Monday, 8 May 2023

KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK

 a.  Pengertian Karakteristik Peserta Didik

Saudara  mahasiswa,  tahukah  Anda  apa  itu  karakteristik  peserta  didik? 

Karakteristik  berasal  dari  kata  karakter  yang  berarti  ciri,  tabiat,  watak,  dan 

kebiasaan  yang  dimiliki  oleh  seseorang  yang  sifatnya  relatif  tetap.  Karakteristik 

peserta didik dapat diartikan keseluruhan pola kelakukan atau kemampuan  yang 

dimiliki  peserta  didik   sebagai  hasil  dari  pembawaan  dan  lingkungan,  sehingga 

menentukan aktivitasnya dalam mencapai cita-cita atau tujuannya. Informasi terkait 

54

karakteristik peserta didik sangat diperlukan untuk kepentingan-kepentingan dalam 

perancangan pembelajaran. Hal ini sebagaimana yang dikemukakan oleh Ardhana 

dalam  Asri  Budiningsih  (2017:  11)  karakteristik  peserta  didik  adalah  salah  satu 

variabel   dalam  desain  pembelajaran  yang  biasanya  didefinisikan  sebagai  latar 

belakang pengalaman yang dimiliki oleh peserta didik termasuk aspek-aspek lain 

yang  ada  pada  diri  mereka  seperti  kemampuan  umum,  ekspektasi  terhadap 

pembelajaran dan ciri-ciri jasmani serta emosional siswa yang memberikan dampak 

terhadap keefektifan belajar. 

Dari  pengertian  tersebut  dapat  disimpulkan  bahwa  pemahaman  atas 

karakteristik peserta didik dimaksudkan untuk mengenali ciri-ciri dari setiap peserta 

didik yang nantinya akan menghasilkan berbagai data terkait siapa peserta didik 

dan sebagai informasi penting yang nantinya dijadikan pijakan dalam menentukan 

berbagai metode yang optimal guna mencapai keberhasilan kegiatan pembelajaran. 

b.  Ragam Karakteristik Peserta Didik

Saudara  mahasiswa,  uraian  yang  akan  disajikan  berikut  ini  memaparkan

tentang  pentingnya  dan  ragam/jenis  karakteristik  peserta  didik.  Suatu  proses 

pembelajaran akan dapat berlangsung secara efektif atau tidak, sangat ditentukan 

oleh  seberapa   tinggi  tingkat  pemahaman  pendidik  tentang  karakteristik  yang 

dimiliki  peserta  didiknya.  Pemahaman  karakteristik  peserta  didik  sangat 

menentukan hasil belajar yang akan dicapai, aktivitas yang perlu dilakukan, dan 

assesmen  yang  tepat  bagi  peserta  didik.  Atas  dasar  ini  sebenarnya  karakteristik 

peserta  didik  harus  menjadi  perhatian  dan  pijakan  pendidik  dalam  melakukan 

seluruh  aktivitas  pembelajaran.   Karakteristik  peserta  didik  meliputi:  etnik, 

kultural,  status   sosial,   minat,  perkembangan  kognitif,  kemampuan  awal,  gaya 

belajar,  motivasi,  perkembangan  emosi,  perkembangan  sosial,  perkembangan 

moral  dan  spiritual,  dan  perkembangan  motorik.  Silahkan  cermati 

http://bit.ly/2PTwUnE 

Agar  Anda  memperoleh  gambaran  yang  jelas  tentang  ragam  karakteristik 

peserta didik tersebut, maka ikuti paparan berikut:

55

1.  Etnik 

Negara Indonesia merupakan negara yang luas wilayahnya dan kaya 

akan etniknya. Namun berkat perkembangan alat transpotasi yang semakin 

modern, maka seolah tidak ada batas antar daerah/suku dan juga tidak ada 

kesulitan menuju daerah lain untuk bersekolah, sehingga dalam sekolah dan 

kelas  tertentu  terdapat  multi  etnik/suku  bangsa,  seperti  dalam  satu  kelas 

kadang terdiri dari peserta didik etnik Jawa, Sunda, Madura, Minang, dan 

Bali,  maupun  etnik  lainnya.  Implikasi  dari  etnik  ini,  pendidik  dalam 

melakukan  proses pembelajaran perlu memperhatikan jenis etnik apa saja 

yang terdapat dalam kelasnya. Data tentang keberagaman etnis di kelasnya 

menjadi  informasi  yang  sangat  berharga  bagi  pendidik  dalam 

menyelenggarakan  proses  pembelajaran.  Seorang  pendidik  yang 

menghadapi  peserta  didik  hanya   satu  etnik  di  kelasnya,  tentunya  tidak 

sesulit  yang  multi  etnik.  Contoh  Pak  Ardi  seorang  pendidik   di  kelas  6 

Sekolah Dasar yang peserta didiknya terdiri dari etnik Jawa semua atau 

Sunda semua, tentunya tidak sesulit ketika menghadapi peserta didik dalam 

satu kelas yang multi etnik. Jika Pak Ardi melakukan proses pembelajaran 

dengan  peserta  didik  yang  multi  etnik  maka  dalam  melakukan  interaksi 

dengan  peserta  didik  di  kelas  tersebut  perlu  menggunakan  bahasa  yang 

dapat  dimengerti  oleh  semua  peserta  didiknya.  Kemudian  ketika 

memberikan  contoh-contoh  untuk  memperjelas  tema  yang  sedang 

dibahasnya  juga  contoh  yang  dapat  dimengerti  dan  dipahami  oleh 

semuanya. 

2.  Kultural 

Meskipun kita telah memiliki jargon Sumpah Pemuda yang mengakui 

bertumpah darah yang satu tanah air Indonesia, berbangsa yang satu bangsa 

Indonesia  dan  menjunjung  bahasa  persatuan  bahasa  Indonesia.  Namun 

peserta  didik  kita  sebagai  anggota  suatu  masyarakat  memiliki  budaya 

tertentu  dan  sudah  barang  tentu  menjadi  pendukung  budaya  tersebut. 

Budaya yang ada di masyarakat kita sangatlah beragam, seperti kesenian, 

56

kepercayaan, norma, kebiasaan, dan adat istiadat. Peserta didik yang kita 

hadapi  mungkin  berasal  dari  berbagai  daerah  yang  tentunya  memiliki 

budaya  yang  berbeda-beda  sehingga  kelas  yang  kita  hadapi  kelas  yang 

multikultural. 

Implikasi dari aspek kultural dalam proses pembelajaran ini pendidik 

dapat  menerapkan  pendidikan  multikultural.  Pendidikan  multikultural 

menurut Choirul (2016: 187) memiliki ciri-ciri: 1) Tujuannya membentuk 

“manusia budaya” dan menciptakan manusia berbudaya (berperadaban). 2). 

