seseorang ditentukan oleh persepsi 

serta  pemahamannya  tentang  situasi  yang  berhubungan  dengan  tujuan 

belajarnya.  Belajar  merupakan  perubahan  persepsi  dan  pemahaman  yang 

tidak selalu dapat terlihat sebagai tingkah laku yang nampak.

Menurut  teori  kognitif,  ilmu  pengetahuan  dibangun  dalam  diri 

seseorang  melalui  proses  interaksi  yang  berkesinambungan  dengan 

lingkungan.  Proses  ini  tidak,  terpisah-pisah,  tapi  melalui  proses  yang 

mengalir, bersambung dan menyeluruh ( Siregar & Hartini, 2010). Menurut 

psikologi kognitif, belajar dipandang sebagai usaha untuk mangerti sesuatu. 

Usaha  itu  dilakukan  secara  aktif  oleh  peserta  didik.  Keaktifan  itu  dapat 

berupa  mencari  pengalaman,  mencari  informasi,  memecahkan  masalah, 

mencermati  lingkungan,  mempratekkan  sesuatu  untuk  mencapai  tujuan 

tertentu.  Para  psikolog  kognitif  berkeyakinan  bahwa  pengetahuan  yang 

dimiliki  sebelumnya  sangat  menentukan  keberhasilan  mempelajari 

informasi/pengetahuan yang baru. 

Teori  kognitif  juga  menekankan  bahwa  bagian-bagian  dari  suatu 

situasi  saling  berhubungan  dengan  seluruh  konteks  situasi  tersebut. 

Memisah-misahkan  atau  membagi-bagi  situasi/materi  pelajaran  menjadi 

komponen-komponen yang kecil-kecil  dan mempelajarinya secara terpisahpisah,  akan  kehilangan  makna.  Teori  ini  berpandangan  bahwa  belajar 

merupakan  suatu  proses  internal  yang  mencakup  ingatan,  retensi, 

pengolahan  informasi,  emosi,  dan  aspek-aspek  kejiwaan  lainnya.  Belajar 

merupakan aktifitas yang melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks.

Proses  belajar  terjadi  antara  lain  mencakup  pengaturan  stimulus  yang 

diterima dan menyesuaikannya dengan struktur kognitif yang sudah dimiliki 

dan  terbentuk  di  dalam  pikiran  seseorang  berdasarkan  pemahaman  dan 

pengalaman-pengalaman  sebelumnya.  Dalam  praktek  pembelajaran,  teori 

98

kognitif antara lain tampak dalam rumusan-rumusan seperti: “Tahap-tahap 

perkembangan” yang dikemukakan oleh J. Piaget, Advance organizer oleh 

Ausubel,  Pemahaman  konsep  oleh  Bruner,  Hirarkhi  belajar  oleh  Gagne, 

Webteaching  oleh Norman, dan sebagainya. Berikut akan  diuraikan lebih 

rinci beberapa pandangan dari tokoh-tokoh tersebut:

a)  Jean Piaget (1896-1980)

Saudara  mahasiswa,  tentunya  Anda  sudah 

tidak  asing  lagi  dengan  tokoh  ini  bukan? 

Pemikirannya banyak sekali mewarnai praktik 

pendidikan  yang  biasa  kita  laksanakan.  Piaget 

adalah  seorang  tokoh  psikologi  kognitif  yang 

besar  pengaruhnya  terhadap  perkembangan 

pemikiran para pakar kognitif lainnya. Menurut 

Piaget, perkembangan kognitif merupakan suatu proses genetik, yaitu suatu 

proses  yang  didasarkan  atas  mekanisme  biologis  perkembangan  sistem 

syaraf.  Dengan  makin  bertambahnya  umur  seseorang,  maka  makin 

komplekslah  susunan  sel  syarafnya  dan  makin  meningkat  pula 

kemampuannya.  Ketika  individu  berkembang  menuju  kedewasaan,  akan 

mengalami  adaptasi  biologis  dengan  lingkungannya  yang  akan 

menyebabkan  adanya  perubahan-perubahan  kualitatif  di  dalam  struktur 

kognitifnya.  Piaget  tidak  melihat  perkembangan  kognitif  sebagai  sesuatu 

yang dapat didefinisikan secara kuantitatif. Ia menyimpulkan bahwa daya 

pikir atau kekuatan mental anak yang berbeda usia akan berbeda pula secara 

kualitatif.  Collin,  dkk  (2012)  menggambarkan  pemikiran  Piaget  sebagai 

berikut:

99

Menurut Piaget, proses belajar terdiri dari 3 tahap, yakni asimilasi, 

akomodasi  dan  equilibrasi  (penyeimbangan).  Asimilasi  adalah  proses 

pengintegrasian  informasi  baru  ke  struktur  kognitif  yang  sudah  ada. 

Akomodasi adalah proses penyesuaian struktur kognitif ke dalam siatuasi 

yang  baru.  Sedangkan  equilibrasi  adalah  penyesuaian  kesinambungan 

antara asimilasi dan akomodasi (Siregar dan Nara, 2010).  Pada umumnya, 

Apabila  seseorang  memperoleh  kecakapan  intelektual,  maka  akan 

berhubungan dengan proses mencari keseimbangan antara apa yang mereka 

rasakan dan mereka ketahui pada satu sisi dengan apa  yang mereka lihat 

suatu  fenomena  baru  sebagai  pengalaman  atau  persoalan.  Bila  seseorang 

dalam kondisi sekarang dapat mengatasi situasi baru, keseimbangan mereka 

tidak  akan  terganggu.  Jika  tidak,  ia  harus  melakukan  adaptasi  dengan 

lingkungannya.

Asimilasi dan akomodasi akan terjadi apabila seseorang mengalami 

konflik  kognitif  atau  suatu  ketidak  seimbangan  antara  apa  yang  telah 

diketahui dengan apa yang dilihat atau dialaminya sekarang. Proses ini akan 

mempengaruhi strutur kognitif. Untuk lebih jelasnya coba Anda perhatikan 

contoh berikut : dalam pembelajaran matematika seorang anak  jika  sudah 

memahami  prinsip  pengurangan  maka  ketika  mempelajari  prinsip 

pembagian  akan terjadi proses pengintegrasian antara prinsip pengurangan 

yang sudah dikuasainya dengan prinsip pembagian (informasi baru). Inilah 

yang  disebut  proses  asimilasi.  Jika  anak  tersebut  diberikan  soal-soal 

100

pembagian,  maka  situasi  ini  disebut  akomodasi.  Artinya,  anak  tersebut 

sudah  dapat  mengaplikasikan  atau  memakai  prinsip-prinsip  pembagian 

dalam  situasi  yang  baru  dan  spesifik.  Bagaimana  apakah  Anda  sudah 

memiliki  pemahaman  tentang  konsep  asimilasi?  Coba  renungkan  contoh 

lain sesuai dengan materi yang Anda ajarkan di kelas.

Bagaimana, semakin jelaskah dengan pemaparan dalam kajian ini? 

Mari  kita  lanjutkan  pembahasan  materi  ini.  Saudara  mahasiswa,  agar 

seseorang  dapat  terus  mengembangkan  dan  menambah  pengetahuannya 

sekaligus menjaga stabilitas mental dalam dirinya, maka diperlukan proses 

penyeimbangan  atau  ekuilibrasi. Tanpa proses ekuilibrasi, perkembangan 

kognitif  seseorang  akan  mengalami  gangguan  dan  tidak  teratur 

(disorganized). Hal ini misalnya tampak pada caranya berbicara yang tidak 

runtut, berbelit-belit, terputus-putus, tidak logis, dan sebagainya. Adaptasi 

akan terjadi jika telah terdapat keseimbangan di dalam struktur kognitif.

Sebagaimana  dijelaskan  di  atas,  proses  asimilasi  dan  akomodasi 

mempengaruhi  struktur  kognitif.  Perubahan  struktur  kognitif  merupakan 

fungsi dari pengalaman, dan kedewasaan anak terjadi melalui tahap-tahap 

perkembangan  tertentu.  Menurut  Piaget,  proses  belajar  seseorang  akan 

mengikuti  pola  dan  tahap-tahap  perkembangan  sesuai  dengan  umurnya. 