Materinya  mangajarkan  nilai-nilai  luhur  kemanusiaan,  nilai-nilai  bangsa, 

dan  nilai-nilai  kelompok  etnis  (kultural).  3)  metodenya  demokratis,  yang 

menghargai aspek-aspek perbedaan dan keberagaman budaya bangsa dan 

kelompok  etnis  (multikulturalisme).  4).   Evaluasinya  ditentukan  pada 

penilaian terhadap tingkah laku anak didik  yang meliputi aspek persepsi, 

apresiasi, dan tindakan terhadap budaya lainnya. 

Atas  dasar  definisi  dan  ciri-ciri  pendidikan  multikultural  tersebut  di 

atas, maka    pendidik dalam melakukan proses pembelajaran harus mampu 

mensikapi  keberagaman  budaya  yang  ada  di  sekolahnya/kelasnya. 

Misalnya Pak Irwan seorang pendidik disalah satu SMA ketika menjelaskan 

materi  pelajaran  dan  dalam  memberikan  contoh-contoh  perlu 

mempertimbangkan  keberagaman  budaya  tersebut,  sehingga  apa  yang 

disampaikan  dapat  diterima  oleh  semua  peserta  didik,  atau  tidak  hanya 

berlaku untuk budaya tertentu saja. 

3.  Status Sosial 

Manusia  diciptakan  Tuhan  dengan  diberi  rizki  seperti  berupa 

pekerjaan, kesehatan, kekayaan, kedudukan, dan penghasilan yang berbedabeda. Kondisi seperti ini juga melatar belakangi peserta didik yang ada 

pada suatu kelas atau sekolah kita. Peserta didik pada suatu kelas biasanya 

berasal  dari  status  sosial-ekonomi  yang  berbeda-beda.   Dilihat  dari  latar 

belakang pekerjaan orang tua, di kelas kita terdapat peserta didik yang orang 

tuanya wira usahawan, pegawai negeri, pedagang, petani, dan juga mungkin 

57

menjadi buruh. Dilihat dari sisi jabatan orang tua, ada peserta didik yang 

orang tuanya menjadi pejabat seperti presiden, menteri, gubernur, bupati, 

camat, kepala desa, kepala kantor atau kepala perusahaan, dan Ketua RT. 

Disamping itu ada peserta didik yang berasal dari keluarga ekonomi mampu, 

ada  yang berasal dari keluarga  yang cukup mampu, dan ada juga peserta 

didik yang berasal dari keluarga yang kurang mampu. 

Peserta didik dengan bervariasi status ekonomi dan sosialnya menyatu 

untuk  saling  berinteraksi  dan  saling  melakukan  proses  pembelajaran. 

Perbedaan  ini  hendaknya  tidak  menjadi  penghambat  dalam  melakukan 

proses pembelajaran. Namun tidak dapat dipungkiri kadang dijumpai status 

sosial ekonomi ini menjadi penghambat peserta didik dalam belajar secara 

kelompok.  Implikasi  dengan  adanya  variasi  status-sosial  ekonomi  ini 

pendidik  dituntut  untuk  mampu  bertindak  adil  dan  tidak  diskriminatif. 

Contohnya dalam proses pembelajaran pendidik jangan sampai membedabedakan atau diskriminatif dalam memberikan pelayanan kepada peserta 

didiknya,  dan juga dalam memberikan tugas-tugas yang sekiranya mampu 

diselesaikan  oleh  semua  peserta  didik  dengan  latar  belakang  ekonomi 

sosial yang sangat beragam. 

4.  Minat

Minat  dapat  diartikan  suatu  rasa  lebih  suka,  rasa  ketertarikan  pada 

suatu  hal  atau  aktivitas.  Hurlock   (1990:  114)  menyatakan  bahwa  minat 

merupakan  suatu  sumber  motivasi  yang  mendorong  seseorang  untuk 

melakukan  kegiatan  yang  dipilihnya.  Apabila  seseorang   melihat  sesuatu 

yang memberikan manfaat, maka dirinya akan memperoleh kepuasan dan 

akan  berminat  pada  hal  tersebut.  Lebih  lanjut  Sardiman,  (2011:  76) 

menjelaskan  bahwa  minat  sebagai  suatu  kondisi  yang  terjadi  apabila 

seseorang  melihat  ciri-ciri  atau  arti  sementara   situasi  yang  dihubungkan 

dengan  keinginan-keinginan  atau  kebutuhan-kebutuhannya  sendiri.  Oleh 

karena  itu  apa  yang  dilihat  seseorang  sudah  tentu  akan  membangkitkan 

58

minatnya  sejauh  apa  yang  dilihat  itu  mempunyai  hubungan  dengan 

kepentingan orang tersebut. 

Atas dasar hal tersebut sebenarnya minat seseorang khususnya minat 

belajar peserta didik memegang peran yang sangat penting. Sehingga perlu 

untuk  terus  ditumbuh  kembangkan  sesuai  dengan  minat  yang  dimiliki 

seorang  peserta  didik.   Namun  sebagaimana  kita  ketahui  bahwa  minat 

belajar peserta didik tidaklah sama, ada peserta didik yang memiliki minat 

belajarnya tinggi, ada yang sedang, dan bahkan rendah. 

Untuk mengetahui apakah  peserta  didik memiliki minat belajar yang

tinggi atau tidak sebenarnya dapat dilihat dari indikator minat itu sendiri. 

Indikator  minat  meliputi:  perasaan  senang,  ketertarikan  peserta  didik, 

perhatian dalam belajar,  keterlibatan siswa  dalam kegiatan pembelajaran, 

manfaat dan fungsi mata pelajaran. Agar diperoleh gambaran yang lebih 

jelas maka akan diuraikan dalam paparan berikut. 

Perasaan  senang,  seseorang  peserta  didik  yang  memiliki  perasaan 

senang  atau  suka  terhadap  mata  pelajaran  tertentu  akan  memperlihatkan 

tindakan yang bersemangat terhadap hal tersebut.  Contohnya, peserta didik 

yang gemar dengan mata pelajaran Matematika, maka peserta didik  tersebut 

akan  merasa  bersemangat  dan  terus  mempelajari  ilmu  yang  berkaiatan 

dengan  Matematika,  tanpa  ada  perasaan  terpaksa  dalam  belajar. 

Ketertarikan  peserta  didik,  ini  berkaitan  dengan  daya  gerak  yang 

mendorong  peserta  didik  untuk  cenderung  merasa  tertarik  pada  orang, 

benda, kegiatan, dapat berupa pengalaman yang dirangsang oleh kegiatan 

itu  sendiri,  Perhatian  dalam  belajar,  perhatian  atau  konsentrasi  dapat 

diartikan terpusatnya mental seseorang terhadap suatu objek. Peserta didik 

yang memiliki minat terhadap objek tertentu, maka peserta didik tersebut 

dengan  sendirinya  peserta  didik  tersebut  memperhatikan  objek  tersebut. 

Contohnya  peserta didik  yang  memiliki minat pada seni musik maka peserta 

didik tersebut akan memperhatikan ketika terdengar bunyi musik, bahkan 

gemar mendatangi konser-konser music. Peserta didik merasa lebih mudah 

dan  bersemangat  dalam  belajar  jika  diiringi  dengan  alunan  music. 

59

Keterlibatan  belajar,  keterlibatan  atau  partisipasi  peserta  didik  dalam 

belajar  sangat  penting,  karena   apabila  peserta  didik  terlibat  aktif  dalam 

belajar  maka  hasilnya  tentu  akan  baik.  Ketelibatan  belajar  akan  muncul 

manakala tertarik pada objek yang dipelajari yang kemudian merasa senang 

dan tertarik untuk melakukan kegiatan dari objek tersebut.  Manfaat dan 

fungsi mata pelajaran,  jika manfaat dari apa  yang dipelajari  oleh  peserta 

didik dapat diketahui dan dipahami secara jelas, maka akan menumbuhkan 

motivasi  peserta  didik.  Manfaat  dari  mata  pelajaran  tertentu  sebenarnya 

tidak hanya untuk sekarang tapi bisa manfaat untuk masa mendatang, atau 

manfaat  bukan  hanya  saat  di  sekolah  tetapi  bisa  manfaat  ketika  sudah 

bekerja atau dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat.

Berdasarkan  uraian  di  atas,  minat  belajar  merupakan  faktor  penting 

dalam  proses  pembelajaran,  dan  perlu  untuk  selalu  ditingkatkan. 

Implikasinya dalam proses pembelajaran terutama menghadapi  tantangan 

abad  21,  pendidik  dapat  menerapkan  berbagai  model  pembelajaran  yang 

menyenangkan  (enjoyable   learning),  menantang  dan  inovatif, 

menyampaikan  tujuan/manfaat  mempelajari  suatu  tema/mata  pelajaran, 

serta menggunakan beragam media pembelajaran. 

Contoh aplikasi dalam pembelajaran, Pak Ardi seorang pendidik dari 

salah satu sekolah A, hari itu sudah disepakti membahas tema H, Pada saat 

melakukan  proses  pembelajaran,  diawal  pembelajaran  terlebih  dahulu 

mengemukakan  tema  yang  akan  dipelajarinya,  menyampaikan  tujuan 

pembelajaran  yang  diharapkan  dimiliki,  dan  manfaat  yang  peserta  didik 

peroleh setelah mempelajari tema H. Kemudian untuk melihat kemampuan 

awal peserta didiknya dilakukan pre tes/tes awal terlebih dahulu. Setelah 

tahap-tahap tersebut dilakukan kemudian Pak Ardi melakukan tahap inti 

yaitu  membahas  tema  H  melalui  media  permainan  ular  tangga  yang 

menjadi kesukaannya peserta didik tentang materi H yang telah disiapkan 

(Belajar melalui media permainan Ular Tangga). Suasana kelas tampak 

antusias, aktif, dan menyenangkan. Setelah materi dipahami dan waktunya 

cukup maka Pak Ardi mengakhiri pelajaran dengan kegiatan penutup.  

60

Berdasarkan ilustrasi  tentang  apa yang dilakukan Pak Ardi tersebut, 

peserta  didik  tumbuh  minatnya  untuk  belajar.  Dengan  dimilikinya  minat 

belajar  yang  tinggi  oleh  peserta   didik  maka  hasil  belajar  tentunya  akan 

menjadi lebih baik.

5.  Perkembangan Kognitif

Tingkat  perkembangan  kognitif  yang  dimiliki  peserta  didik  akan 

mempengaruhi  guru  dalam  memilih  dan  menggunakan  pendekatan 

pembelajaran, metode, media, dan jenis evaluasi. Taman Kanak-kanak yang 

peserta  didiknya  sekitar  berumur  5-6  tahun,  sudah  tentu   berbeda 

pendekatan, metode, dan media yang digunakan ketika menghadapi peserta 

didik. Sekolah Dasar yang peserta didiknya berusia 7-11 tahun, dan peserta 

didik Sekolah Menengah Pertama yang usianya berkisar 12-14 tahun dan 

juga  peserta  didik  Sekolah  Menengah  Atas  atau  Sekolah  Menengah 

Kejuruan,  yang  umumnya  berusia  15-17  tahun,  karena  dilihat  dari 

perkembangan intelektualnya jelas berbeda. Menurut Piaget perkembangan 

intelektual anak usia Taman Kanak-Kanak berada pada taraf pra operasional 

konkrit  sedangkan  peserta  didik  Sekolah  Dasar  berada  pada  tahap 

operasional  konkrit,  dan  peserta  didik  Sekolah  Menengah  Pertama  dan 

Sekolah  Menengah  Atas  atau  Sekolah  Menengah  Kejuruan   pada  tahap 

operasional  formal.  Tahap-tahap  perkembangan  intelektual  peserta  didik 

menurut Piaget dalam Masganti (2012: 83) secara lengkap dapat disajikan 

sebagai berikut:

0,0 - 2,0 tahun: Tahap Sensorimotorik

2,0 – 7,0 tahun: Tahap Preoperasional

7,0 – 11,0 tahun: Tahap Operasional kongkret

11,0 – 15,0 tahun: Tahap Operasional formal

Berdasarkan  teori  perkembangan  dari  Piaget  tersebut,  selanjutnya 

dapat  diketahui  tiga  dalil  pokok  Piaget  dalam  kaitannya  dengan  tahap 

perkembangan  intelektual.  Ruseffendi  dalam  Dwi  Siswoyo,  dkk.  (2013: 

101)  menyebutkan  sebagai  berikut:  1).  Bahwa  perkembangan  intelektual 

61

terjadi melalui tahap-tahap beruntun yang selalu terjadi dengan urutan yang 

sama.  Maksudnya  setiap  manusia  akan  mengalami  urutan  tersebut  dan 

dengan  urutan  yang  sama;   2).  Bahwa  tahap-tahap  perkembangan 

didefinisikan  sebagai  suatu  cluster  dari  operasi  mental  (pengurutan, 

pengekalan,  pengelompokkan,  pembuatan  hipotesis  dan  penarikan 

kesimpulan) yang menunjukkan adanya tingkah laku intelektual. 3) Bahwa 

gerak melalui melalui tahap-tahap tersebut dilengkapi oleh keseimbangan 

(equilibration), proses pengembangan yang menguraikan tentang interaksi 

antara  pengalaman  (asimilasi)  dan  struktur  kognitif  yang  timbul 

(akomodasi). Uraian lebih lanjut tentang perkembangan koginitif dari Piaget 

dapat Anda dicermati pada kegiatan belajar 3 tentang Teori Belajar Kognitif. 