Pola dan tahap-tahap ini bersifat hirarkhis, artinya harus dilalui berdasarkan 

urutan tertentu dan seseorang tidak dapat belajar sesuatu yang berada di luar 

tahap kognitifnya. Piaget membagi tahap-tahap perkembangan kognitif ini 

menjadi  empat  yaitu,  tahap  sensorimotor  (umur  0-2  tahun),  tahap 

praoperasional  (umur  2-7/8  tahun),  tahap  operasional  konkret,  dan  tahap 

operasional  formal.  Singkatnya  empat  tahap  tersebut  terdapat  di  skema 

berikut:

101

Tabel 1. Skema Empat Tahap Perkembangan Kognitif Piaget

Tahap   Umur  Ciri Pokok Perkembangan

Sensorimotor  0-2 tahun    Berdasarkan tindakan

  Langkah demi langkah

Properasional  2-7/8 tahun    Penggunaan simbol/bahasa tanda

  Konsep intuitif

Operasional 

konkrit

7/8-11/12 tahun    Pakai aturan jelas/logis

  Revesibel dan kekekalan

Operasional 

formal

11/12-18 tahun    Hipotesis

  Abstrak

  Deduktif dan induktif

  Logis dan probabilitas

Untuk  mendapatkan  pemahaman  yang  lebih  komprehensif  terkait  teori

Thorndike, Anda dapat belajar pada link berikut: http://bit.ly/2qZgFuQ 

b)  Jerome Bruner (1915-2016)

Saudara  mahasiswa,  tokoh  selanjutnya 

dalam  teori  kognitif  adalah  Jerome  Bruner. 

Beliau  adalah  seorang  pengikut  setia  teori 

kognitif, khususnya dalam studi perkembangan 

fungsi  kognitif.  Ia  menandai  perkembangan 

kognitif manusia sebagai berikut:

1.  Perkembangan  intelektual  ditandai  dengan 

adanya  kemajuan  dalam  menanggapi 

rangsangan.

2.  Peningkatan  pengetahuan  tergantung  pada  perkembangan  sistem 

penyimpanan informasi secara realis.

3.  Perkembangan  intelektual  meliputi  perkembangan  kemampuan 

berbicara pada diri sendiri atau pada orang lain memalui kata-kata atau 

102

lambang tentang apa yang akan dilakukan. Hal ini berhubungan dengan 

kepercayaan pada diri sendiri.

4.  Interaksi  secara  sistematis  antara  pembimbing,  guru  atau  orang  tua 

dengan anak diperlukan bagi perkembangan kognitifnya.

5.  Bahasa adalah kunci perkembangan kognitif, karena bahasa merupakan 

alat komunikasi antara manusia. Untuk memhami konsep-konsep yang 

ada diperlukan bahasa. Bahasa diperlukan untuk mengkomunikasikan 

suatu konsep kepada orang lain.

6.  Perkembangan  kognitif  ditandai  dnegan  kecakapan  untuk 

mengemukakan beberapa alternatif secara simultan, memilih tindakan 

yang tepat, dapat memberikan prioritas yang berurutan dalam berbagai 

situasi. 

Bruner  mengembangkan  toerinya  yang  disebut  free  discovery 

learning. Teori ini menjelaskan bahwa proses belajar akan berjalan dengan 

baik dan kreatif jika guru memberi kesempatan kepada peserta didik untuk 

menemukan suatu aturan (termasuk konsep, toeri, definisi, dan sebagainya) 

melalui contoh-contoh yang yang menggambarkan  (mewakili) aturan yang 

menjadi  sumbernya.  Peserta  didik  dibimbig  secara  induktif  untuk 

mengetahui kebenaran umum. 

Pendekatan  Bruner  terhadap  belajar  didasarkan  pada  dua  asumsi 

(Dahar,  2008),  asumsi  pertama  ialah  perolehan  pengetahuan  merupakan 

suatu  proses  interkatif.  Bruner  percaya  bahwa  orang  belajar  berinteraksi 

dengan  lingkungannya  secara  aktif,  perubahan  tidak  hanya  terjadi  pada 

lingkungan, tetapi juga dalam orang itu sendiri. Asumsi kedua ialah orang 

mengkonstruksi  pengetahuannya  dengan  menghubungkan  informasi  yang 

masuk dengan informasi yang disimpan sebelumnya. 

Bruner  menyatakan  untuk  menjamin  keberhasilan  belajar,  guru 

hendaknya jangan menggunakan penyajian yang tidak sesuai dengan tingkat 

kognitif peserta didik.  Menurut Bruner perkembangan  kognitif seseorang 

terjadi melalui tiga tahap yang ditentukan oleh caranya melihat lingkungan, 

yaitu; enactive, iconic, dan symbolic (Lestari, 2014).  

103

1)  Tahap  enaktif,  seseorang  melakukan  aktivitas-aktivitas  dalam 

upayanya  untuk  memahami  lingkungan  sekitarnya.  Artinya,  dalam 

memahami dunia sekitarnya anak menggunakan pengetahuan motorik. 

Misalnya, melalui gigitan, sentuhan, pegangan, dan sebagainya.

2)  Tahap  ikonik,  seseorang  memahami  obyek-obyek  atau  dunianya 

melalui  gambar-gambar  dan  visualisasi  verbal.  Maksudnya,  dalam 

memahami dunia sekitarnya anak belajar melalui bentuk perumpamaan 

(tampil) dan perbandingan (komparasi).

3)  Tahap  simbolik,  seseorang  telah  mampu  memiliki  ide-ide  atau 

gagasangagasan abstrak yang sangat dipengaruhi oleh kemampuannya 

dalam berbahasa  dan logika. Dalam memahami dunia sekitarnya anak 

belajar  melalui  simbol-simbol  bahasa,  logika,  matematika,  dan 

sebagainya.  Komunikasinya  dilakukan  dengan  menggunakan  banyak 

sistem simbol. Semakin matang seseorang dalam proses berpikirnya, 

semakin dominan  sistem simbolnya. Meskipun begitu tidak berarti ia 

tidak lagi menggunakan sistem enaktif dan ikonik. Penggunaan media 

dalam  kegiatan  pembelajaran  merupakan  salah  satu  bukti  masih 

diperlukannya sistem enaktif dan ikonik dalam proses belajar.

c)  David Ausubel (1918-2008)

Saudara mahasiswa, salah satu pakar 

yang  mengemukakan  teori  belajar 

kognitif  adalah  David  Paulus  Ausubel. 

Beliau  adalah  seorang  ahli  psikologi 

pendidikan  yang  memberi  penekanan 

pada belajar bermakna dan juga terkenal 

dengan teori belajar bermaknanya.

Struktur kognitif merupakan struktur organisasional yang ada dalam 

ingatan  seseorang  yang  mengintegrasikan  unsur-unsur  pengetahuan  yang 

terpisah-pisah  ke  dalam  suatu  unit  konseptual.  Teori  kognitif  banyak 

memusatkan  perhatiannya  pada  konsepsi  bahwa  perolehan  dan  retensi 

104

pengetahuan  baru  merupakan  fungsi  dari  struktur  kognitif  yang  telah 

dimiliki peserta didik. Yang paling awal mengemukakan konsepsi ini adalah 

Ausubel.  Menurut Ausubel, peserta didik akan belajar dengan baik jika isi 

pelajaran (instructional content)  sebelumnya didefinisikan dan kemudian 

dipresentasikan  dengan  baik  dan  tepat  kepada  peserta  didik  (advance 

orginizer). Dengan demikian, mempengaruhi pengaturan kemajuan belajar 

peserta didik. Advance orginizer adalah konsep atau informasi umum yang 

mewadahi semua isi pelajaran  yang akan diajarkan kepada peserta didik. 

Advance  orginizer  dapat  memberikan  tiga  macam  manfaat,  yaitu 

menyediakan suatu kerangka konseptual untuk materi yang akan dipelajari, 

berfungsi  sebagai  jembatan  yang  menghubungkan  antara  yang  sedang 

dipelajari dan yang akan dipelajari, dan dapat membantu peserta didik untuk 

memahami bahan belajar secara lebih mudah. Untuk itu, pengetahuan guru 

terhadap  isi  pembelajaran  harus  sangat  baik,  dengan  demikian  ia  akan 

mampu menemukan informasi yang sangat abstrak, umum dan inklusif yang 

mewadahi apa yang sedang diajarkan. Guru harus memiliki logika berpikir 

yang baik, agar dapat memilah materi pembelajaran, merumuskannya dalam 

rumusan yang singkat dan padat serta mengurutkan materi tersebut dalam 

struktur yang logis dan mudah dipahami (Siregar & Nara, 2010).

Ausubel  mengklasifikasikan  belajar  dalam  dua  dimensi,  yaitu: 

dimensi pertama berhubungan dengan cara informasi atau materi pelajaran 

yang  disajikan  pada  peserta  didik  melalui  penerimaan  atau  penemuan. 

Dimensi kedua menyangkut cara bagaimana peserta didik dapat mengaitkan 

informasi  tersebut  pada  struktur  kognitif  yang  telah  ada  (Dahar,  2006). 