6.  Kemampuan/pengetahuan awal

Saudara  mahasiswa,  tetap  semangat  ya!  Selanjutnya  kita  akan 

mengkaji  tentang  kemampuan/pengetahuan  awal  peserta  didik. 

Kemampuan awal atau entry behavior  menurut Ali (1984: 54) merupakan 

keadaan pengetahuan dan keterampilan yang harus dimiliki terlebih dahulu 

oleh  peserta  didik  sebelum  mempelajari  pengetahuan  atau  keterampilan 

baru.  Pengetahuan  dan  keterampilan  yang  harus  dimiliki  terlebih  dahulu 

maksudnya  adalah  pengetahuan atau keterampilan yang lebih rendah dari 

apa yang akan dipelajari.  Contohnya  Siswa sebelum mempelajari tentang 

pembagian  maka  siswa  tersebut  harus  mengusai  terlebih  dahulu  tentang 

konsep  pengurangan.   Kemampuan  awal  bagi  peserta  didik  akan  banyak 

membawa pengaruh terhadap hasil belajar yang dicapainya. Oleh karena itu 

seorang pendidik harus mengetahui kemampuan awal peserta didiknya. Jika 

kemampuan  awal  peserta  didik  telah  diketahui  oleh  pendidik,   maka 

pendidik tersebut akan dapat menetapkan dari mana pembelajarannya akan 

dimulai. Kemampuan awal peserta didik bersifat individual, artinya  berbeda 

antara  peserta  didik  satu  dengan  lainnya,  sehingga  untuk  mengetahuinya 

juga harus bersifat individual.  

62

Cara  untuk  mengetahui  kemampuan  awal  peserta  didik  dapat 

dilakukan melalui teknik tes yaitu pre tes atau tes awal dan teknik non tes 

seperti  wawancara.  Melalui  wawancara  dan   tes  awal  maka  kemampuan 

awal peserta didik dapat diketahui. Kemampuan menjawab tes awal dapat 

dijadikan dasar untuk menetapkan materi pembelajaran. Sebagai contoh: 

Ardi  seorang  pendidik  tingkat  Sekolah  Dasar,  ketika  akan  melaksanakan 

proses  pembelajaran  topik  tentang  darah,  diawali  dengan  melakukan  tes 

awal/pre tes terlebih dahulu. Setelah peserta didik menjawab soal-soal yang 

diberikan akan terlihat soal-soal mana yang bisa dijawab dengan baik dan 

soal-soal mana yang tidak dapat dijawab dengan baik. Misalnya saja  soal 

yang  membahas  golongan  darah  dan  fungsi  darah  sudah  dapat  dijawab 

dengan baik, namun peserta didik belum mampu menjawab soal-soal yang 

berkaitan dengan komponen-komponen darah, proses peredaran darah, dan 

penyakit yang mempengaruhi peredaran darah. Atas dasar data ini maka Pak 

Ardi  dalam  melakukan  pembelajarannya  difokuskan  pada  komponenkomponen darah, proses peredaran darah, dan penyakit yang mempengaruhi 

peredaran  darah, sedangkan golongan darah dan fungsi darah tidak perlu 

dibahas detail lagi. 

Di samping hal tersebut di atas untuk mengetahui kemampuan awal 

peserta didik dapat dilakukan melalui analisis instruksional/pembelajaran. 

Dalam melakukan analisis pembelajaran guru harus menentukan hierarkhi 

kemampuan yang akan dicapainya. Kemampuan yang lebih rendah itulah

sebagai kemampuan awalnya  (entry behavior).  Contohnya saat  Pak Yudi 

akan melakukan pembelajaran tentang  topik darah, hierarkhi kemampuan 

yang  akan  dicapai   peserta  didik  yaitu  siswa  dapat  menjelaskan  darah, 

golongan  darah,  komponen  darah,  fungsi  darah,  dan  penyakit  yang 

mempengaruhi  peredaran  darah.  Berdasarkan  hierarkhi  kemampuan  ini 

maka kemampuan menjelaskan pengertian darah akan menjadi kemampuan 

awal  yang  harus  dimiliki  ketika  akan  membahas  golongan  darah,  dan 

seterusnya.

63

7.  Gaya belajar

Gaya belajar menurut Masganti (2012: 49) didefinisikan sebagai cara 

yang  cenderung  dipilih  seseorang  untuk  menerima  informasi  dari 

lingkungan  dan  memproses  informasi  tersebut.  DePorter  dan  Hemacki 

dalam  Masganti  (2012;  49)  gaya  belajar  adalah  kombinasi  dari  cara 

menyerap, mengatur dan mengolah informasi. Dari dua pendapat tersebut 

dapat  ditegaskan  bahwa    gaya  belajar  adalah  cara  yang  cenderung 

dipilih/digunakan  oleh  peserta  didik  dalam  menerima,  mengatur,  dan 

memproses informasi atau pesan dari komunikator/pemberi informasi. Gaya 

belajar peserta didik merupakan hal yang penting untuk diperhatikan dalam 

melakukan  proses  pembelajaran  karena  dapat  mempengaruhi  proses  dan 

hasil  belajarnya.  Gaya  belajar  dapat  dikelompokkan  menjadi  tiga  yaitu 

visual, auditif, dan kinestetik. Hal ini juga diungkapkan oleh Connell (dalam 

Yaumi: 2013: 125) yaitu visual learners, auditory learners, dan kinesthetic 

learners. 

Pertama, peserta didik visual yaitu peserta didik yang belajarnya akan 

mudah dan baik jika melalui visual/penglihatan. Atau dengan perkataan lain 

modalitas  penglihatan  menjadi  modal  utama  bagi   peserta  didik  yang 

memiliki gaya belajar ini. Peserta didik kelompok ini memiliki kesulitan 

jika  pembelajaran  dilakukan  melalui  presentasi  verbal  tanpa   disertai 

gambar-gambar  atau  simbol  visual.   Peserta  didik  bergaya  belajar  visual 

memiliki  kekuatan  visual,    sehingga  seorang  pendidik  ketika  melakukan 

proses pembelajaran perlu menggunakan strategi pembelajaran dan media 

yang  dapat  mempermudah  proses  belajar  mereka.  Misalnya  guru  ketika 

melakukan proses pembelajaran dapat menggunakan media visual seperti: 

gambar, poster, diagram,  handout,  powerpoint, peta konsep, bagan, peta, 

film,  video,  multimedia,  dan  televisi.  Di  samping  itu  peserta  didik  dapat 

diajak untuk melakukan observasi/mengunjungi ke tempat-tempat seperti: 

museum  dan  tempat-tempat  peninggalan  sejarah.  Kegiatan  lainnya  dapat 

juga  mengajak peserta didik untuk membaca buku-buku yang berilustrasi 

visual, menggunakan warna untuk menandai hal-hal penting dari isi bacaan.  

64

Kedua, Peserta didik auditori, yaitu mereka yang mempelajari sesuatu 

akan  mudah  dan  sukses   melalui  pendengaran.  Alat  dria  pendengaran 

merupakan  modal  utama  bagi  peserta  didik  bergaya  belajar  ini.   Peserta 

didik  yang  bergaya  belajar  auditori  akan  menyukai  penyajian  materi 

pembelajarannya  melalui  ceramah  dan  diskusi.  Mereka  juga  memiliki 

kekuatan mendengar sangat baik, senang mendengar dan kemampuan lisan 

sangat   hebat,  senang  berceritera,  mampu  mengingat  dengan  baik  materi 

yang didiskusikan, mengenal banyak lagu dan bahkan dapat menirukannya 

secara  cepat  dan  lengkap.  Namun  demikian  peserta  didik  yang  bertipe 

belajar auditori mudah kehilangan konsentrasi ketika ada suara-suara ribut 

di sekitarnya, tidak suka pada tugas membaca, dan mereka tidak suka pada 

jumlah kelompok yang anggotanya terlalu besar. Oleh karena itu pendidik 

dalam  melakukan  proses  pembelajaran  selain  melakukan 

presentasi/ceramah  juga  dapat:  1)  menggunakan  media  rekaman  seperti 

kaset  audio/CD  audio  pembelajaran,  2)  peserta  didik  diajak  untuk 

berpartisipasi  dalam  diskusi,  3)  upayakan  suasana  belajar  jauh  dari 

kebisingan  atau  keributan,  dan  3)   dapat  menggunakan  musik  untuk 

mengajarkan suatu topik/materi pelajaran tertentu.

Ketiga, Peserta didik  dengan gaya belajar  kinestetik,  adalah  peserta 

didik  yang  melakukan  aktivitas  belajarnya  secara  fisik  dengan  cara 

bergerak,  menyentuh/meraba,  dan  melakukan.  Peserta  didik  tipe  belajar 

melalui anggota tubuhnya atau menggunakan fisik lebih banyak dari pada 

melihat  dan  mendengarkan,  seperti   senang  bergerak/berpindah  ketika 

belajar, mengoyang-goyangkan kaki, tangan, kepala,  gemar/suka menulis 

dan mengerjakan sesuatu dengan tangannya, banyak menggunakan bahasa 

non  verbal/bahasa  tubuh,  suka  menyentuh  sesuatu  yang  dijumpainya. 

Sebaliknya peserta didik yang bergaya belajar kinestetik sulit berdiam diri 

dalam waktu lama, sulit mempelajari sesuatu yang abstrak, seperti rumusrumus,  dan  kurang  mampu  menulis  dengan  rapi.   Oleh  karena  itu  jika 

pendidik menghadapi peserta didik bergaya belajar kinestetik maka dalam 

proses pembelajarannya 1) dapat menggunakan objek nyata untuk belajar 

65

konsep baru, dan 2) mengajak  peserta didik untuk belajar mengeksplorasi 

lingkungan. 

Menentukan  peserta  didik  bergaya  belajar  visual,  auditori,  atau 

kinestetik  memang  tidaklah  mudah.  Namun  guru  perlu  mengetahui  gaya 

belajar  yang dimiliki peserta didiknya. Connel (dalam Yaumi 2013: 127) 

memberikan cara dengan menggunakan angket Gaya Belajar  Anak. Dalam 

angket ini peserta didik diberikan sepuluh pertanyaan yaitu 1). Bagaimana 

kebiasaan anda dalam belajar sesuatu yang baru? 2). Apa yang biasa anda 

lakukan  di  dalam  rumah  pada  waktu  senggang?  3)  Apa  yang  biasa  anda 

lakukan  pada  akhir  pekan?,  4).  Bagaimana  cara  yang  terbaik  bagi  anda 

dalam  mengingat  nomor  telepon,  5).  Apa  yang  anda  perhatikan  ketika 

menonton film?, 6). Ketika anda membaca bukju ceritera apa yang paling 

diperhatikan? 7). Bagaimana anda menceriterakan kepada seseorang tentang 

binatang yang luar biasa yang pernah anda lihat? 8). Saya baru memahami 

sesuatu itu bagus sekali setelah saya …. 9) salah satu kebiasaan saya untuk 

menghabiskan waktu adalah …. 10). Ketika saya bertemu dengan orang 

baru, saya biasa mengingat….. 

Melalui  pertanyaan-pertanyaan  tersebut  akan  diketahui 

kecenderungan gaya belajar yang dimilikinya. Dengan diketahuinya gaya 

belajar yang dimiliki peserta didik, maka akan berimplikasi terhadap model 

pembelajaran,  strategi,  metode,  dan  media  pembelajaran   yang  akan 

digunakan.  Contoh,  Bu  Santi  sebagai guru disuatu kelas memiliki peserta 

didik  30,  dari  jumlah  tersebut  diketahui  ada  2  jenis  gaya  belajar  yang 

dominan  dimiliki  peserta  didiknya  yaitu  18  peserta  didik  yang  bergaya 

belajar visual dan 12 peserta didik bergaya belajar auditori. Bu  Santi akan 

lebih  tepat  jika  dalam  melakukan  pembelajarannya  tidak  klasikal  tetapi 

kelompok, yaitu kelompok peserta didik yang dominan bergaya visual dan 

kelompok peserta didik yang dominan bergaya belajar auditori. Kelompok 

belajar  yang  dominan  bergaya  belajar  visual  pembelajarannya  bisa 

dilakukan misal melalui multimedia pembelajaran dan membaca modul atau 

buku  paket,  sedangkan  yang  dominan  bergaya  belajar  auditori 

66

pembelajarnnya  diputarkan  CD  audio  pembelajaran,  dan  mendiskusikan 

suatu topik secara verbal. 

Perlu diingat bahwa gaya belajar seseorsng tidsk terkotsk-kotsk drcsrs 

terpisah-pisah,  namun  gaya  belajar  sesorang  merupakan  gabungan  dari 

beberapa  gaya  belajar  meskipun  terkadang  ada  salah  satu  yang  lebih 

dominan.  Saudara  mahasiswa,  agar  Anda  lebih  memahami  terkait  materi 

ragam gaya belajar silahkan kunjungi link berikut :  http://bit.ly/34HmmMC

8.  Motivasi

Motivasi telah banyak didefinisikan oleh para ahli, diantaranya oleh 

Wlodkowski  (dalam  Suciati,  1994:41)  yaitu  suatu  kondisi  yang 

menyebabkan atau menimbulkan perilaku tertentu, dan yang memberi arah 

dan ketahanan  (persistence) pada tingkah laku tersebut. Motivasi kadang 

timbul dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi instrinsik dan kadang 

motivasi  itu  muncul  karena  faktor  dari  luar  dirinya  sendiri  (motivasi 

ekstrinsik).  Disamping  itu  motivasi  peserta  didik  dalam  belajar  kadang 

tinggi, sedang, atau bahkan rendah. Motivasi belajar yang tinggi dari peserta 

didik akan tampak dari ketekunannya dalam belajar yang tidak mudah patah 

untuk mencapai keberhasilan meskipun banyak rintangan yang dihadapinya. 