Informasi yang dikomunikasikan pada peserta didik dalam bentuk belajar 

penerimaa yang menyejikan informasi itu dalam bentuk final ataupun dalam 

bentuk  belajar  penemuan  yang  mengharuskan  peserta  didik  untuk 

menemukan sendiri materi yang akan diajarkan. Dan pada tingkatan kedua, 

peserta didik mengaitkan informasi itu pada pengetahuan yang dimilikinya, 

hal inilah yang dinamakan dengan belajar bermakna. 

105

2)  Implikasi Teori Kognitif dalam Kegiatan Pembelajaran

Teori  kognitif  menekankan  pada  proses  perkembangan  peserta 

didik. Meskipun proses perkembangan peserta didik mengikuti urutan yang 

sama, namun kecepatan dan pertumbuhan dalam proses perkembangan itu 

berbeda. Dalam proses pembelajaran, perbedaan kecepatan perkembangan 

mempengaruhi  kecepatan  belajar  peserta  didik,  oleh  sebab  itu  interaksi 

dalam bentuk diskusi tidak dapat dihindarkan. Pertukaan gagasan menjadi 

tanda  bagi  perkembangan  penalaran  peserta  didik.  Perlu  disadari  bahwa 

penalaran bukanlah sesuatu yang  dapat diajarkan secara langsung, namun 

perkembangannya dapat disimulasikan. 

Hakekat  belajar  menurut  teori  kognitif  dijelaskan  sebagai  suatu 

aktifitas  belajar  yang  berkaian  dengan  penataan  informasi,  reorganisasi 

perseptual, dan proses internal. Kegiatan  pembelajaran yang berpijak pada 

teori  belajar  kognitif  ini  sudah  banyak  digunakan.  Dalam  merumuskan 

tujuan  pembelajaran,  mengembangkan  strategi  dan  tujuan  pembelajaran, 

tidak  lagi  mekanistik  sebagaimana  yang  dilakukan  dalam  pendekatan 

behavioristik. Kebebasan dan keterlibatan peserta didik secara aktif dalam 

proses  belajar  amat  diperhitungkan,  agar  belajar  lebih  bermakna  bagi 

peserta  didik.  Sedangkan  kegiatan  pembelajarannya  mengikuti  prinsipprinsip sebagai berikut:

a)  Peserta didik bukan sebagai orang dewasa yang mudah dalam proses 

berpikirnya

b)  Anak usia para sekolah dan awal sekolah dasar akan dapat belajar 

dengan baik, terutama jika menggunakan benda-benda konkrit.

c)  Keterlibatan  peserta  didik  secara  aktif  dalam  belajar  amat 

dipentingkan,  karena  hanya  dengan  mengaktifkan  peserta  didik 

maka proses asimilasi dan akomodasi pengetahuan dan pengalaman 

dapat terjadi dengan baik. 

d)  Untuk  menarik  minat  dan  meningkatkan  retensi  belajar  perlu 

mengkaitkan  pengalaman  atau  informasi  baru  dengan  setruktur 

kognitif yang telah dimiliki si belajar. 

106

e)  Pemahaman  dan  retensi  akan  meningkat  jika  materi  pelajaran 

disusun  dengan  menggunakan  pola  atau  logika  tertentu,  dari 

sederhana ke kompleks.

f)  Belajar  memahami  akan  lebih  bermakna  dari  pada  belajar 

menghafal.  Agar bermakna, informasi baru harus disesuaikan dan 

dihubungkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki peserta didik. 

Tugas guru adalah menunjukkan hubungan antara apa yang sedang 

dipelajari dengan apa yang telah diketahui peserta didik.

g)  Adanya  perbedaan  individual  pada  diri  peserta  didik  perlu 

diperhatiakan, karena faktor ini sangat mempengaruhi keberhasilan 

belajar  peserta  didik.  Perbedaan  tersebut  misalnya  pada  motivasi, 

persepsi, kemampuan berpikir, pengetahuan awal, dan sebagainya.

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, bahwasanya dalam teori belajar 

yang dikembangkan oleh bruner melalui 3 tahap, yaitu tahap enaktif, tahap 

ikonik dan tahap simbolik. Ketiga tahapan ini dilakukan pada kegiatan inti 

pembelajaran.  Dalam  penelitian  yang  dilakukan  oleh  Lestari  (2014) 

menerapan teori Bruner  untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik pada 

pembelajaran simetri lipat, menerapkan 3 tahapan kegiatan pembelajaran, 

yaitu  tahap  awal,  tahap  inti,  dan  tahap  akhir.  Strategi  ini  dipilih  karena 

dipandang dapat mengoptimalisasikan interaksi semua unsur pembelajaran. 

Penerapan teori Bruner dalam pembelajaran dapat menjadikan peserta didik 

lebih mudah dibimbing dan diarahkan. Adapun tahapan dalam teori Bruner 

sebagai  berikut:  1)  tahap  enaktif;  pada  tahap  ini  pengetahuan  dipelajari 

secara  aktif  dengan  menggunakan  bendabenda  konkret  atau  dengan 

menggunakan situasi nyata, 2) tahap ikonik; pada tahapa ini pengetahuan 

dipresentasikan  dalam  bentuk  bayangan  visual  atau  gambar  yang 

menggambarkan kegiatan konkret yang terdapat pada tahap enaktif, dan 3) 

tahap simbolik; pada tahap ini pengetahuan dipresentasikan dalam bentuk 

simbol-simbol. Kemampuan guru dalam merencanakan dan melaksanakan

pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan intelekstual peserta didik 

107

sangat  menetukan  untuk  dapat  tidaknya  suatu  konsep  dipelejari  dan 

dipahami peserta didik. 

Terdapat  dua  fase  dalam  menerapkan  teori  belajar  Ausubel 

(Sulaiman, 1988), yaitu:

1)  Fase perencanaan 

a)  Menetapkan  Tujuan  Pembelajaran,  tahapan  pertama  dalam 

kegiatan perencanaan adalah menetapkan tujuan pembelajaran. 

Model  Ausubel  ini  dapat  digunakan  untuk  mengajarkan 

hubungan  antara  konsep-konsep  dan  generalisasi-generalisasi. 

Model Ausubel tidak dirancang untuk mengajarkan konsep atau 

generalisasi, melainkan untuk mengajarkan “Organized bodies 

of content” yang memuat bermacam konsep dan generalisasi.

b)  Mendiagnosis latar belakang pengetahuan peserta didik, model 

Ausubel ini meskipun dirancang untuk mengajarkan hubungan 

antar  konsep-konsep  dan  generalisasi-generalisasi  dan  tidak 

untuk mengajarkan bentuk materi pengajaran itu sendiri, tetapi 

cukup  fleksibel  untuk  dipakai  mengajarkan  konsep  dan 

generalisasi, dengan syarat guru harus menyadari latar belakang 

pengetahuan  peserta  didik,  Efektivitas  penggunaan  model  ini 

akan  sangat  tergantung  pada  sensitivitas  guru  terhadap  latar 

belakang pengetahuan peserta didik, pengalaman peserta didik 

dan  struktur  pengetahuan  peserta  didik.  Latar  belakang 

pengetahuan  peserta  didik  dapat  diketahui  melalui  pretes, 

diskusi atau pertanyaan.

c)  Membuat  struktur  materi,  membuat  struktur  materi  secara 

hierarkis  merupakan  salah  satu  pendukung  untuk  melakukan 

rekonsiliasi integratif dari teori Ausubel.

d)  Memformulasikan  Advance  Organizer.  Advance  organizer

dapat  dilakukan  dengan  dua  cara,  yaitu:  1)  mengkaitkan  atau 

menghubungkan materi pelajaran dengan struktur pengetahuan 

108

peserta  didik.  2)  mengorganisasikan  materi  yang  dipelajari 

peserta didik

2)  Fase pelaksanaan

Setelah fase perencanaan, guru menyiapkan pelaksanaan dari model 

Ausubel  ini.  Untuk  menjaga  agar  peserta  didik  tidak  pasif  miaka 

guru harus dapat mempertahankan adanya interaksi dengan peserta 

didik  melalui  tanya  jawab,  memberi  contoh  perbandingan  dan 

sebaginya  berkaitan  dengan  ide  yang  disampaikan  saat  itu  Guru 

hendaknya mulai dengan advance organizer dan menggunakannya 

hingga  akhir  pelajaran  sebagai  pedoman  untuk  mengembangkan 

bahan pengajaran. Langkah berikutnya adalah menguraikan pokokpokok bahan menjadi lebih terperinci melalui diferensiasi progresif.

Setelah guru yakin bahwa peserta didik mengerti akan konsep yang 

disajikan  maka  ada  dua  pilihan  langkah  berikutnya  yaitu:  1) 

Menghubungkan  atau  membandingkan  konsep-konsep  itu  melalui 

rekonsiliasi  integrative  dan  2)  Melanjutkan  dengan  difernsiasi 

progresif  sehingga  konsep  tersebut  menjadi  lebih  luas.  Untuk 

mempelajari  lebih  dalam  tentang  implikasi  teori  kognitif  dalam 

pembelajaran anda dapat mengakses link: http://bit.ly/36Jzwu3

c.  Teori belajar Konstruktivistik dan implikasinya dalam pembelajaran

1)  Pengertian Belajar Menurut Pandangan Konstruktivistik

Saudara mahasiswa, teori  belajar  konstruktivistik memahami belajar 

sebagai proses pembentukan (kontruksi) pengetahuan oleh peserta didik itu 

sendiri. Pengetahuan ada di dalam diri seseorang yang sedang  mengetahui

(Schunk, 1986). Dengan kata lain, karena pembentukan pengetahuan adalah 

peserta  didik  itu  sendiri,  peserta  didik  harus  aktif  selama  kegiatan 

pembelajaran, aktif berpikir, menyusun kosep, dan memberi makna tentang 

hal-hal yang sedang dipelajari, tetapi yang paling menentukan terwujudnya 

gejala belajar adalah niat belajar peserta didik itu sendiri. Sementara peranan 

guru  dalam  belajar  konstruktivistik  adalah  membantu  agar  proses 

109

pengkonstruksian  pengetahuan  oleh  peserta  didik  berjalan  lancar.  Guru 

tidak  mentransfer  pengetahuan  yang  telah  dimilikinya,  melainkan 

membantu  peserta  didik  untuk  membentuk  pengetahuannya  sendiri  dan 

dituntut untuk lebih memahami jalan pikiran atau cara pandang peserta didik 

dalam belajar. 

Ciri-ciri belajar konstruktivisme yang dikemukakan oleh Driver dan 

Oldhan (1994) adalah sebagai berikut:

a)  Orientasi,  yaitu  peserta  didik  diberik  kesempatan  untuk 

mengembangkan  motivasi  dalam  mempelajari  suatu  topik 

dengan memberi kesempatan melakukan observasi.

b)  Elitasi,  yaitu  peserta  didik  mengungkapkan  idenya  denegan 

jalan berdiskusi, menulis, membuat poster, dan lain-lain.

c)  Restrukturisasi ide, yaitu klarifikasi ide dengan ide orang lain, 

membangun ide baru, mengevaluasi ide baru.

d)  Penggunaan  ide  baru  dalam  setiap  situasi,  yaitu  ide  atau 

pengetahuan  yang  telah  terbentuk  perlu  diaplikasikan  pada 

bermacam-macam situasi.

e)  Review,  yaitu  dalam  mengapliasikan  pengetahuan,  gagasan 

yang ada perlu direvisi dengan menambahkan atau mengubah

Paradigma  konstruktivistik  memandang  peserta  didik  sebagai 

pribadi  yang  sudah  memiliki  kemampuan  awal  sebelum  mempelajari 

sesuatu.  Kamampuan  awal  tersebut  akan  menjadi  dasar  dalam 

mengkonstruksi  pengetahuan  yang  baru.  Oleh  sebab  itu  meskipun 

kemampuan awal tersebut masih sangat sederhana atau tidak sesuai dengan 

pendapat  guru, sebaiknya diterima dan dijadikan dasar pembelajaran dan 

pembimbingan.  Peranan  kunci  guru  dalam  interaksi  pedidikan  adalah 

pengendalian yang meliputi;

1)  Menumbuhkan kemandirian dengan menyediakan kesempatan 

untuk megambil keputusan dan bertindak. 

110

2)  Menumbuhkan  kemampuan  mengambil  keputusan  dan 

bertindak, dengan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan 

peserta didik.

3)  Menyediakan  sistem  dukungan  yang  memberikan  kemudahan 

belajar  agar  peserta  didik  mempunyai  peluang  optimal  untuk 

berlatih.

Pandangan  konstruktivistik  mengemukakan  bahwa  lingkungan 

belajar sangat mendukung munculnya berbagai pandangan dan interpretasi 

terhadap realitas, konstruksi pengetahuan, serta aktivitas-aktivitas lain yang 

didasarkan  pada  pengalaman.  Hal  ini  memunculkan  pemikiran  terhadap 

usaha mengevaluasi belajar konstruktivistik. 

Pandangan konstruktivistik mengemukakan bahwa realitas ada pada 

pikiran  seseorang.  Manusia  mengkonstruksi  dan  menginterpretasikannya 

berdasarkan  pengalamannya.  Konstruktivistik  mengarahkan  perhatiannya 

pada  bagaimana  seseorang  mengkonstruksi  pengetahuan  dari 

pengalamannya,  struktur  mental,  dan  keyakinan  yang  digunakan  untuk 

menginterpretasikan  obyek  dan  peristiwa.  Pandangan  konstruktivistik 

mengakui  bahwa  pikiran  adalah  instrumen  penting  dalam 

menginterpretasikan kejadian, obyek, dan pandangan terhadap dunia nyata, 

di mana interpretasi tersebut terdiri dari pengetahuan dasar manusia secara 

individual.

Teori belajar konstruktivistik mengakui bahwa peserta didik akan 

dapat  menginterpretasi-kan  informasi  ke  dalam  pikirannya,  hanya  pada 

konteks pengalaman dan pengetahuan mereka sendiri, pada kebutuhan, latar 

belakang  dan  minatnya.  Guru  dapat  membantu  peserta  didik 

mengkonstruksi pemahaman representasi fungsi konseptual dunia eksternal. 

Jika  hasil  belajar  dikonstruksi  secara  individual,  bagaimana 

mengevaluasinya?

Evaluasi belajar pandangan konstruktivistik menggunakan goal-free

evaluation,  yaitu  suatu  konstruksi  untuk  mengatasi  kelemahan  evaluasi 

pada tujuan spesifik. Evaluasi akan lebih obyektif jika evaluator tidak diberi 

111

informasi tentang tujuan selanjutnya. Jika tujuan belajar diketahui sebelum 

proses belajar dimulai, proses belajar dan evaluasinya akan berat sebelah. 

Pemberian  kriteria  pada  evaluasi  mengakibatkan  pengaturan  pada 

pembelajaran. Tujuan belajar mengarahkan pembelajaran  yang juga akan 

mengontrol aktifitas belajar peserta didik.

Pembelajaran dan evaluasi yang menggunakan kriteria merupakan 

prototipe  obyektifis/behavioristik,  yang  tidak  sesuai  bagi  teori 

konstruktivistik.  Hasil  belajar  konstruktivistik  lebih  tepat  dinilai  dengan 

metode  evaluasi  goal-free.  Evaluasi  yang  digunakan  untuk  menilai  hasil 

belajar  konstruktivistik,  memerlukan  proses  pengalaman  kognitif  bagi 

tujuan-tujuan konstruktivistik.  Beberapa hal penting tentang evaluasi dalam 

aliran konstruktivistik (Siregar & Nara, 2010), yaitu: diarahkan pada tugastugas  autentik,  mengkonstruksikan  pengetahuan  yang  menggambarkan 

proses  berpikir  yang  lebih  tinggi,  mengkonstruksi  pengalaman  peserta 

didik, dan mengarhkan evaluasi pada konteks yang luas dengan berbagai 

perspektif.

a)  Pengetahuan Menurut Lev Vygotsky (1896-1934).

Saudara  mahasiswa,  Lev  Vygotsky 

merupakan  tokoh  dari  teori  belajar 

konstruktivistik  yang  menekankan  bahwa 

manusia  secara  aktif  menyusun  pengetahuan 

dan  memiliki  fungsi-fungsi  mental  serta 

memiliki  koneksi  social.  Beliau  berpendapat 

bahwa  manusia  mengembangkan  konsep  yang 

sistematis, logis dan rasional sebagai akibat dari percakapan dengan seorang 

yang dianggap ahli disekitarnya. Jadi dalam teori ini orang lain (social) dan 

bahasa memegang peranan penting dalam perkembangan kognitif manusia.

Teori  belajar  kokonstruktivistik  merupakan  teori  belajar  yang  di 

pelopori  oleh  Lev  Vygotsky.  Teori  belajar  ko-kontruktinvistik  atau  yang 

sering disebut sebagai teori belajar sosiokultur merupakan teori belajar yang 

titik  tekan  utamanya  adalah  pada  bagaimana  seseorang  belajar  dengan 

112

bantuan  orang  lain  dalam  suatu  zona  keterbatasan  dirinya  yaitu  Zona 

Proksimal  Developmen  (ZPD)  atau  Zona  Perkembangan  Proksimal  dan 

mediasi. Di mana anak dalam perkembangannya membutuhkan orang lain 

untuk memahami sesuatu dan memecahkan masalah yang dihadapinya. 