Motivasi  yang  tinggi  dari  peserta  didik  dapat  menggiatkan  aktivitas 

belajarnya. Seseorang memiliki motivasi tinggi atau tidak dalam belajarnya 

dapat  terlihat  dari  tiga  hal:  1)  kualitas  keterlibatannya,  2)  perasaan  dan 

keterlibatan afektif peserta didik, 3) upaya peserta didik untuk senantiasa 

memelihara/menjaga motivasi yang dimiliki. 

Seorang pendidik pada abad 21 ini perlu memahami motivasi belajar 

peserta didiknya dan bahkan harus selalu dapat menjadi motivator peserta 

didiknya, karena pada abad 21 ini banyak godaan di sekeliling peserta didik 

seperti game pada computer personal, dan game online, dan film-film pada 

pesawat televisi  ataupun lewat media massa atau sosial lainnya. Upaya yang 

dapat  dilakukan  pendidik  untuk  memotivasi  peserta  didik  diantaranya: 

menginformasikan  pentingnya/manfaat  mempelajari  suatu  topik  tertentu, 

67

menginformasikan  tujuan/kompetensi  yang  akan  dicapai  dari  proses 

pembelajaran yang dilakukannya, memberikan humor, menggunakan media 

pembelajaran,  dan  juga  memberi  reward/hadiah/pujian.  Misal  Pak  Fikri 

selaku  pendidik  Sekolah  Dasar,  meminta  kepada  peserta  didiknya  untuk 

belajar secara berkelompok mendiskusikan suatu topik. Setelah berdiskusi 

masing-masing  kelompok  untuk  melaporkan  hasil  diskusinya,  misal 

kelompok 1 diminta melaporkan/mempresentasikan hasil diskusinya lebih 

dahulu. Setelah presentasi selesai guru kemudian memberi pujian dengan 

mengatakan  bagus  sekali  presentasi  kalian.  Kemudian  giliran  kelompok 

berikutnya,  setelah  presentasi  selesai  Pak  Fikri  kembali  memuji  peserta 

didiknya dengan mengatakan hebat, kelompok kalian hebat. Dari tindakan 

guru seperti itu tentunya peserta didiknya akan menjadi lebih semangat atau 

termotivasi dalam belajarnya. 

9.  Perkembangan emosi

Emosi telah banyak didefinisikan oleh para ahli, diantaranya Kartono 

dalam Sugihartono  (2013: 20) mendefinisikan emosi sebagai tergugahnya 

perasaan yang disertai dengan perubahan-perubahan dalam tubuh, misalnya 

otot  menegang,  dan  jantung  berdebar.  Dengan  emosi  peserta  didik  dapat 

merasakan  senang/gembira,  aman,  semangat,  bahkan  sebaliknya  peserta 

didik merasakan sedih, takut, dan sejenisnya. 

Emosi  sangat  berperan  dalam  membantu  mempercepat  atau  justru 

memperlambat proses pembelajaran. Emosi juga berperan dalam membantu 

proses  pembelajaran  tersebut  menyenangkan  atau  bermakna.  Goleman, 

(dalam Sugihartono, 2013: 21) menyatakan bahwa tanpa keterlibatan emosi, 

kegiatan saraf otak kurang mampu “merekatkan” pelajaran dalam ingatan. 

Suasana emosi yang positif atau menyenangkan atau tidak menyenangkan 

membawa  pengaruh  pada  cara  kerja  struktur  otak  manusia  dan  akan 

berpengaruh pula pada proses dan hasil belajar. Atas dasar hal ini pendidik 

dalam melakukan proses pembelajaran perlu membawa suasana emosi yang 

senang/gembira dan tidak memberi rasa takut pada peserta didik. Untuk itu 

68

bisa  dilakukan  dengan  model  pembelajaran  yang  menyenangkan  (enjoy 

learning),  belajar  melalui  permainan  (misalnya  belajar  melalui  bermain 

monopoli  pembelajaran,  ular  tangga  pembelajaran,  kartu  kwartet 

pembelajaran) dan media sejenisnya. 

10.  Perkembangan sosial

Perkembangan  sosial  menurut  Hurlock,  (1998:  250)  adalah 

kemampuan  anak  untuk  berinteraksi  dengan  lingkungannya,  bagaimana 

anak tersebut memahami keadaan lingkungan dan mempengaruhinya dalam 

berperilaku baik kepada dirinya sendiri maupun kepada orang lain. Dari 

pernyataan ini dapat ditegaskan bahwa perkembangan sosial peserta didik 

merupakan   kemampuan  peserta  didik  untuk  menyesuaikan  diri  terhadap 

norma-norma  dan  tradisi  yang  berlaku  pada  kelompok  atau  masyarakat, 

kemampuan  untuk  saling  berkomunikasi  dan  kerja  sama.  Perkembangan 

sosial peserta  didik  dapat  diketahui/dilihat  dari  tingkatan  kemampuannya 

dalam  berinteraksi  dengan  orang  lain  dan  menjadi  masyarakat  di 

lingkungannya. 

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan sosial yaitu 

keluarga, kematangan, teman sebaya, sekolah, dan status sosial ekonomi. 

Agar  diperoleh  gambaran  yang  lebih  jelas  kelima  faktor  tersebut  akan 

dipaparkan  pada bagian berikut.

a.  Keluarga merupakan lingkungan pertama yang memberikan pengaruh 

terhadap  aspek-aspek  perkembangan  anak  termasuk  aspek 

perkembangan sosialnya. Keluarga merupakan tempat yang baik bagi 

sosialisasi anak karena sebagian besar waktu yang ada dihabiskan anak 

di  dalam keluarga. Anggota keluarga terutama orang tua akan dijadikan 

model bagi anaknya. Oleh karena itu orang tua perlu menerapkan pola 

asuh yang tepat kepada anaknya.

b.  Kematangan,  untuk  dapat  bersosialisasi  dengan  baik  diperlukan 

kematangan  fisik  dan  psikis  sehingga  mampu  mempertimbangkan 

proses sosial. 