Teori  yang  juga  disebut  sebagai  teori  konstruksi  sosial  ini 

menekankan  bahwa  intelegensi  manusia  berasal  dari  masyarakat, 

lingkungan  dan  budayanya.  Teori  ini  juga  menegaskan  bahwa  perolehan 

kognitif  individu  terjadi  pertama  kali  melalui  interpersonal  (interaksi 

dengan  lingkungan  sosial)  intrapersonal  (internalisasi  yang  terjadi  dalam 

diri sendiri). Vygotsky berpendapat bahwa menggunakan alat berfikir akan 

menyebabkan terjadinya perkembangan kognitif dalam diri seseorang. 

Inti  dari  teori  belajar  konstruktivistik  ini  adalah  penggunaan  alat 

berfikir  seseorang  yang  tidak  dapat  dilepaskan  dari  pengaruh  lingkungan 

sosial budayanya. Lingkungan sosial budaya akan menyebabkan semakin 

kompleksnya kemampuan yang dimiliki oleh setiap individu.  Dengan kata 

lain bahwa  peserta didik itu sendiri yang harus secara pribadi menemukan 

dan  menerapkan  informasi  kompleks,  mengecek  informasi  baru 

dibandingkan dengan aturan lama dan memperbaiki aturan itu apabila tidak 

sesuai lag. Teori belajar ini menekankan bahwa perubahan kognitif hanya 

terjadi  jika  konsepsi-konsepsi  yang  telah  dipahami  diolah  melalui  suatu 

proses ketidakseimbangan dalam upaya memakai informasi-informasi baru. 

Teori belajar  ini  meliputi tiga konsep utama, yaitu 1) hukum genetik tentang 

perkembangan,  2)  Zona  perkembangan  proksimal  dan  3)  mediasi.  Untuk 

lebih memahami tentang kajian tersebut mari kita kaji satu persatu.

1)  Hukum Genetik tentang Perkembangan

Perkembangan menurut Vygotsky tidak bisa hanya dilihat dari 

fakta-fakta  atau  keterampilan-keterampilan,  namun  lebih  dari  itu, 

perkembangan  seseorang  melewati  dua  tataran.  Tataran  sosial  dan 

tataran  psikologis.  Di  mana  tataran  sosial  dilihat  dari  tempat 

terbentuknya  lingkungan sosial seseorang dan tataran psikologis yaitu 

dari  dalam  diri  orang  yang  bersangkutan.  Teori  ini  menenpatkan 

113

lingkungan  sosial  sebagai  faktor  primer  dan  konstitutif  terhadap 

pembentukan  pengetahuan  serta  perkembangan  kognitif  seseorang. 

Fungsi-fungsi mental yang tinggi dari seseorang diyakini muncul dari 

kehidupan  sosialnya.  Sementara  itu,  lingkungan  sosial  dipandang 

sebagai derivasi atau turunan yang terbentuk melalui penguasaan dan 

internalisasi terhadap proses-proses sosial tersebut, hal ini terjadi karena 

anak  baru  akan  memahami  makna  dari  kegiatan  sosial  apabila  telah 

terjadi proses internalisasi. Oleh sebab itu belajar dan berkembang satu 

kesatuan  yang  menentukan  dalam  perkembangan  kognitif  seseorang. 

Vygotsky  meyakini  bahwa  kematangan  merupakan  prasyarat  untuk 

kesempurnaan  berfikir  namun  demikian  ia  tidak  yakin  bahwa 

kematangan  yang  terjadi  secara  keseluruhan  akan  menentukan 

kematangan selanjutnya.

2) Zona Perkembangan Proksimal

Saudara mahasiswa, zona Perkembangan Proksimal atau Zona 

Proximal  Development  (ZPD)  merupakan  konsep  utama  yang  paling 

mendasar dari teori belajar kokonstruktivistik Vygotsky. Dalam Luis C. 

Moll (1993: 156-157), Vygotsky berpendapat bahwa setiap anak dalam 

suatu  domain  mempunyai  ‘level  perkembangan  aktual’  yang  dapat 

dinilai  dengan  menguji  secara  individual  dan  potensi  terdekat  bagi 

perkembangan  domain  dalam  tersebut.  Vygotsky  mengistilahkan 

perbedaan ini berada di antara dua level Zona Perkembangan Proksimal, 

Vygotsky mendefinisikan Zona Perkembangan Proksimal sebagai jarak 

antara  level  perkembangan  aktual  seperti  yang  ditentukan  untuk 

memecahkan  masalah  secara  individu  dan  level  perkembangan 

potensial seperti yang ditentukan lewat pemecahan masalah di bawah 

bimbingan orang dewasa atau dalam kolaborasi dengan teman sebaya 

yang lebih mampu. 

Vygotsky mengemukakan ada empat tahapan ZPD yang terjadi 

dalam perkembangan dan pembelajaran (Schunk, 1986), yaitu : 

114

Tahap 1 : Tindakan anak masih dipengaruhi atau dibantu orang 

lain.

Tahap 2 : Tindakan anak yang didasarkan atas inisiatif sendiri.

Tahap  3  :  Tindakan  anak  berkembang  spontan  dan 

terinternalisasi.

Tahap  4  :  Tindakan  anak  spontan  akan  terus  diulang-ulang 

hingga anak siap untuk berfikir abstrak.

Pada empat tahapan ini  dapat disimpulkan bahwa. Seseorang 

akan dapat melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak bisa dia lakukan 

dengan  bantuan  yang  diberikan  oleh  orang  dewasa  maupun  teman 

sebayanya yang lebih berkompeten terhadap hal tersebut.

3) Mediasi

Saudara  mahasiswa,  mediasi  merupakan  tanda-tanda  atau 

lambang  yang  digunakan  seseorang  untuk  memahami  sesuatu  di  luar 

pemahamannya.  Ada  dua  jenis  mediasi  yang  dapat  mempengaruhi 

pembelajaran yaitu, (1) tema mediasi semiotik di mana tanda-tanda atau 

lambang-lambang yang digunakan seseorang untuk memahami sesuatu 

diluar pemahamannya ini didapat dari hal yang belum ada di sekitar kita, 

kemudian  dibuat  oleh  orang  yang  lebih  faham  untuk  membantu 

mengkontruksi  pemikiran  kita  dan  akhirnya  kita  menjadi  faham 

terhadap  hal  yang  dimaksudkan;  (2)  Scafholding  di  mana  tanda-tanda 

atau  lambang-lambang  yang  digunakan  seseorang  untuk  memahami 

sesuatu di luar pemahamannya ini didapat dari hal yang memang sudah ada 

di suatu lingkungan, kemudian orang yang lebih faham tentang tanda-tanda 

atau lambang-lambang tersebut akan membantu menjelaskan kepada orang 

yang  belum  faham  sehingga  menjadi  faham  terhadap  hal  yang 

dimaksudkan.

Berdasarkan  teori  Vygotsky  dapat  disimpulkan  beberapa  hal 

yang perlu untuk diperhatikan dalam proses pembelajaran, yaitu :

a)  Dalam  kegiatan  pembelajaran  hendaknya  anak 

memperoleh  kesempatan  yang  luas  untuk 

115

mengembangkan  zona  perkembangan  proksimalnya 

atau potensinya melalui belajar dan berkembang.

b)  Pembelajaran  perlu  dikaitkan  dengan  tingkat 

perkembangan  potensialnya  dari  pada  perkembangan 

aktualnya.

c)  Pembelajaran  lebih  diarahkan  pada  penggunaan 

strategi  untuk  mengembangkan  kemampuan 

intermentalnya daripada kemampuan intramentalnya.

d)  Anak  diberikan  kesempatan  yang  luas  untuk 

mengintegrasikan  pengetahuan  deklaratif  yang  telah 

dipelajarinya  dengan  pengetahuan  prosedural  untuk 

melakukan tugas-tugas dan memecahkan masalah

e)  Proses Belajar dan pembelajaran tidak sekedar bersifat 

transferal tetapi lebih merupakan ko-konstruksi

Dalam  teori  belajar  kokonstruktivistik  ini,  pengetahuan  yang 

dimiliki seseorang berasal dari sumber-sumber sosial yang terdapat di 

luar  dirinya.  Untuk  mengkonstruksi  pengetahuan,  diperlukan  peranan 

aktif  dari  orang  tersebut.  Pengetahuan  dan  kemampuan  tidak  datang 

dengan sendirinya, namun harus diusahakan dan dipengaruhi oleh orang 

lain.  Prinsip-prinsip  utama  teori  belajar  konstruktivistik  yang  banyak 

digunakan  dalam  pendidikan  adalah;  a)  pengetahun  dibangun  oleh 

peserta didik secara aktif, b) tekanan proses belajar mengajar terletak 

pada  peserta  didik,  c)  mengajar  adalah  membantu  peserta  didik,  d) 

tekanan dalam proses belajar dan bukan pada hasil belajar, e) kurikulum 

menekankan pada partisipasi peserta didik  dan f) guru adalah fasilitator.