69

c.  Pengaruh teman sebaya, Teman sebaya menjadi orang-orang penting 

dalam sosialisasi anak karena interaksi mereka membuat anak mengerti 

mengenai  hubungan  sosial  yang  lebih  dari  pada  hubungan  dengan 

anggota  keluarganya.  Biasanya  pendapat  teman  sebaya  sangat 

diperhatikan  dan  didengarnya.   Melalui  teman  sebaya  anak  dapat 

belajar menyesuaikan diri dengan tuntutan sosial, membantu anak-anak 

mencapai kemandiriannya, dan juga konsep diri anak. Oleh karena itu 

orang  dewasa  (guru  dan  orang  tua)  perlu  mendampingi  dan 

mengawasinya agar anak tidak terpengaruh oleh hal-hal yang negatif.

d.  Sekolah, merupakan lembaga yang ikut mempengaruhi perkembangan 

sosial  anak  karena  salah  satu  fungsi  dari  lembaga  ini  adalah 

mengembangkan kemampuan anak untuk dapat hidup bermasyarakat. 

e.  Status sosial ekonomi, kehidupan sosial anak banyak dipengaruhi oleh 

kondisi ekonomi keluarganya, Status ekonomi keluarga tentunya akan 

mempengaruhi  norma  yang  ditanamkan  orang  tua  kepada  anaknya, 

seperti pola hidup sederhana dan cara penampilan anak sehingga hal ini 

akan mempengaruhi anak dalam memilih teman. 

Faktor-faktor  tersebut  di  atas  perlu  diperhatikan  dan  dipahami 

pendidik  dalam  menyelenggarakan  proses  pendidikan.  Upaya  yang  dapat 

dilakukan  pendidik  untuk  mengembangkan  sikap  sosial  peserta  didik 

menurut Masganti (2012: 124) antara lain a). melaksanakan pembelajaran 

kooperatif. Pembelajaran kooperatif akan mengembangkan sikap kerjasama 

dan  saling  menghargai  pada  diri  peserta  didik,  menghargai  kemampuan 

orang  lain,  dan  bersabar  dengan  sikap  orang  lain,  b)  Pembelajaran 

kolaboratif.  Pembelajaran  kolaboratif  akan  mengembangkan  sikap 

membantu  dan  berbagi  dalam  pembelajaran.Siswa  yang  pintar  bersedia 

membantu  temannya  yang  belum  memahami  materi  pelajaran.  Model 

pembelajaran  ini  akan  menumbuhkan  sikap  saling  menyayangi.  Menurut 

pendapat penulis, disamping melalui  dua model pembelajaran tersebut dapat 

juga  dilakukan  melalui  kegiatan  penugasan  kepada  peserta  didik  untuk 

70

melakukan wawancara kepada orang tokoh masyarakat. Melalui kegiatan 

ini akan muncul kemampuan untuk berinteraksi dengan orang yang lebih 

tua.

11. Perkembangan Moral dan Spiritual

Dalam kehidupan bermasyarakat termasuk masyarakat di lingkungan 

sekolah  pasti  mengenal  moralitas,  bahkan  moralitas  ini  dijadikan 

sumber/acuan untuk menilai suatu tindakan atau perilaku karena moralitas 

memiliki  kriteria  nilai  (value)  yang  berimplikasi  pada  takaran  kualitatif, 

seperti:   baik-buruk,  benar-salah,  pantas-tidak  pantas,  wajar-tidak  wajar, 

layak-tidak layak, dan sejenisnya. Moralitas dalam diri peserta didik dapat 

tingkat yang paling rendah menuju ke tingkatan yang lebih tinggi seiring 

dengan kedewasaannya. Kohlberg (dalam Suyanto, 2006: 135), Sunardi dan 

Imam  Sujadi  (2016:  7-8)  perkembangan  moral  anak/peserta  didik  dibagi 

menjadi  3  tahapan,  yaitu  1)  preconventional,  2)  Conventional,  3) 

postconventional. 

Tahap Preconventional (6  -  10 th),  yang meliputi aspek  obedience and 

paunisment  orientatation,  orientasi  anak/peserta  didik  masih  pada 

konsekvensi  fisik  dari  perbuatan  benar-salahnya  yaitu  hukuman  dan 

kepatuhan atau anak menilai baik –  buruk berdasarkan akibat perbuatan; dan 

aspek  naively  egoistic  orientation;  orientasi  anak/peserta  didik  pada 

instrumen relatif. Perbuatan benar adalah perbuatan yang secara instrumen 

memuaskan keinginannya sendiri. Kepedualiannya apakah mendatangkan 

keuntungan  atau  tidak  atau  anak  menilai  baik-buruk  bendasarkan 

kontrak/imbal.  jasa.  Pada  tahap  pra  konvensional  peserta  didik  memiliki 

rasa takut akan akibat negatif dari perbuatannya. 

Tahap  Conventional,  (10  –  17  th)  yang  meliputi  aspek  good  boy 

orientation,  orientasi  perbuatan  yang  baik  adalah  yang  menyenangkan, 

membantu,  atau  disepakati  oleh  orang  lain.  Anak  patuh  pada  karakter 

tertentu yang dianggap alami, menjadi anak baik, saling berhubungan dan 

peduli  terhadap  orang  lain  atau  orang  menilai  baik-buruk  berdasarkan 

71

persetujuan  orang  lain.  Aspek  authority  and  social  order  maintenance 

orientation;  orientasi  anak  pada  aturan  dan  hukum.  Hukum  dan  perintah 

penguasa  adalah  mutlak  dan  final,  penekanan  pada  kewajiban  dan  tugas 

terkait dengan perannya yang diterima di masyarakat atau orang memilai 

baik-buruk  berdasarkan  ketertiban  sosial.  Dari  uraian  tersebut  dapat 

ditegaskan bahwa pada tahap conventional peserta didik memiliki perasaan 

rasa bersalah bila berbeda derbeda dengan orang lain.

Tahap post conventional (17  –  28 th), tahap  pasca konvensional  ini 

meliputi  contractual  legalistic  orientation,  orientasi  orang  pada  legalitas 

kontrak sosial. Orang mulai peduli pada hak individu, dan yang baik adalah 

yang  disepakati  oleh  mayoritas  masyarakat.  Orang  menilai  baik-buruk, 

benar-salah  berdasarkan  hukum  yang  berlaku.  Tahap  selanjutnya  yang 

merupakan  tahap  puncak  dari  tahap  pasca  konvensional  yaitu  tahap 

conscience or principle orientation, pada tahap ini orientasi orang adalah 

pada  prinsip-prinsip  etika  yang  bersifat  universal.  Baik-buruk  harus 

disesuaikan dengan tuntutan prinsip-prinsip etika intisari dari prinsip yang 

sifatnya universal atau orang menilai baik-buruk berdasarkan hati nurani. 

Ketiga tahap perkembangan moral tersebut di atas, akan dialami oleh 

peserta didik kita, meskipun tidak selalu bertambahnya usia peserta didik 

juga  menyebakan  berpindahnya   tahap  perkembangan  moral  yang  lebih 

tinggi. Implikasi dari tahap perkembangan moral dalam proses pendidikan 

antara  lain  tahap  ketiga  yaitu  post  conventional  khususnya  aspek  ke  6 

sebaiknya menjadi tujuan yang kita lakukan. 

Pendidik  disamping  perlu  memahami  perkembangan  moral  peserta 

didiknya  juga  perlu  dan  penting  memahami  perkembangan  spiritualnya. 