Dapat disimpulkan bahwa dalam teori belajar konstruktivistik, 

proses belajar tidak dapat dipisahkan dari aksi (aktivitas) dan interaksi, 

karena  persepsi  dan  aktivitas  berjalan  seiring  secara  dialogis.  Belajar 

merupakan  proses  penciptaan  makna  sebagai  hasil  dari  pemikiran 

individu  melalui  interaksi  dalam  suatu  konteks  sosial.  Dalam  hal  ini, 

tidak ada perwujudan dari suatu kenyataan yang dapat dianggap lebih 

116

baik  atau  benar.  Vygotsky  percaya  bahwa  beragam  perwujudan  dari 

kenyataan  digunakan  untuk  beragam  tujuan  dalam  konteks  yang 

berbeda-beda.  Pengetahuan  tidak  dapat  dipisahkan  dari  aktivitas  di 

mana pengetahuan itu dikonstruksikan, dan di mana makna diciptakan, 

serta dari komunitas budaya di mana pengetahuan didiseminasikan dan 

diterapkan.  Melalui  aktivitas,  interaksi  sosial,  tersebut  penciptaan 

makna terjadi.

2)  Implikasi Teori Belajar konstruktivistik dalam Pembelajaran

Saudara mahasiswa dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa 

implikasi  teori  konstruktivistik  jika dikaitkan dengan pembelajaran  proses 

pembelajaran  modern  adalah  berkembangnya  pembelajaran  dengan  web 

(web  learning)  dan  pembelajaran  melalui  social  media  (social  media 

learning).  Smaldino,  dkk  (2012)  menyatakan  bahwa  pembelajaran  pada 

abad ke 21 telah banyak mengalami perubahan, intergrasi internet dan social 

media memberikan perspektif baru dalam pembelajaran. 

Pembelajaran  dengan  social  media  memberikan  kesempatan 

kepada  peserta  didik  untuk  berinteraksi,  berkolaborasi,  berbagi  informasi 

dan pemikiran secara bersama. Sama halnya dengan pembelajaran melalui 

social  media,pembelajaran  melalui  web  juga  memberikan  kesempatan

kepada  peserta  didik  untuk  melengkapi  satu  atau  lebih  tugas  melalui 

jaringan internet. Selain itu juga dapat melakukan pembelajaran kelompok 

dengan  menggunakan  fasilitas  internet  seperti  google  share.  Model 

pembelajaran  melalui  web  maupun  social  media  ini  sejalan  dengan  teori 

konstruktivistik, dimana peserta didik adalah pembelajar yang bebas yang 

dapat menentukan sendiri kebutuhan belajarnya.

Beberapa  implikasi  teori  konstruktivistik  dalam  pembelajaran 

adalah sebagai berikut :

a.  Kurikulum  disajikan  mulai  dari  keseluruhan  menuju  ke  bagianbagian dan lebih mendekatkan kepada konsep-konsep yang lebih 

luas 

117

b.  Pembelajaran  lebih menghargai pada pemunculan pertanyaan dan 

ide-ide peserta didik

c.  Kegiatan  kurikuler  lebih  banyak  mengandalkan  pada  sumbersumber data primer dan manipulasi bahan

d.  Peserta  didik  dipandang  sebagai  pemikir-peikir  yang  dapat 

memunculkan teori-teori tentang dirinya.

e.  Pengukuran proses dan hasil belajar peserta didik terjalin di dalam 

kesatuan kegiatan pembelajaran, dengan cara guru mengamati halhal yang sedang dilakukan peserta didik, serta melalui tugas-tugas 

pekerjaan

f.  Peserta didik-peserta didik banya belajar dan beerja di dalam group 

proses

g.  Memandang  pengetahuan  adalah  non  objektif,  berifat  temporer, 

selalu berubah, dan tidak menentu

h.  Belajar  adalah  penyusunan  pengetahuan,  sedangkan  mengajar 

adalah  menata  lingkungan  agar  peserta  didik  termotivasi  dalam 

menggali makna

Saudara  mahasiswa,  untuk  mempelajari  lebih  dalam  tentang 

implikasi  teori  belajar  konstruktivistik  dalam  pembelajaran  anda  dapat 

mengakses link: http://bit.ly/2NmpiZ0

d.  Teori belajar Humanistik dan implikasinya dalam pembelajaran

1)  Pengertian Belajar Menurut Teori Belajar Humanistik

Saudara mahasiswa, teori yang terakhir akan kita kaji dalam modul 

ini  adalah  teori  belajar  humanistik  yang  juga  penting  untuk  dipahami. 

Menurut teori humanistik, proses belajar harus dimulai dan ditujukan untuk 

kepentingan memanusiakan manusia itu sendiri.  Oleh sebab itu, teori belajar 

humanistik sifatnya lebih abstrak dan lebih mendekati bidang kajian filsafat, 

teori kepribadian, dan psikoterapi, dari pada bidang kajian psikologi belajar. 

Teori humanistik sangat mementingkan isi yang dipelajari dari pada proses 

belajar itu sendiri. Teori belajar ini lebih banyak berbicara tentang konsep-

118

konsep  pendidikan  untuk  membentuk  manusia  yang  dicita-citakan,  serta 

tentang proses belajar dalam bentuknya yang paling ideal. Dengan kata lain, 

teori ini lebih tertarik pada pengertian belajar dalam bentuknya yang paling 

ideal dari pada pemahaman tentang proses belajar sebagaimana apa adanya, 

seperti yang selama ini dikaji oleh teori-teori belajar lainnya.

Dalam pelaksanaannya, teori humanistik ini antara lain tampak juga 

dalam pendekatan belajar yang dikemukakan oleh Ausubel. Pandangannya 

tentang belajar bermakna atau “Meaningful Learning” yang juga tergolong 

dalam aliran kognitif ini, mengatakan bahwa belajar merupakan asimilasi 

bermakna. Materi yang dipelajari diasimilasikan dan dihubungkan dengan 

pengetahuan  yang  telah  dimiliki  sebelumnya.  Faktor  motivasi  dan 

pengalaman emosional sangat penting dalam peristiwa belajar, sebab tanpa 

motivasi  dan  keinginan  dari  pihak  si  belajar,  maka  tidak  akan  terjadi 

asimilasi  pengetahuan  baru  ke  dalam  struktur  kognitif  yang  telah 

dimilikinya. Teori humanistik berpendapat bahwa teori belajar apapun dapat 

dimanfaatkan, asal tujuannya untuk memanusiakan manusia yaitu mencapai 

aktualisasi  diri,  pemahaman  diri,  serta  realisasi  diri  orang  yang  belajar, 

secara optimal.

Pemahaman  terhadap  belajar  yang  diidealkan  menjadikan  teori 

humanistik dapat memanfaatkan teori belajar apapun asal tujuannya untuk 

memanusiakan manusia. Hal ini menjadikan teori humanistik bersifat sangat 

eklektik. Tidak dapat disangkal lagi bahwa setiap pendirian atau pendekatan 

belajar tertentu, akan ada kebaikan dan ada pula kelemahannya. Dalam arti 

ini  eklektisisme  bukanlah  suatu  sistem  dengan  membiarkan  unsur-unsur 

tersebut dalam keadaan sebagaimana adanya atau aslinya. Teori humanistik 

akan  memanfaatkan  teori-teori  apapun,  asal  tujuannya  tercapai,  yaitu 

memanusiakan manusia (Siregar & Nara, 2010).

Dari penalaran di atas ternyata bahwa perbedaan antara pandangan 

yang  satu  dengan  pandangan  yang  lain  sering  kali  hanya  timbul  karena

perbedaan sudut pandangan semata, atau kadang-kadang hanya perbedaan 

aksentuasi. Jadi keterangan atau pandangan yang berbeda-beda itu hanyalah 

119

keterangan mengenai hal  yang satu dan sama dipandang dari sudut  yang 

berlainan. Dengan demikian teori humanistik  dengan pandangannya yang 

eklektik  yaitu  dengan  cara  memanfaatkan  atau  merangkumkan  berbagai 

teori  belajar  dengan  tujuan  untuk  memanusiakan  manusia  bukan  saja 

mungkin  untuk  dilakukan,  tetapi  justru  harus  dilakukan.  Banyak  tokoh 

penganut aliran humanistik, di antaranya adalah Kolb yang terkenal dengan 

“Belajar Empat Tahap”, Honey dan Mumford dengan pembagian tentang 

macam-macam peserta didik, Hubermas dengan “Tiga macam tipe belajar”, 

serta  Bloom  dan  Krathwohl  yang  terkenal  dengan  “Taksonomi  Bloom”.

Berikut akan kita kaji pandangan dari beberapa tokoh tersebut.

a)  Pandangan David A. Kolb terhadap Belajar

Kolb  membagikan  tahapan  belajar 

menjadi  empat  tahap  (Siregar  &  Nara 

2010), yaitu: 1) Pengalaman konkrit, pada 

tahap  ini  peristiwa  belajar  adalah 

seseorang  mampu  atau  dapat  mengalami 

suatu peristiwa atau suatu kejadian sebagaima adanya. Akan tetapi ia hanya 

mengalami kajdian tersebut, tanpa mengerti kenapa dan bagaimana suatu 

kejadian harus terjadi seperti itu. 2) Pengamatan aktif dan reflektif, bahwa 

seseorang makin lama akan semakin mampu melakukan observasi secara 

aktif  terhadap  peristiwa  yang  dialaminya.  Ia  mulai  berusaha  mencari 

jawaban  dari  kejadian  tersebut  dan  memahami  kejadian  tersebut,  dengan 

mengembangkan pertanyaan pertanyaan bagaimana hal itu bisa terjadi. 3) 

Konseptualisasi, peristiwa belajar adalah seseorang sudah mulai berupaya 

untuk membuat abstraksi, mengembangkan suatu teori, konsep, atau hukum 

dan prosedur tentang sesuatu yang menjadi obyek perhatiannya. Pada tahap 

ini, diaharapkan peserta  didik mampu membuat peraturan-peraturan umum 

(generalisasi) dari berbagai contoh kejadian yang meskipun berbeda-beda 

tetapi  mempunyai  landasan  yang  sama.  4)  Eksperimen  aktif,  peristiwa 

belajar  adalah  melakukan  eksperimentasi  secara  aktif.  Pada  tahap  ini 

seseorang sudah mampu mengaplikasikan konsep-konsep, teori-teori atau 

120

aturan-aturan ke dalam situasi nyata. Berfikir deduktif banyak digunakan 

untuk  mempraktekkan  dan  menguji  teori-teori  serta  konsep-konsep  di 

lapangan. Ia tidak lagi mempertanyakan asal usul teori atau suatu rumus, 

tetapi  ia  mampu  menggunakan  teori  atau  rumus-rumus  tersebut  untuk 

memecahkan  masalah  yang  dihadapinya,  yang  belum  pernah  ia  jumpai 

sebelumnya.

Menurut  Kolb,  siklus  belajar  semacam  ini  terjadi  secara 

bekesinambungan  dan  diluar  kesadaran  seseorang  yang  belajar.  Secara 

teoretis  tahap-tahap  belajar  tersebut  memang  dapat  dipisahkan,  namun 

dalam  kenyataannya  proses  peralihan  dari  satu  tahap  ke  tahap  belajar  di 

atasnya  sering  kali  terjadi  begitu  saja  sulit  untuk  ditentukan  kapan 

terjadinya.

b)  Pandangan Peter Honey dan Alan Mumford terhadap Belajar

Berdasarkan  teori  Kolb,  Honey  dan  Mumford  menggolongkan 

peserta didik atas empat tipe (Siregar & Nara, 2010), yaitu sebagai berikut:

1)  Peserta  didik  tipe  aktivis,  yaitu  peserta  didik  yang  cenderung 

melibatkan  diri  pada  dan  berpartisipasi  aktif   dengan  berbagai 

kegiatan,  dengan  tujuan  mendapatkan  pengalaman-pengalaman 

baru.  Tipe ini, cenderung berpikiran terbuka, suka berdiskusi, mudah 

diajak berdialog, menghargai pendapat orang lain. Mereka menyukai 

metode-metode pembelajaran yang mampu mendorong menemukan 

hal-hal baru, seperti problem solving dan brainstorming.

2)  Peserta  didik  tipe  reflektor,  tipe  ini  cenderung  berhati  hati 

mengambil  langkah  dan  penuh  pertimbangan.  Dalam  mengambil 

keputusan  cenderung  konservatif,  maksudnya  mereka  sangat 

mempertimbangkan  baik-buruk  dan  untung  rugi,  selalu 

diperhitungkan dengan cermat dalam memtuskan sesuatu. 

3)  Peserta  didik  tipe  teoris,  tipe  ini  biasanya  sangat  kritis,  suka 

menganalisis,  selalu  berfikir  rasional  menggunakan  penalarannya. 

Segala  pendapat  pendapat  harus  berlandaskan  dengan  teori 

sehingga. Mereka tidak menyukai penilaian yang bersifat subyektif. 

121

Dalam melakukan atau memutuskan sesuatu, kelompok teoris penuh 

dengan  pertimbangan,  sangat  skeptis  dan  tidak  menyukai  hal-hal 

yang bersifat spekulatif.

4)  Peserta  didik  tipe  pragmatis,  tipe  ini  menaruh  perhatian  besar 

terhadap aspek-aspek praktis dalam segala hal, mereka tidak suka 

bertele-tele  dalam  membahas  aspek  toeritis-filosofis  dari  sesuatu. 

Bagi  mereka,  sesuatu  dikatakan  ada  gunanya  dan  baik  hanya  jika 

bisa dipraktikkan. 

c)  Pandangan Jurgen Hubermas terhadap Belajar

Menurut Hubermas, belajar sangat dipengaruihi oleh interaksi, baik 

lingkungan ataupun dengan sesama. Hubermas membagi tiga macam tipe 

belajar (Siregar & Nara, 2010), yaitu:

1)  Technical learning (belajar teknis)

Peserta didik belajar berinteraksi dengan alam alam sekelilingnya. 

Pengetahuan  dan  keterapilan  apa  yang  dibutuhkan  dan  perlu 

dipelajari agar mereka dapat menguasai dan mengelola lingkungan 

alam sekitarnya dengan baik. oleh seba itu, imu-ilmu alam atau sains 

amat dipentingkan dalam belajar teknis.

2)  Practical elarning (belajar praktis)

Belajar  praktis  adalah  belajar  bagaimana  seseorang  dapat 

berinteraksi dengan lingkungan sosialnya, yaitu dengan orang-orang 

di  sekelilingnya  dengan  baik.  kegiatan  belajar  ini  lebih 

mengutamakan  terjadinya  interaksi  yang  harmonis  antar  sesama 

manusia. Untuk itu  bidang-bidang ilmu yang berhubungan dengan 

sosiologi,  komunikasi,  psikologi,  antrophologi,  dan  semacamnya, 

amat  diperlukan.   mereka  percaya  bahwa  pemahaman  dan 

ketrampilan seseorang dalam mengelola lingkungan alamnya tidak 

dapat dipisahkan dengan kepentingan manusia pada umumnya. Oleh 

sebab itu, interaksi yang benar antara individu dengan lingkungan 

alamnya hanya  akan tampak dari kaitan atau  relevansinya dengan 

kepentingan manusia. 

122

3)  Emancpatory learning (belajar emansipatori) 

Belajar emansipatoris menekankan upaya agar seseorang mencapai 

suatu  pemahaman  dan  kesadaran  yang  tinggi  akan  terjadinya 

perubahan  atau  transformasi  budaya  dalam  lingkungan  sosialnya. 

Dengan  pengertian  demikian  maka  dibutuhkan  pengetahuan  dan 

ketrampilan  serta  sikap  yang  benar  untuk  mendukung  terjadinya 

transformasi  kultural  tersebut.  Untuk  itu,  ilmu-ilmu  yang 

berhubungan  dengan  budaya  dan  bahasa  amat  diperlukan. 

Pemahaman  dan  kesadaran  terhadap  transformasi  kultural  inilah 

yang  oleh  Habermas  dianggap  sebagai  tahap  belajar  yang  paling 

tinggi,  sebab  transformasi  kultural  adalah  tujuan  pendidikan  yang 

paling tinggi. 

d)  Pandangan  Benjamin  Samuel  Bloom  (1913-1999)  dan  David 

Krathwohl (1921-2016) terhadap Belajar. 

Bloom  dan  Krathwohl  menekankan  perhatiannya  pada  apa  yang 

mesti dikuasai individu (sebagai tujuab belajar), setelah melalui peristiwaperistiwa belajar. Tujuan belajar yang dikemukakannya dirangkum dalam 

tiga  kawasan  yang  biasa  disebut  dengan  Taksonomi  Bloom  (Siregar  & 

Nara). Secara ringkas, ketiga kawasan taksonomi Bloom tersebut sebagai 

berikut:

1.  Kawasan kognitif

Anderson  dan  Krathwohl  (2001)  melakukan  revisi  kawasan  kognitif. 