Istilah  spiritual  pada  beberapa  tahun  terakhir  sangat  banyak  dibicarakan 

orang  manakala  dimunculkan  istilah  kecerdasan  spiritual  (spiritual 

intelegence).  Kecerdasan  spiritual  ini  bersifat  individu  dan  perlu 

dikembangkan khususnya dalam proses pembelajaran. Kecerdasan spiritual 

menurut  Zohar  dan  Marshal  (dalam  Mustafa-Alif)  meliputi  kemampuan 

untuk menghayati nilai dan makna, memiliki kesadaran diri, fleksibel dan 

72

adaftif,  cenderung  memandang  sesuatu  holistik,  dan  cenderung  mencari 

jawaban-jawaban fundamental atas situasi-situasi hidupnya.

Upaya yang dapat dilakukan pendidik untuk mengembangkan sikap 

religius  antara  lain  dengan:  1)  Metode  keteladanan,  pendidik  memberi 

contoh langsung/menjadi percontohan kepada peserta didiknya, baik dalam 

berbicara, berperilaku, maupun lainnya. Melalui percontohan/keteladanan 

akan lebih berkesan pada peserta didik dibandingkan hanya dengan katakata.  2)  Metode  pembiasaan,  metode  ini  berarti  peserta  didik  diharapkan 

melakukan  perulangan  untuk  hal-hal  yang  sifatnya  baik,  seperti  berdoa 

sebelum melakukan kegiatan  belajar, membaca buku, 3) Metode nasehat, 

pendidik diharapkan memberikan nasihat tentang kebenaran kepada peserta 

didiknya secara konsisten. 4) Pembinaan akhlak, pendidik diharapkan dapat 

selalu membina akhlak atau budi pekeri yang mulia peserta didiknya, seperti 

sikap rendah hati, hormat pada orang yang lebih tua dan sabar. 

12.  Perkembangan Motorik 

Salah  satu  faktor  penting  dalam  perkembangan  individu  secara 

keseluruhan  yang  perlu  dikenali  dan  dipahami  pendidik  adalah  faktor 

perkembangan motorik  peserta didiknya. Perkembangan motorik menurut 

Hurlock diartikan perkembangan gerakan jasmaniah melalui kegiatan pusat 

syaraf,  urat  syaraf,  dan  otot  yang  terkordinasi.  Perkembangan  motorik 

merupakan proses yang sejalan dengan bertambahnya usia secara bertahap 

dan berkesinambungan, dimana gerakan individu meningkat dari keadaan 

sederhana,  tidak  terorganisir,  dan  tidak  terampil,  kearah  penguasaan 

keterampilan motorik yang kompleks dan terorganisir dengan baik.

Perkembangan  motorik  menurut  Santrock  (2011:  242) 

dikelompokkkan menjadi motorik kasar dan motorik halus. Agar diperoleh 

gambaran yang lebih jelas akan dijelaskan sebagai berikut:

Motorik  kasar;  gerakan  tubuh  yang  menggunakan  otot-otot  besar 

atau  sebagian  besar  atau  seluruh  anggota  tubuh  yang  dipengaruhi  oleh 

kematangan  anak  itu  sendiri.  Contoh  perkembangan  motorik  kasar  anak 

73

yaitu,  anak pada usia 3 tahun gemar melakukan gerakan seperti melompat, 

berlari  ke  depan  dan  ke  belakang.  Usia  4  tahun  anak  masih  melakukan 

gerakan  sejenis  namun  mereka  menjadi  lebih  berani,  seperti  berani 

melompat  dari  tempat  tinggi  atau  bergelantung.  Mereka  juga  berani 

memanjat alat untuk memperlihatkan kemampuannya. Usia 5 tahun, anak 

mengembangkan jiwa petualang yang lebih besar lagi dibandingkan dengan 

ketika  ia  berusia  4  tahun,  mampu  berlari  dengan  kencang  dan  senang 

berlomba,  seperti  balapan  lari  dan  balapan  sepeda,  usia  6  tahun  dapat 

menggunakan  palu.  Pada  usia  7  tahun  tangan-tangan  anak  sudah  lebih 

mantap, pada usia 10 atau 11 tahun anak dapat memanjat, melompati tali, 

berenang,  dan  dapat  memukul  bola  tenis  melewati  net.  Keterampilan 

motorik kasar ini banyak melibatkan aktivitas otot, biasanya anak laki-laki 

lebih unggul dibandingkan anak perempuan. 

Motorik halus: gerakan yang menggunakan otot halus, atau sebagian 

anggota tubuh tertentu yang dipengaruhi oleh kesempatan untuk belajar dan 

berlatih. Perkembangan motorik halus anak usia 3 tahun missal bermain 

puzzle  sederhana,  tapi  kadang  tidak  disangka  dapat  membangun  menara 

tinggi dengan menggunakan balok. Pada usia 4 tahun  koordinasi motorik 

halus  sudah  memperlihatkan  kemajuan  yang  bersifat  substansial  dan 

menjadi lebih cermat. Pada usia 5 tahun, koordinasi motorik halus anak telah 

memperlihatkan kemajuan yang lebih jauh lagi. Tangan, lengan, dan tubuh, 

semuanya bergerak di bawah komando mata. Pada usia 6 tahun, anak dapat 

menempel,  mengikat  tali  sepatu,  mengancingkan  pakaian.  Pada  usia  7 

tahun,  tangan  anak  sudah  lebih  matap.  Di  usia  7  tahun  anak  lebih  suka 

menggunakan pensil dibanding menggunakan krayon untuk menulis. Pada 

usia 8 sampai 10 tahun, tangan anak-anak sudah dapat digunakan secara 

mandiri  dengan  lebih  tenang  dan  tepat,  anak-anak  sudah  dapat  menulis 

daripada sekedar mencetak kata-kata. Pada usia 10 sampai 12 tahun anakanak  dapat  melakukan  gerakan-gerakan  kompleks,  rumit,  dan  cepat. 

Keterampilan motoric halus biasanya perempuan lebih unggul disbanding 

anak laki-laki. 

74

Kedua  jenis  keterampilan  motorik  sebagaimana  dijelaskan  di  atas, 

penting untuk dikenali dan dipahami guru agar proses pembelajaran yang 

dilakukan dapat mengembangkan potensi dan memaksimalkan hasil peserta 

didiknya. Disamping itu dengan dikenali dan dipahaminya perkembangan 

motorik  anak,  pendidik  dan  sekolah  dapat  menggunakan  strategi 

pembelajaran, metode yang tepat, dan dapat menyediakan, memanfaatkan

alat, media, dan sumber belajar yang memadai. 

No comments:

Post a Comment

Soal KARAKTERISTIK PEMBELAJARAN ABAD 21

 1.  Pernyataan  berikut  yang  merupakan  fenomena  pembelajaran  abad  21  yang  menyebabkan era disrupsi pendidikan adalah….. 1.  Semakin...