Terdapat 6 tingkatan pada kawasan kognitif, yaitu:

a)  Mengingat, meningkatkan ingatan atas materi yang disajikan dalam 

bentuk yang sama diajarkan.

b)  Mengerti,  mampu  membangun  arti  dai  pesan  pembelajaran, 

termasuk komunikasi lisan, tulisan maupun grafis.

c)  Memakai,  menggunakan  prosedur  untuk  mengerjakan  latihan 

maupun memecahkan masalah 

123

d)  Menganalisis,  memecah  bahan-bahan  ke  dalam  unsur-unsur 

pokoknya  dan  menetukan  bagaimaa  bagian-bagian  saling 

berhubungan satu sama lain dan kepada seluruh struktur

e)  Menilai,  membuat  pertimbangan  berdasarkan  kriteria  standar 

tertentu.

f)  Mencipta,  membuat  suatu  pokok  yang  baru  dengan  mengatur 

kembali unsur-unsur atau bagian-bagian ke dalam suatu pola atau 

struktur yang belum pernah ada

2.  Kawasan afektif

Kawasan afektif terdiri dari 5 tingkatan, yaitu:

a)  Penerimaan (receiving),  meliputi kesadaran akan adanya sesuatu, 

inging menerima, dan memperhatikannya.

b)  Pemberian respons (responding), meliputi sikap ingin merespons, 

puas dalam memberi respons.

c)  Pemberian nilai atau penghargaan (valuing), meliputi penerimaan 

terhadap  suatu  nilai  ,  memililih  sistem  nilai  yang  disukai  dan 

memberikan komitemen untuk menggunakan nilai tertentu.

d)  Pengorganisasian (organization),  meliputi menghubungkan nilainilai yang dipercayainya.

e)  Karakterisasi (characterization),  meluputi menjadikan nilai-nilai 

sebagai bagian pola hidupnya. 

3.  Kawasan psikomotor

a)  Peniruan, kemampuan mengamati gerakan.

b)  Penggunaan, kemampuan mengikuti pengarahan, gerakan pilihan 

dan pendukung.

c)  Ketepatan,  kemampuan  memberikan  respons  atau  melakukan 

gerak dengan benar.

d)  Perangkaian, kemampuan melakukan beberapa gerakan sekaligus 

dengan benar.

e)  Naturalisasi,  melakukan  gerakan  secara  rutin  dengan 

menggunakan energi fisik dan psikis yang minimal.  

124

2)  Implikasi Teori Belajar Humanistik dalam Kegiatan Pembelajaran

Teori  humanistik  sering  dikritik  karena  sukar  diterapkan  dalam 

konteks yang lebih praktis. Teori ini dianggap lebih dekat dengan bidang 

filsafat,  teori  kepribadian  dan  psikoterapi  dari  pada  bidang  pendidikan, 

sehingga  sukar  meterjemahkannya  ke  dalam  langkah-langkah  yang  lebih 

konkrit dan praktis. Namun karena sifatnya yang ideal, yaitu memanusiakan 

manusia, maka teori humanistik mampu memberikan arah terhadap semua 

komponen  pembelajaran  untuk  mendukung  tercapainya  tujuan  tersebut.

Semua komponen pendidikan termasuk tujuan pendidikan diarahkan pada 

terbentuknya  manusia  yang  ideal,  manusia  yang  dicita-citakan,  yaitu 

manusia  yang  mampu  mencapai  aktualisasi  diri.  Untuk  itu,  sangat  perlu 

diperhatikan  bagaimana  perkembangan  peserta  didik  dalam 

mengaktualisasikan  dirinya,  pemahaman  terhadap  dirinya,  serta  realisasi 

diri.

Pengalaman  emosional  dan  karakteristik  khusus  individu  dalam 

belajar  perlu  diperhatikan  oleh  guru  dalam  merencanakan  pembelajaran. 

Karena  seseorang  akan  dapat  belajar  dengan  baik  jika  mempunyai 

pengertian tentang dirinya sendiri dan dapat membuat pilihan-pilihan secara 

bebas ke arah mana ia akan berkembang. Dengan demikian teori humanistik 

mampu menjelaskan bagaimana tujuan yang ideal tersebut dapat dicapai.

Teori  humanistik  akan  sangat  membantu  para  pendidik  dalam 

memahami  arah  belajar  pada  dimensi  yang  lebih  luas,  sehingga  upaya 

pembelajaran apapun dan pada konteks manapun akan selalu diarahkan dan 

dilakukan untuk mencapai tujuannya. Meskipun teori humanistik ini masih 

sukar diterjemahkan ke dalam langkah-langkah pembelajaran yang praktis 

dan operasional, namun sumbangan teori ini amat besar. Ide-ide, konsepkonsep,  taksonomi-taksonomi  tujuan  yang  telah  dirumuskannya  dapat 

membantu  para  pendidik  dan  guru  untuk  memahami  hakekat  kejiwaan 

manusia.  Hal  ini  akan  dapat  membantu  mereka  dalam  menentukan 

komponen-komponen  pembelajaran  seperti  perumusan  tujuan,  penentuan 

125

materi, pemilihan strategi pembelajaran, serta pengembangan alat evaluasi, 

ke arah pembentukan manusia yang dicita-citakan tersebut.

Kegiatan pembelajaran yang dirancang secara sistematis, tahap demi 

tahap  secara  ketat,  sebagaimana  tujuan-tujuan  pembelajaran  yang  telah 

dinyatakan secara eksplisit dan dapat diukur, kondisi belajar yang diatur dan 

ditentukan, serta pengalaman-pengalaman belajar yang dipilih untuk peserta 

didik, mungkin saja berguna bagi guru tetapi tidak berarti bagi peserta didik 

(Rogers dalam Snelbecker, 1974). Hal tersebut tidak sejalan dengan teori 

humanistik.  Menurut  teori  ini,  agar  belajar  bermakna  bagi  peserta  didik, 

diperlukan inisiatif dan keterlibatan penuh dari peserta didik sendiri. Maka 

peserta didik akan mengalami belajar eksperiensial (experiential learning).

Pada  teori  humanistik,  guru  diharapkan  tidak  hanya  melakukan 

kajian bagaimana dapat mengajar yang baik, namun kajian mendlam justru 

dilakukan untuk menjawab pertanyaan bagaimana agar peserta didik dapat 

belajar  dengan  baik.  Jigna  dalam  jurnal  CS  Canada  (2012)  menekankan 

bahwa “To learn well, we must give the students chances to develop freely”. 

Pernyataan  ini  mengandung  arti  untuk  menghasikan  pembelajaran  yang 

baik,  guru  harus  memberikan  kesempatan  kepada  peserta  didik  untuk 

berkembang secara bebas.

Pendidikan  modern  mengalami  banyak  perubahan  jika 

dibandingkan  dengan  pendidikan  tradisional.  Pada  pendidikan  modern, 

peserta didik menyadari hal-hal yangterjadi dalam proses pembelajaran, hal 

ini  menunjukkan  hubungan  dua  arah  antara  guru  dan  peserta  didik. 

Sementara  itu,  dalm  pendidikan  tradisional  Proses  belajar  terjadi  secara 

stabil, dimana peserta didik dituntut untuk mengetahui informasi melalui 

buku  teks,  memahami  informasi  yang  mereka  dapatkan  tesebut  dan 

menggunakan  informasi  terbut  dalam  aktivitas  keseharian  peserta  didik. 

Sedangkan  dalam  pendidikan  modern,  peserta  didik  memanfaatkan 

teknologi  untuk  membuat  kognisi,  pemahaman  dan  membuat  konten 

pembelajaran menjadi lebih menarik dan lebih berwarna.  

126

Pada penerapan teori humanistic ini adalah hal yang sangat baik bila 

guru  dapat  membuat  hubungan  yang  kuat  dengan  peserta  didik  dan 

membantu peserta didik untuk membantu peserta didik berkembang secara 

bebas.  Dalam  proses  pembelajaran,  guru  dapat  menawarkan  berbagai 

sumber  belajar  kepada  peserta  didik,  seperti  situs-situs  web  yang 

mendukung  pembelajaran.  Inti  dari  pembelajaran  humanistic  adalah 

bagaimana memanusiakan peserta didik dan membuat proses pembelajaran 

yang menyenangkan bagi peserta didik. Dalam prakteknya teori humanistik 

ini  cenderung  mengarahkan  peserta  didik  untuk  berfikir  induktif, 

mementingkan pengalaman, serta membutuhkan keterlibatan peserta didik 

secara aktif dalam proses belajar. Untuk mempelajari lebih lanjut tentang 

implikasi  teori  belajar  humanistik  dalam  pembelajaran,  anda  dapat 

mengakses link: http://bit.ly/2JZfoKN

No comments:

Post a Comment

Soal KARAKTERISTIK PEMBELAJARAN ABAD 21

 1.  Pernyataan  berikut  yang  merupakan  fenomena  pembelajaran  abad  21  yang  menyebabkan era disrupsi pendidikan adalah….. 1.  Semakin...